Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Opini

Ketika Sepak Bola Mampu Hentikan Proxy War

30 Jul 2022, 10:01 WIB
Ilustrasi Sepak Bola.(ebc/freepik)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Proxy War adalah sebuah konfrontasi antara dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain cadangan untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi resiko konflik langsung yang beresiko pada kehancuran fatal.

Biasanya pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain cadangan adalah negara kecil, namun kadang juga bisa non state actors yang dapat berupa LSM, organisasi masyarakat, kelompok masyarakat atau perorangan.

Singkatnya Proxy War merupakan kepanjangan tangan dari suatu negara yang berupaya mendapatkan kepentingan strategisnya namun menghindari keterlibatan langsung suatu perang yang mahal dan berdarah.

Melalui Proxy War ini tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan non state actors dari jauh.

Negara musuh akan membiayai semua kebutuhan yang diperlukan oleh non state actors dengan imbalan mereka mau melakukan segala sesuatu yang diinginkan penyandang dana untuk memecah belah kekuatan musuh.

Lantas apakah ada kaitan antara sepak bola dengan proxy war? Jawabnya ya.

Singkatnya, sepak bola adalah bentuk sublimasi dari syahwat manusia untuk saling berperang. Ia adalah “perang” yang sudah diperadabkan.

Sumber syahwat itu adalah berasal dari konstruksi diri manusia itu sendiri yang pada dasarnya terdiri dari unsur-unsur pasangan yang berlawanan (Binary opposision).

Manusia disamping memiliki naluri bekerjasama juga konflik, memiliki perilaku mempertahankan diri (defensif) tapi sekaligus juga menyerang pihak lain (agresif).

Baca Juga : Beberapa Penyebab Telat Lulus Kuliah dan Cara Mengatasinya


Perang adalah syahwat yang sama sekali tidak bisa dielakkan oleh manusia. Manusia hanya bisa membelokkan syahwat itu ke dalam bentuk tabiat yang lebih sublimatif.

Menyadari akibat buruk sebuah perang itulah maka manusia mencoba mencari alternatif bentuk “perang” yang lain, yang lebih sublimatif, beradab, dan tidak destruktif, bukan yang menebar penderitaan tapi menggembirakan.

Nah, sepak bola adalah wujud sublimatif dari perang itu sendiri, dimana saat kita menyaksikan pertandingan sepak bola kita merasakan adanya ketegangan, konflik sekaligus harapan.

Sepak bola kini menjelma sebagai wadah berbagai kepentingan, tidak saja hanya sebagai sebuah pertandingan yang menarik tapi juga sebagai alat politik, media promosi.

Bahkan menjadi icon atau ciri khas sebuah negara katakanlah brazil dan argentina yang kita kenal dari sepak bola.

Uniknya Sepak bola juga menjadi alat pemersatu bangsa, negara dan agama. Kota Jos di negara bagian Plateau, Nigeria, pernah dilanda konflik agama bertahun-tahun lamanya.

Api perselisihan pernah membara antara para pemuda Kristen dan Muslim yang berujung bentrok tak berkesudahan.

Orang-orang Muslim tak berani melintas ke distrik mayoritas Kristen, begitu pun sebaliknya orang-orang Kristen menghindari daerah-daerah yang didominasi mayoritas Muslim. 

Akan tetapi, perlahan-lahan permusuhan dan kebencian itu sirna. Tidak ada lagi konflik di kota itu. Bukan karena aparat yang berjaga-jaga, melainkan karena sepak bola.

Penikmat sepak bola di milenium ketiga mungkin akan menyebut bila Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sebagai yang terhebat. Namun, siapa pemain yang dapat menghentikan perang? Ia bernama Edson Arantes Do Nascimento alias Pele.

Baca Juga : Enam Skill Internet of Things (IoT) Yang Harus di Kuasai

Melansir Four Four Two yang mengatakan bahwa pada 1967 sebagian wilayah Nigeria menginginkan untuk melepaskan diri dan mendirikan negara Republik Biafra. Perang saudara bergeliat yang menewaskan banyak korban jiwa itu.

Namun pada 1969 Pele dan timnya Santos melakukan serangkaian pertandingan eksebisi di dua kota yakni Lagos dan Benin. Lalu apa yang terjadi?

Perang berhenti selama dua hari. Perdamaian itu merupakan kesepakatan dua pihak, peperangan yang mengenyampingkan kepentingan politik hanya agar penduduk Nigeria dapat menyaksikan dengan damai seorang Pele.

Sadar tidak sadar sepak bola mampu menghadirkan perdamaian bahkan ditengah perang sekalipun.

Sepak bola juga mampu menjadi hipnoterapi suatu negara yang berada dalam kondisi krisis dan konflik seperti saat masyarakat Asia dibuat terdiam di bulan Juli 2007.

Untuk pertama kalinya media dunia tidak memberitakan Irak perihal perang. Melainkan soal prestasi sepak bola Irak yang belum pulih karena invasi dan perang saudara antara dua faksi. Namun, justru mengangkat Piala Asia dan mengharumkan nama negerinya.

Nah, bagaimana kemudian proxy war bisa dihentikan dengan sepak bola? jawabannya sederhana karena sepak bola bisa menumbuhkan rasa nasionalisme yang menjadi tameng terkuat untuk menghentikan proxy war.

Saat kita menyaksikan pertandingan TIMNAS U-19 berlaga di Piala AFF beberapa waktu yang lalu, tentu dukungan kita hanya untuk timnas tercinta.

Tak perduli kamu Aceh, Papua, Jawa, Sulawesi, tak peduli kamu suku Dayak, Melayu, Bugis, dan tak peduli kamu Islam, Hindu, Kristen.

Tak perduli kamu pendukung PDIP, Demokrat atau PKS, tak perduli kamu pendukung Anies, ganjar atau siapapun.

Karena saat Timnas berlaga rasa kita menjadi satu yaitu rasa “Kita Indonesia.”

Ketika setiap hati rakyat terisi kata “Kita Indonesia” bisa dibayangkan bagaimana kecintaan kita kepada negeri ini ternyata begitu besar dan dalam terlepas dari semua status sosial kita.

Dan bisa dibayangkan ketika rasa nasionalisme ini terus tertancap dalam ke hati setiap warga negara.

Maka tak akan ada ancaman yang berarti bagi persatuan bangsa dan negara sekali pun proxy war itu diracang dan di desain oleh negara kuasa untuk menghancurkan negara kita.

Itulah kenapa kita perlu belajar dari sepak bola bagaimana melindungi generasi penerus bangsa dari berbagai ancaman termasuk proxy war.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Putra Sastaman B, S Pd, M Or (Dosen Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Untan Sekaligus Peserta Latsar CPNS angkatan XXVII PUSL)
Sumber : Edukasi Borneo