Ayub Prioritaskan Tindakan Awal di Satuan Pendidikan Disiplin Prokes

23 Feb 2021, 15:36 WIB
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya M. Ayub, S.Pd (Ist)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya M. Ayub, S.Pd prioritaskan tindakan awal di satuan pendidikan sebelum, saat pelaksanaan pembelajaran hingga pasca melaksanakan pembelajaran tatap muka di era new normal.

“Ada beberapa screening yang harus dilakukan satuan pendidikan sebelum, saat bahkan pasca pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah dilaksanakan setiap harinya,” ujarnya Senin, 22 Februari 2021 di Kubu Raya.

“Sekolah harus berkoordinasi dengan satuan tugas (Satgas) COVID 19 di tingkat desa atau kecamatan,” tegasnya.

Selain itu, menyusun tata cara masuk sekolah, kelas dan saat di area terbuka. Melakukan sosialisasi standar operasional hadapi tatanan kebiasaan baru bagi guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan orang tua atau wali peserta didik.

Baca Juga : Disdik Kubu Raya Mengawal Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah

Upaya screening yang ditetapkan Disdikbud untuk diterapkan di sekolah selama menghadapi tatanan kebiasaan baru bagi satuan pendidikan dan pihak terkait adalah :

1. Screening Kesehatan bagi guru dan tenaga kependidikan

Bagi siswa yang siswa dan orangtuanya sakit diberikan keringanan untuk belajar di rumah. Kemudian bagi guru yang obesitas, memiliki riwayat diabetes, sakit jantung, paru – paru, pembuluh darah, kanker, dan sedang hamil atau daya tahan tubuh menurun tidak disarankan untuk mengajar artinya diizinkan untuk work from home (WFH).

Dilakukan pemeriksaan kesehatan diri dengan metode rapid test atau PCR sesuai dengan standar WHO. Guru dan tenaga kependidikan yang sudah melakukan tes cepat (rapid test) atau PCR diberi tanda telah lolos screening.

Disiapkan pendukung UKS dan psikologi sosial harian di sekolah artinya sekolah harus bekerjasama dengan puskesmas terdekat untuk melakukan pemeriksaan secara berkala, mengikuti jadwal di puskesmas.

Sekolah juga harus mengoptimalkan fungsi layanan bimbingan dan konseling atau wali kelas di sekolah dan bila memungkinkan bekerjasama dengan psikolog terdekat.

2. Screening zonasi atau tempat tinggal

Sekolah harus melakukan identifikasi lokasi tempat tinggal guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Jika tinggal di lokasi zona merah atau orange disarankan untuk melakukan rapid test hingga PCR sesuai standar WHO.

Baca Juga : Bupati Kubu Raya Ingatkan Sekolah Maksimalkan Prokes Saat PTM

3. Screening Fisik

Sekolah harus memastikan ketersediaan fasilitas cuci tangan pakai sabun, minimal di lokasi dimana warga sekolah masuk keluar di lingkungan sekolah. Kemudian di pintu masuk sekolah petugas memastikan warga sekolah menggunakan masker dengan suhu tubuh normal.

Bagi pengantar dan penjemput peserta didik, berhenti di lokasi yang ditentukan dan di luar lingkungan sekolah. Selama menunggu jemputan orang tua, peserta didik tetap berada di area sekolah dan memperhatikan jarak satu dengan lainnya minimal 1,5 meter agar tidak terjadi kerumunan.

Disamping itu juga menerapkan pesan ibu, K3M (Menjaga jarak, mencuci tangan, menggunakan masker). Rutin melakukan penyemprotan disinfektan agar kelas, meja, kursi, belajar terhindar dari kuman dan tetap bersih.

Bagi pendidik, peserta didik dan tenaga kependidikan yang pulang berpergian ke luar kota atau ke luar negeri diberi waktu WFH atau belajar dari rumah selama 14 hari.

Sedangkan fasilitas pendukung aktivitas sekolah seperti kantin dan tempat bermain ditutup sementara untuk menghindari kerumunan.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Annisa Januarsi
Sumber : Edukasi Borneo