Thursday, 23/09 05:38:24
Bupati Kayong Utara, Kalimantan Barat, Citra Duani menyampaikan bahwa penerbitan penetapan lokasi rencana bandara baru di daerahnya telah ditandatangani oleh Menteri Perhubungan.

Home > Kolom Opini

Ironi Berdagang Makanan Tanpa Masker di Masa Pandemi

05 Jun 2021, 10:56 WIB
Wakil Ketua 2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) YARSI Pontianak, Masmuri, M.Kep.(Ist)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Dari pantauan saya, tingginya angka kasus COVID-19, tidak lantas membuat semua masyarakat di Kalimantan Barat menjadi seiya sekata untuk mematuhi protokol kesehatan (prokes) COVID-19 dalam aktifitasnya.

Bahkan, masih cukup banyak masyarakat yang kita temui yang acuh tak acuh dengan protokol kesehatan.

Bagi mereka yang bekerja, misalnya di rumah-rumah makan, berdagang makanan siap saji seperti nasi goreng, gado-gado, bakso, dan semacamnya.

Berjualan minuman, dan lain-lain seringkali kita temukan tanpa masker sebagai salah satu yang dianggap penting dalam prokes COVID-19.

Mengapa mereka itu ngeyel berdagang makanan tidak bermasker?

Apakah mereka tidak mengerti betapa pentingnya masker selama masa pandemi COVID-19, sehingga mereka abai.

Baca Juga : Pembelajaran PAI di Masa Pandemi, Quo Vadis?

Perspektif Dramaturgi

Fenomena berdagang makanan tanpa masker di tengah pandemi dengan mengabaikan prokes COVID-19 bisa dipahami, terutama dari perspektif Goffman.

Goffman yang bernama lengkap Erving Goffman merupakan seorang sosiolog yang menerbitkan sejumlah buku dan esai di bidang yang digelutinya tersebut, dan popular dengan teori dramaturgi.

Dalam teori dramaturgi, fenomena sosial seringkali adalah pentas drama, di mana diri bukanlah milik sang aktor, tetapi sebagai produk interaksi dramatis antara aktor dan audiens.

Diri adalah suatu efek dramatis yang sedang muncul dari suatu adegan yang disajikan.

Sebagaimana halnya sebuah pentas drama, ada front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang).

Front stage yaitu bagian pertunjukan yang berfungsi mendefinisikan situasi audiens pertunjukan.

Front stage ini dibagi menjadi dua bagian: pertama, setting yaitu pemandangan fisik yang mesti ada apabila sang aktor memainkan perannya.

Kedua, personal front atau penampilan diri, yaitu berbagai macam perlengkapan sebagai pembahasan perasaan dari sang aktor.

Personal front juga mencakup dua hal, yaitu penampilan yang terdiri dari berbagai jenis barang yang mengenalkan status sosial aktor dan gaya yang berarti mengenalkan peran apa yang dimainkan aktor dalam situasi tertentu.

Kemudian, back stage (panggung belakang) atau the self yaitu semua kegiatan yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan akting atau penampilan diri yang ada pada front stage.

Kecuali front stage, ada back stage adalah panggung belakang di mana fakta yang sesungguhnya disembunyikan oleh aktor.

Demikian pula pedagang-pedagang makanan yang cenderung abai dengan masker selama masa pandemi COVID-19 ini, jelas bukannya mereka tidak tahu dengan bahayanya COVID-19.

Atau bukan pula oleh karena mereka tidak pernah membaca koran atau melihat berita tentang anjuran pemerintah untuk mengenakan masker demi memutus mata rantai penularan COVID  -19.

Jelas bukan karena alasan-alasan ini. Tetapi ini adalah tentang pentas yang harus mereka perankan demi keberlanjutan perekonomian mereka.

Sebagaimana memafhumi, sebelum pandemi COVID-19, masker identik digunakan terutama bagi mereka yang sakit.

