Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Opini

Adi Supriadi Sebut Milenial Wajib Paham Komunikasi Interpersonal yang Humanis dan Beretika

08 May 2022, 11:34 WIB
Ilustrasi Para Pemuda Berkomunikasi Dalam Tim.(ebc/freepik)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Kaum Milenial yang lahir dari 1981 hingga 2022 di Indonesia sudah berjumlah kurang lebih 26 juta jiwa. Artinya peran mereka sangat strategis di berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Sayangnya, problem besar dari kaum milenial adalah kemampuan berkomunikasi atau lebih tepatnya Komunikasi Interpersonal, mengurai  masalah ini, STEBI Global Mulia Cikarang mencoba mengulasnya dalam Webinar Komunikasi Interpersonal.

Mengusung tema How to be good communication at Digital Era webinar yang digelar secara daring pada Rabu, 27 April 2022 lalu itu menghadirkan Akademisi dan Trainer Motivator, Adi Supriadi.

STEBI Global Mulia  sebagai Kampus Ekonomi Syariah pertama di Kawasan Industri Cikarang memandang perlu pendidikan intensif untuk Generasi Millinial, karena akan berpengaruh pada kesuksesan mereka disaat memasuki dunia kerja bahkan berpengaruh saat menjalani perkuliahan.

“Islam sudah mengajarkan kepada ummatnya untuk berkata yang baik-baik, dilarang berkata kotor dan keji, maka untuk melihat sisi praktisnya Kami mengadakan Webinar ini,” ujar Deni Lesmana.

Wakil Ketua I Bidang Akademik, Anggi Setya Prayoga mengatakan bahwa, diharapkan webinar ini bisa meningkatkan pemahaman Generasi Milinial dalam komunikasi yang punya etika.

Adi Supriadi mengatakan bahwa, komunikasi adalah kebutuhan pokok manusia seperti kebutuhan pokok lainnya, dan yang penting untuk dikuasai adalah Skill Komunikasi Interpersonal karena akan selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

“Komunikasi Interpersonal itu bisa terjadi di rumah, kantor, jalanan, Mall dll. Dan tidak hanya bertatap muka langsung, bisa juga chating dan video call, intinya ketika dua individu bertukar pandangan, perasaan dan sikap tentang sebuah masalah apapun itu disebut Komunikasi antarpribadi,” jelasnya.

Pria asal Ketapang, Kalimantan Barat itu mengungkapkan bahwa, komunikasi itu harus mengandung unsur keterkaitan antara komunikan dan komunikator, empati, impati, kontrol diri, kepercayaan dan keintiman.

Disinilah perlunya pengorbanan seorang Komunikator untuk tidak mengutamakan egonya tetapi justru memperhatikan kebutuhan, keinginan dan kesenangan orang yang diajak berkomunikasi.

“Persoalannya adalah Kaum Milenial Kita tidak menguasai Skill ini, dari hasil riset di Amerika 65 persen milenial tidak percaya diri dalam berinteraksi, dan 30 persen milenial justru membatalkan pertemuan hanya karena tidak mau berkomunikasi langsung, Permasalahan yang muncul setengah dari mereka bermasalah dalam pengembangan karir, Ini pun terjadi juga di Indonesia,” urai Aktivis dan Penggiat Media Sosial ini.

Faktor terlalu sering menggunakan gadget, pengaruh media sosial adalah penyebab utama rendahnya kemampuan komunikasi milenial.

Sehingga Komunikasi tidak lagi humanis tetapi digitalis, lawan komunikasi sudah dianggap seperti Smartphone padahal Manusia, dampak buruknya Milenial seperti bersikap tidak sopan, tidak ada tata krama dan cendrung tidak punya empati secara emosi ke lawan bicara.

“Solusinya, harus banyak ruang bicara yang intim antara generasi yang lebih tua dengan kaum milenial, melatih mereka untuk speak up dan belajar etika komunikasi. Selain itu harus mampu berdamai dengan diri, kondisi diri dan bisa berdamai dengan masa lalu untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka,” tutupnya.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Annisa Januarsi
Sumber : Edukasi Borneo