Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Guru

Karakteristik Guru dan Siswa Abad 21

31 Dec 2021, 17:00 WIB
Bibiana, S.Pd (Guru SMA Negeri 2 Pontianak)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Pada umumnya masyarakat berkembang secara linier seiring perkembangan peradaban manusia yang ditopang oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jika diurutkan masyarakat berkembang dari masyarakat primitif, maritim, agraris, industri, dan masuk dalam perkembangan lanjut yaitu masyarakat informasi.
Pada abad 21 masyarakat kita digolongkan ke dalam masyarakat informasi yang ditandai dengan fenomena masyarakat digital.
Meneruskan perkembangan masyarakat industri generasi pertama, abad 21 dan masa yang akan datang disebut revolusi industri 4.0.
Pembelajaran abad 21
Pembelajaran abad 21 berfokus pada students’ center dengan tujuan untuk memberikan peserta didik keterampilan berpikir.
Jenis-jenis keterampilan berpikir diantaranya berpikir kritis, memecahkan masalah, metakognisi, berkomunikasi, berkolaborasi, inovasi dan kreatif, dan literasi informasi.
Materi pokok atau utama dalam pembelajaran abad 21 yaitu, mata pelajaran bahasa inggris, membaca dan seni berbahasa, bahasa dunia, seni, matematika, ekonomi, sains, geografi, sejarah, pemerintahan dan PKn.
Karakteristik pembelajaran abad 21
Dalam konteks kesadaran global karakteristik pembelajaran abad 21sebagai berikut:
1. Menggunakan keterampilan abad 21 untuk memahami dan menangani masalah global.
2. Belajar dan bekerja secara kolaboratif dengan individu yang mewakili budaya, agama, dan gaya hidup yang beragam dalam semangat saling menghormati dalam berdialog secara terbuka atau dalam konteks pribadi, pekerjaan, dan komunitas.
3. Memahami keragaman bangsa, budaya sebagai masyarakat global.

Baca Juga : HUT RI ke 76, Isu Global Kekinian : Tantangan dan Ujian Spirit Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Masyarakat informasi di Indonesia
Pada fase masyarakat industri fokus utama adalah bagaimana masyarakat dengan segenap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berusaha mengolah bahan baku yang disediakan oleh alam menjadi komoditas yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup.
Akan tetapi sekarang ini, ketika memasuki era masyarakat informasi, bukan lagi perkara bagaimana berproduksi untuk akumulasi kapital.
Akan tetapi bagaimana penguasaan dan kemampuan mengolah informasi sebagai sumber daya utama untuk meningkatkan kualitas hidup.
Sekarang ini banyak yang sepakat bahwa, masyarakat Indonesia mengalami transisi dari masyarakat offline menuju masyarakat online.
Kemudian digunakan untuk mengindikasi bahwa, masyarakat informasi dan komunikasi juga telah hadir.
Siapa pun tidak bisa menolaknya.
Dengan kata lain, kehadiran masyarakat informasional itu merupakan imperatif, atau sebuah keniscayaan.
Hampir seluruh aspek kehidupan dalam bermasyarakat mulai dari aspek ekonomi, politik, kebudayan, dan sosial-budaya terambah oleh moda-moda informasional dan komunikasional.

Sekarang ini informasi tidak lagi mewujud dalam bentuk pengetahuan yang terdokumentasi secara padat seperti barang-barang cetakan, tetapi telah berubah menjadi serba digital.

Proses digitalisasi terjadi dalam berbagai aspek kehidupan manusia yang tentu saja berimplikasi terhadap perubahan nilai, cara pandang, dan pola-pola perilaku masyarakat.

Perubahan peradaban dan implikasinya terhadap pendidikan

Perubahan peradapan menuju masyarakat berpengetahuan (knowledge society).

Menuntut masyarakat dunia untuk menguasai keterampilan abad 21 agar mampu memahami dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT Literacy Skills).

Pendidikan memegang peranan sangat penting dan strategis dalam membangun masyarakat berpengetahuan yang memiliki keterampilan:

1. Melek teknologi dan media

2. Melakukan komunikasi efektif

3. Berpikir kritis

4. Memecahkan masalah

5. Berkolaborasi

Akan tetapi persoalan ICT Literacy dalam masyarakat kita masih menjadi masalah mendasar bagi upaya menuju masyarakat informasi.

Rendahnya tingkat ICT Literacy, terutama pada masyarakat pedesaan menjadi faktor signifikan terhadap menetapnya fenomena kesenjangan informasi di Indonesia.