Begitupun citra yang ingin ditunjukkan oleh para pedagang makanan ini, mereka ingin terlihat sehat di mata pembeli dagangan mereka dengan tanpa masker menutupi mulut dan hidung mereka.

Tentu saja persepsi bahwa masker selalu identik dengan orang sakit adalah sebuah persepsi yang keliru. Di tengah pandemi COVID-19 ini, penggunaan masker malah menjadi sebuah kebutuhan, terutama agar tidak sakit oleh sebab tertular COVID-19.

Kebutuhan pedagang-pedagang makanan siap saji ini di tengah pandemi juga adalah tentang bagaimana bisa melanjutkan roda perekonomian.

Meminjam asumsi McClelland, sekurang-kurangnya ada tiga kebutuhan yang relevan untuk membaca pedagang-pedagang makanan tanpa masker itu: pertama, need for achievement (kebutuhan pencapaian); kedua, need for power (kebutuhan kekuasaan); dan ketiga, need for affiliation (kebutuhan hubungan).

Kaitannya dengan pedagang makanan itu, motif mereka tidak bermasker bisa dipahami bukanlah karena mereka tidak sadar akan bahaya COVID-19, tetapi karena mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil menarik minat para pembeli, dengan mencitrakan diri yang terlihat sehat.

Inilah yang disebut dengan need for achievement. Need for achievement ini berkembang seturut dengan kebutuhan mereka untuk memiliki pengaruh, menjadi yang berpengaruh dan mengendalikan individu lain (need for power) yang dalam hal ini adalah pembeli dagangan mereka.

Selanjutnya need for power ini jelas berhubungan dengan kebutuhan pedagang makanan akan memperoleh trust pembeli.

Baca Juga : Umat Islam dan Pendalaman Ilmu Kesehatan

Bagaimana gagal paham ini diubah?

Jika para pedagang-pedagang makanan ini mempunyai asumsi bahwa dengan asesoris masker menutupi hidung dan mulut mereka, dan kemudian makanan yang mereka dagangkan jadi tidak laris, tentu saja ini adalah bentuk gagal paham mereka.

Meskipun sulit memungkiri memang ada sebagian kecil pembeli yang mengukur sehat atau tidaknya seseorang dari asesoris yang digunakan, seperti masker. Tetapi jelas tidak semua pembeli yang gagal paham seperti mereka.

Sama seperti tidak semua orang yang berpandangan bahwa seseorang yang bermasker diidentifikasi sebagai penyakitan.

Logika-logika menyesatkan ini tidak seharusnya menjadi logika umum di masa pandemi COVID-19, apalagi di tengah-tengah pedagang makanan.

Logika yang benar harusnya dimiliki para pedagang-pedagang makanan ini.

Di masa pandemi COVID-19 ini, mereka harus berpikiran bahwa dengan menggunakan masker, justru tidak hanya mereka sedang menjaga dirinya sehingga tidak tertular COVID-19, tetap sehat dan terus berjualan, tetapi juga dengan begitu mereka sedang mencitrakan diri sebagai pedagang makanan yang peduli kesehatan di mata pembeli.

Tetapi sayangnya, masih banyak pedagang-pedagang yang lebih percaya bahwa berdagang makanan tanpa masker jauh lebih efektif menarik pembeli ketimbang dengan masker. Inilah yang menjadi tantangannya.

Mengubah persepsi tentang masker di tengah-tengah sebagian pedagang makanan yang kita bahas ini tentu tidak mudah.

Bagi mereka ini, perlu diberikan sosialisasi atau edukasi mengenai pentingnya prokes COVID-19, yang dilakukan secara terus-menerus atau berkelanjutan. 

Pemerintah dan terutama Gugus Tugas Covid-19 perlu menunjukkan komitmen dalam hal ini.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Masmuri, M.Kep (Wakil Ketua 2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) YARSI Pontianak)
Sumber : Edukasi Borneo