Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Edukasi

Implementasi Kurikulum Merdeka: Tantangan Profesionalisme Bagi Guru

18 Sep 2022, 12:17 WIB
Ilustrasi Kurikulum Merdeka.(Ist/Kemendikbudristek RI)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Kurikulum Merdeka merupakan salah satu kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia yang selama ini tertinggal jauh dari banyak negara lain di dunia.

Kurikulum Merdeka merupakan program yang memfokuskan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini adalah pendidik dan peserta didik.

Jadi, tidak hanya keterampilan peserta didik yang perlu untuk ditingkatkan tetapi guru juga dituntut untuk meningkatkan kemampuannya sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan.

Seorang guru haruslah tenaga profesional di bidangnya agar tujuan Kurikulum Merdeka dapat tercapai.

Konsep Utama Kurikulum Merdeka

Merdeka belajar memiliki beberapa konsep, yaitu:

Beragam waktu dan tempat belajar yaitu proses belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas karena proses belajar tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Free choice dipilih oleh peserta didik sesuai perangkat, program/teknik belajar serta peserta didik dapat mempraktikkan cara belajar yang paling nyaman agar kemampuan mereka dapat terus terasah.

Personelized learning yaitu menyesuaikan peserta didik dalam memahami materi dan memecahkan jawaban sesuai dengan kemampuan belajarnya.

Pembelajaran berbasis proyek yaitu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan memberikan pengalaman belajar melalui pengerjaan proyek. Pembelajaran berbasis proyek bertujuan untuk mengembangkan soft skill dan karakter peserta didik sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

Pengalaman lapangan. Dengan pengalaman lapangan, peserta didik akan lebih mengetahui tentang hal-hal yang terjadi di lapangan dan kesesuaiannya dengan dunia kerja.

4 Pokok Kebijakan Baru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Penyederhanaan RPP

Menurut Menteri Nadiem Makarim, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) cukup dibuat satu halaman.

Di dalam RPP Kurikulum Merdeka terdapat tiga komponen, yaitu: tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran serta assessmen.

Dengan disederhanakannya RPP, guru memiliki waktu yang lebih dan dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi peserta didik melalui kegiatan belajar.

Baca Juga : Menilik Kurikulum Merdeka di Sekolah Luar Biasa


Ujian Nasional (UN)

Pada tahun 2021, Ujian Nasional (UN) digantikan dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) serta Survei Karakter.

AKM diberlakukan pada peserta didik yang duduk di kelas 4, 8, dan 11.

AKM sendiri terdiri dari kemampuan bernalar dengan bahasa atau literasi, serta kemampuan bernalar dengan matematika atau numerasi yangmana dalam praktiknya disesuaikan dengan praktik tes PISA serta penguatan pendidikan karakter.

Hasil dari AKM dan Survei Karakter dapat menjadi masukan bagi pihak sekolah untuk memperbaiki sistem pembelajarannya.

Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)

Pada tahun 2020, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) hanya akan dilakukan oleh pihak sekolah dengan mengacu pada kurikulum yang ada.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) berpendapat bahwa sekolah memiliki keleluasaan untuk menentukan sistem penilaiannya sendiri, misalnya dengan karya tulis, portofolio ataupun tugas lainnya.

Adapun anggaran yang seharusnya digunakan untuk pelaksanaan USBN dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan mengembangkan kualitas guru serta sekolah.

Selain itu, banyak sekolah yang mempertanyakan tentang standar kelulusan untuk menggantikan Ujian Nasional bila di hapus.

Untuk menanggapi pertanyaan tersebut, Menteri Nadiem Makarim mengatakan bahwa, sekolah dapat menentukan sendiri standar nasional melalui cara penilaian serta bentuk tes yang dilakukan karena pihak sekolah yang lebih mengetahui tentang kondisi serta perkembangan belajar peserta didik.

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) tetap menggunakan sistem zonasi untuk menerima peserta didik baru, namun lebih luas dan lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan pendidikan.

Jalur penerimaan peserta didik baru dibagi sesuai dengan kondisi daerah yaitu jalur zonasi sebanyak 50 persen, jalur afirmasi 15 persen, jalur perpindahan 5 persen dan jalur prestasi atau lainnya 0 – 30 persen.