Merespon perkembangan baru, yaitu era masyararakat informasional dan komunikasional yang ditandai kehadiran media baru, pemerintah dalam pembangunan sektor pendidikan mengeluarkan kebijakan.

Beberapa kebijakan Kementerian Pendidikan Indonesia yang berisi pemanfaatan ICT dalam pembelajaran sudah cukup lama hingga sekarang.

Termasuk penerapan Kurikulum 2013 juga mendorong proses pembelajaran berbasis ICT, sehingga penetrasi media baru (new media) dalam dunia pendidikan semakin intensif dan ekstensif.

Terdapat kesepakatan umum bahwa, Information and Communication Technologies (ICT) adalah baik untuk pengembangan dunia pendidikan.

Bank Dunia mengarisbawahi bahwa, para pendidik dan para pengambil keputusan sepakat bahwa ICT merupakan hal yang sangat penting bagi pengembangan masa depan pendidikan dalam era Melinium.

Teknologi ini, khususnya internet yang mampu membangun kemampuan jaringan informasi dapat meningkatkan akses melalui belajar jarak jauh, membuka jaringan pengetahuan bagi murid, melatih guru-guru, menyebarluaskan materi pendidikan dengan kualitas standar, dan mendorong penguatan upaya efisiensi dan efektivitas kebijakan administrasi pendidikan.

Baca Juga : Pemanfaatan Aplikasi KineMaster Sebagai Media Pembelajaran Berbasis TIK

Karakteristik guru abad 21
1. Guru sebagai fasilitator, motivator dan inspirator
Kemampuan guru dalam posisi sebagai fasilitator, berarti harus mengubah cara berpikir bahwa guru adalah pusat belajar atau teacher center menjadi siswa adalah pusat belahar student center.

Sebagaimana dituntut dalam kurikulum 13.

Itu berarti guru perlu memposisikan diri sebagai mitra belajar bagi siswa. Sehingga guru bukan serba tahu karena sumber belajar dalam era digital sudah banyak dan tersebar.

Serta mudah di akses oleh siswa melalui jaringan internet yang terkoneksi pada gawai.

Hal itu memang tidak mudah, karena berkait dengan transformasi kultural baik yang masih berkembang dalam guru maupun siswa itu sendiri, dan bahkan masyarakat.

2. Guru mempunyai minat baca yang tinggi
Selama ini berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa minat baca di kalangan guru di Indonesia masih rendah.

Bahkan kurang memiliki motivasi membeli atau mengoleksi buku.

Tingkat kepemilikan buku di kalangan guru di Indonesia juga masih rendah.

Sering pula terdengar pemeo bahwa, penambahan penghasilan melalui program sertifikasi guru, tidak untuk meningkatkan profesionalisme guru, tetapi hanya untuk gaya hidup konsumtif.

Karakteristik seperti itu, adalah tidak cocok bagi pengembangan profesionalisme guru pada abad 21.

Oleh karena itu, guru harus terus meningkatkan minat baca dengan menambah koleksi buku.

Setiap kali terdapat masalah pembelajaran, maka guru perlu menambah pengetahuan melalui bacaan buku, baik cetak maupun digital yang bisa diakses melalui internet.

Tanpa minat baca tinggi, maka guru pada era pedagogi siber sekarang ini akan ketinggalan dengan pengetahuan siswanya.

Sehingga akan menurunkan kredibilitas atau kewibawaan guru.

Hilangnya kewibawaan guru akan berdampak serius bukan saja pada menurunya kualitas pembelajaran,tetapi juga bagi kemajuan sebuah bangsa.

Baca Juga : Manajemen Sumber Daya Manusia di Sekolah

3. Memiliki kemampuan menulis
Guru juga dituntut untuk bisa menuangkan gagasan-gagasan inovatifnya dalam bentuk buku atau karya ilmiah.

Tanpa kemampuan menulis guru akan kesulitan dalam upaya meningkatkan kredibilitasnya di hadapan murid.

Guru yang memiliki kompetensi dalam menulis gagasan, atau menulis buku dan karya almiah, maka akan semakin disegani oleh siswanya.

Sebaliknya, jika guru tidak pernah menulis, maka akan semakin dilecehkan oleh siswa.

4. Guru harus kreatif dan inovatif dalam metode belajar dan pemecahan masalah belajar

Penguasaan terhadap e-learning bagi seorang guru abad 21 adalah sebuah keniscayaan atau keharusan, jika ingin tetap dianggap berwibawa di hadapan murid.

Guru yang kehilangan kewibawaan di mata siswa adalah sebuah bencana, bukan saja bagi guru itu sendiri tetapi bagi sebuah bangsa karena kunci kemajuan bangsa adalah guru.

