Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Opini

Brigjen Pol P Agus Rianto Sebut Generasi Muda Corong Perubahan dan Sosok Sentral Menangkal Radikalisme

21 Jun 2022, 14:23 WIB
Brigjen Pol (P) Agus Rianto.(Ebc)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK – Brigjen Pol (P) Agus Rianto menilai generasi muda menjadi corong perubahan dan berperan secara sentral menangkal radikalisme.

Ia menyebutkan bahwa, radikal itu fondasi, akar atau hal yang mendasari perilaku keras. Konotasi radikal yang erat dengan perbuatan seseorang yang ingin melalukan dengan caranya sendiri, dengan kekuatan sendiri, punya keinginan sendiri.

“Apakah radikal ini negatif, belum tentu! Namun, ketika kita bilang radikalisme ada kecenderungannya lebih mengarah ke yang negatif. Karena pahamnya kekerasan semua itu. Pengen menjatuhkan negara, pemimpinnya semua, dan merubah struktur yang ada dengan cara yang tidak sesuai aturan,” ujarnya.

“Sedangkan prilaku radikal, mungkin belum tentu negatif. Contohnya pada masa Reformasi merubah tatanan secara drastis dan cepat akhirnya berubah tatanan pemerintahan pada saat itu. Memandang itu sebagian orang bilang positif sebagian bilang negatif,” tambahnya.

Pria kelahiran Pontianak ini menyebutkan bahwa, ada radikal yang terjadi di suatu negara dia melakukan langkah menolak perkawinan sejenis (LGBT) itu radikal, mereka protes besar-besaran jadinya radikal yang positif.

“Jika memahami dari sisi negatif kita melihat banyak perbuatan atau Tindakan yang mengarah kepada pengrusakan-pengrusakan tatanan yang ada. Akhirnya melakukan Tindakan-tindakan diluar ketentuan. Termasuk kalau mahasiswa-mahasiswa demo melakukan pengrusakan istilahnya anarkis, mungkin ada yang bilang itu radikal perbuatan mahasiswa itu,” paparnya.

“Jika radikalisme sudah menjadi paham lebih banyak mengarah ke arah negatif yang diyakini setiap pribadi. Tetapi memang banyak radikalisme yang dilatarbelakangi faktor-faktor agama, meskipun juga ada politik disitu,” imbuhnya.

“Kita perlu menyikapi, dengan memahami, bijak, cerdas menerima paham dengan keadaan-keadaan yang ada,” ajaknya.

Pandai-pandailah lanjut Agus kita menyikapi kehidupan ini supaya kita tidak di cap sebagai penganut radikalisme

Sekarang apa yang tidak jadi masalah bagi negara ini misalnya masalah parkir dan pajak, yang sudah diatur negara sedemikian rupa namun kita masih sering melakukan.

Alumni SMA 3 Pontianak itu menjelaskan upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi radikalisme adalah Deradikalisasi dan Anti Radikalisme.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi Anti Radikalisme diantaranya:

Untuk mewujudkan upaya anti radikalisme harus dipandang dari dua sudut yakni, pemerintah dan orang pribadi.

Dari sisi pemerintah atau lembaga seperti perguruan tinggi upaya itu tentunya lebih global seperti menanamkan jiwa nasionalisme, pendidikan Pancasila, pendidikan karakter inilah upaya dari pihak luar.

Sedangkan dari pihak orang pribadi tentunya kita harus bisa meningkatkan jiwa nasionalisme. Karena orang kalau meyakini paham radikalisme itu dia menganggap dirinya paling benar, hebat dan jago.

“Kita kan kita tidak bisa hidup seperti itu, kita hidup dialam nyata yang bersosialisasi, perlu berkomunikasi dengan berbagai orang selain untuk silaturahmi mungkin kita juga pengen tau bagaimana sih kebiasaan atau kebudayaan dari suku A jadi suku B tau. Sehingga jika nanti suatu saat kedua suku ini bertemu tidak harus menyakiti, teman kita atau pihak lain,” ujarnya.

Di masa kecanggihan teknologi ini kita diberi kemudahan untuk mengakses informasi, istilahnya itu dunia tanpa batas. Misal kejadian perang Rusia dan Ukraina. Kita bisa akses melalui smartphone, gadget, gawai, tab, televisi digital atau apalah sebutannya. Kita sebagai pribadi menyikapi itu pandai-pandailah memainkan alat itu, kan gampang nih share, diteruskan tentang ini itu yang tidak disukai dan disukai.

“Saya ingatkan ini, jejak digital tidak bisa dihapus. Jangan main share, terima, hapus sesuatu yang tidak pantas dan tidak senonoh. Sekalipun sudah dihapus handphonenya bisa dilacak,” tegasnya.

“Salah satu langkah kita mengerem diri itu pandai-pandailah berteman, menerima informasi dan jangan lupa kita tidak hidup sendiri, kita perlu bermasyarakat. Deradikalisasi ini ditujukan kepada mereka-mereka yang pernah terkait, mungkin keluarganya, mantan-mantan pelaku kejahatan,” jelasnya.

“Tindakan radikal ini sangat dekat atau tipis jaraknya dengan intoleransi dan teroris,” sebutnya.

Pemuda masa kini harus menguasai teknologi, di 2045 diprediksi ada 8 tantangan yang harus diantisipasi.

“Saya akan bicara 2 hal yang perlu dipersiapkan secara matang, pertama; kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kedua; meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sehingga dia menjadi orang-orang yang berkualitas,” jelasnya.

“Terkait bagaimana memanfaatkan teknologi itu harus cerdas, arif dan bijak menerima informasi yang ada. Karena bisa jadi ilmu, senjata atau boomerang. Jadi boomerang jika kita tidak bisa mengendalikan diri. Kadang-kadang memang kita harus mengendalikan emosi diri untuk mengetahui sesuatu yang positif dan negative,” tuturnya.

Besar harapannya kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait agar saling berupaya melakukan pencegahan radikalisme di berbagai lini.

“Saya sarankan kepada beliau-beliau yang memiliki kapasitas dan kompetensi dengan upaya pencegahan itu, banyak langkah yang bisa dilakukan, seperti lembaga sekolah negeri ataupun swasta dan sekolah agama yang berbasis pada nama agama misalnya madrasah, sekolah Katolik, sekolah Kristen,” ujarnya.

Apapun itu, kita sudah mewajibkan untuk mengadakan program-program pencegahan upaya-upaya masuknya paham-paham radikal itu di sekolah. Ini harus menjadi program utama dan itu harus juga satu paham antar pemerintah dan parlemen.

“Kita tidak bicara lagi antara koalisi dan oposisi. Bagi negara sudah tidak ada itu, kita satu Indonesia. Mau partai apa milih siapa sudah tidak ada, pemerintah kita sah. Sampai kapan, nanti sampai ganti pemerintah baru, ayo kita sama-sama lagi, mau berbeda suku, agama, ras, golongan, partai, faham. Sah-sah saja. Tapi Indonesia harus satu,” tegasnya,

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Annisa Januarsi
Sumber : Edukasi Borneo