Setiap pemerintah daerah juga memiliki kewenangan untuk menentukan sendiri wilayah zonasinya.

Tantangan Profesionalisme Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Terdapat banyak kendala dalam dunia pendidikan di Indonesia, salah satunya terkait kualitas lulusan yang dihasilkan oleh intansi sekolah.

Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan program Merdeka Belajar agar kualitas SDM Indonesia mampu bersaing dengan banyak negara lain di seluruh belahan dunia.

Dengan diluncurkannya Kurikulum Merdeka, guru sebagai seorang pendidik mempunyai banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai tujuan Kurikulum Merdeka.

Tantangan guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, yaitu:

1. Keluar dari Zona Nyaman Sistem Pembelajaran

Tantangan pertama bagi guru adalah sulit keluar dari zona nyaman sistem pembelajaran yang telah dilakukan dari lama.

Biasanya, sistem pembelajaran dilakukan dengan memberikan penjelasan materi kepada peserta didik, tetapi hal tersebut akan membuat peserta didik menjadi pasif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Dengan diluncurkannya Kurikulum Merdeka yang berpusat pada peserta didik, maka kegiatan pembelajaran akan lebih aktif dengan adanya project based learning, berdiskusi, tanya jawab, dan lain-lain.

Berbagai hal tersebut akan menjadi tantangan tidak hanya bagi guru, tetapi juga diperuntukkan untuk peserta didik agar mampu keluar dari zona nyaman.

Baca Juga : Tantangan dan Kompetensi Yang Harus di Kuasai Guru Dalam Era Digital

2. Menguasai Berbagai Macam Kompetensi dan Kecakapan dalam Mengajar

Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, guru dituntut tidak hanya memiliki kompetensi dasar minimal, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian.

Guru juga dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi lain seperti: komunikasi, berpikir kritis, kreativitas, serta kerja sama.

Guru juga dituntut untuk memiliki kecakapan seperti mampu public speaking dengan baik, mampu menciptakan ice breaking, mampu story telling dengan gaya yang menyenangkan agar peserta didik tidak merasa jenuh saat kegiatan pembelajaran, mampu mengelola kelas, mampu menggunakan teknologi, serta parenting.

3. Tidak Memiliki Pengalaman Program Merdeka Belajar

Merdeka Belajar merupakan sebuah kurikulum baru dan tentunya guru tidak mempunyai pengalaman mengajar sebelumnya.

Minimnya pengalaman dari setiap guru akan mempengaruhi cara guru dalam mengajar di kelas.

4. Keterampilan Mengajar

Dalam Kurikulum Merdeka, guru harus mengupgrade keterampilan mengajar sesuai dengan program Merdeka Belajar.

Guru dapat memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk berargumentasi, berpendapat, serta memberikan soal dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi (soal HOTS).

Kompetensi HOTS terbagi dalam berpikir kritis, kreatif dan inovatif, kemampuan berkomunikasi serta kemampuan bekerja sama.

Namun, masih banyak guru yang belum memahami model soal HOTS.

Untuk pilihan lainnya, guru dapat memberikan soal sederhana bagi peserta didik dengan memberikan kebabasan untuk berpikir.

5. Minim Fasilitas dan Kualitas Guru

Diluncurkannya Kurikulum Merdeka dikhawatirkan dapat meningkatkan kesenjangan pendidikan di berbagai daerah karena terdapat banyak sekolah yang belum siap untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka tapi tetap mengimplementasikan kurikulum tersebut.

Kesenjangan pembelajaran dapat disebabkan karena kurang meratanya fasilitas dan kualitas guru terutama kualitas guru untuk membuat sistem penilaian.

Dari artikel di atas dapat diketahui bahwa peningkatan keterampilan dan kualitas guru menjadi prioritas penting karena guru adalah garda terdepan pendidikan di Indonesia.

Selain itu, kunci keberhasilan Kurikulum Merdeka juga terletak pada kerja sama stake holder terkait.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Tim Redaksi
Sumber : Edukasi Borneo