Oleh karena itu kompetensi mengajar berbasis TIK adalah mutlak bagi guru pada abad 21.

Karakteristik siswa abad 21
Penguatan pendidikan karakter di sekolah juga harus dapat menumbuhkan karakter siswa.

Untuk dapat berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan berkolaborasi, yang mampu bersaing di abad 21.
Ada empat kompetensi yang harus dimiliki siswa di abad 21 yang disebut 4C, yaitu Critical thinking and problem solving, Creativity, Communication skills, dan Ability to work Collaboratively.
Untuk itu, demi mewujudkan keterampilan–keterampilan siswa Indonesia yang mampu bersaing pada abad 21 ini.

Maka pembelajaran di sekolah harus merujuk pada 4 karakter belajar abad 21 yang biasanya dirumuskan dalam 4C yakni :
1. Critical thinking and problem solving

Artinya, proses pembelajaran hendaknya membuat siswa dapat berpikir kritis dengan menghubungkan pembelajaran dengan masalah-masalah kontekstual yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
2. Creativity and innovation

Artinya, pembelajaran harus menciptakan kondisi dimana siswa dapat berkreasi dan berinovasi, bukannya didikte dan diintimidasi oleh guru.

Guru hendaknya menjadi fasilitator bagi siswa.
3. Communication

Artinya, pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa harus terjadi komunikasi multi arah dimana terjadi komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, maupun antar sesama siswa.
4. Collaboration

Pada proses pembelajaran guru hendaknya menciptakan situasi dimana siswa dapat belajar bersama-sama atau berkelompok (team work).

Sehingga akan tercipta suasana demokratis dimana siswa dapat belajar menghargai perbedaan pendapat, menyadari kesalahan yang ia buat.

Serta dapat memupuk rasa tanggung jawab dalam mengerjakan tangung jawab yang diberikan.
Dilansir dari gurupembaharu.com, keterampilan yang siswa perlukan pada abad 21 adalah sebagai berikut:

Memiliki karakter sebagai pemikir

Maksudnya terampil berpikir inovatif yang diperlihatkan dengan kepandaian beradaptasi, mampu memecahkan masalah, dapat mengarahkan diri. Cerdas, kreatif, dan berani ambil resiko.

Memiliki etos kerja yang tinggi

Memiliki kemampuan untuk menentukan prioritas, mengembangkan perencanaan, dan memetakan hasil dicapai.

Terampil menggunakan perangkat kerja dan teknologi. Muaranya adalah aktivitas produktif.

Perilaku hidup bersih, sehat, disiplin, sportif, tidak kenal menyerah, tangguh, handal, berketetapan hati, kerja keras, dan kompetitif.

Memiliki keterampilan berkomunikasi

Komunikasi menjadi kunci dalam dunia pendidikan, kerja dan bermasyarakat.

Misalnya, kemampuan bekerja dalam tim yang bervariasi, berkolaborasi, dan cakap mengembangkan hubungan interpersonal sehingga selalu dapat menempatkan diri dalam interaksi yang harmonis.

Memiliki kecakapan komunikasi personal, sosial, dan terampil mengejawantahkan tanggung jawab.

Yang tidak kalah penting siswa terampil dalam komunikasi interaktif dengan cerdas dan rendah hati.

Karakter yang relevan dengan keterampilan ini adalah menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum dan bangga terhadap produk bangsa sendiri.

Melek teknologi dan informasi

Sebagai pondasi pengembangan penguasaan ilmu pengetahuan, kecakapan mengelola uang, memiliki jiwa kewirausahaan sebagai landasan kecakapan bidang ekonomi dan melek teknologi.

Kecakapan untuk memvisualisasikan informasi merupakan keterampilan yang semakin penting.

Sebab adanya dukungan teknologi, siswa dapat mengembangkan keterampilan multikultural, bekerja sama dan berkomunikasi dalam ruang lintas bangsa, serta terampil mengembangkan kesadaran global.

Bangsa Indonesia memandang bahwa, kecakapan intelektual, digital, sosial, dan akademik belum cukup.

Anak Indonesia wajib memiliki kecakapan hidup yang yang lebih bernilai yang ditandai dengan keterampilan beriman dan bertakwa, terampil hidup jujur.

Terampil menjalankan amanah, terampil berbuat adil, terampil menjalankan tanggung jawab, terampil berempati, dan patuh menjalankan hidup beragama sebagai refleksi menjalankan perintah Tuhan.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Bibiana, S.Pd (Guru SMA Negeri 2 Pontianak)
Sumber : Edukasi Borneo