Wednesday, 27/10 17:27:46
Satuan tugas Pamtas Yonif Mekanis 643/Wanara Sakti dan Tentara Diraja Malaysia (TDM) Batalion 500 dan TDM Batalion 602 memperkuat kerja sama pengamanan perbatasan Indonesia-Malaysia di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Home > Kolom Opini

Lonceng Kematian Pendidikan

22 Sep 2021, 15:03 WIB
Dr Aswandi, Dosen FKIP Universitas Tanjung Pura.(Ist)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK – Lonceng kematian pendidikan merupakan intisari dari  sebuah buku dengan judul yang sama karya Aswandi.

Beragam definisi tentang pendidikan telah disampaikan oleh para ahli khususnya pakar pendidikan. Juga sudah ada dalam peraturan dan perundang-undangan yang pada hakikatnya pendidikan itu adalah memanusiakan manusia.

Memberikan kemerdekaan dan kebebasan dalam proses pendidikan dan pembelajaran sebagai wujud dari melaksanakan atau menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM).

Baca Juga : Melawan Rasa Takut

Faktanya, memanusiakan manusia melalui proses pendidikan dan pembelajaran hingga sekarang ini belum berjalan efektif, antara lain:

1. Diyakini bahwa teori pendidikan dan pembelajaran yang ada hingga saat ini telah sempurna dan dirasakan tidak penting lagi untuk digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga tidak perlu dipelajari, diteliti dan dikembangkan, serta tidak perlu diajarkan lagi.

Dengan kata lain, penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran tidak berbasis ilmu pengetahuan.

2. Masyarakat pembelajar (learning community) yang merupakan roh pendidikan terasa kering.

Keringnya admosfir akademik tersebut tidak hanya dirasakan oleh masyarakat pada umumnya. Melainkan juga dirasakan oleh mereka yang berada di lingkungan pendidikan formal, mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak hingga pendidikan tinggi.

Belum lagi persoalan pendidikan yang terbawa arus di jalan-jalan sempit dan di jalan-jalan buntu tanpa mengetahui dan menyadari kemana arah atau pendidikan itu, ikutannya tujuan atau outcome learning, content dan strategi pembelajaran tidak sesuai dengan zamannya.

3. Pendidikan dimaknai sekolah, mereka yang sekolah dikelompokkan ke dalam kaum terdidik atau manusia pembelajar.

Sementara, mereka yang tidak dan putus sekolah dimaknai sebaliknya. Faktanya, banyak mereka yang sekolah atau kuliah. Namun tidak belajar, bahkan pendidik dan tenaga kependidikan yang bertanggung jawab mendidik mereka juga tidak belajar atau belum menjadi manusia pembelajar.

Sementara mereka yang tidak sekolah atau tidak kuliah terus menerus belajar dan sukses menjalani kehidupannya. Setiap tahunnya, majalah Forbes melaporkan sejumlah orang sukses tanpa sekolah, namun mereka adalah pembelajar keras.

4. Kita melihat banyak orang sibuk mengurus pendidikan yang tentu saja menggunakan dan menghabiskan sumber daya yang tidak sedikit, baik sumber daya manusia, uang dan waktu.

Namun tidak membuahkan hasil sebagaimana diharapkan. Hal ini pertanda bahwa etos kerja mereka kosong.

5. Kemampuan skolastik yang terbukti mampu mengantarkan kesuksesan seseorang kurang mendapat perhatian dalam sistem pendidikan, sementara kemampuan akademik dikembangkan karena diyakini sebagai prediktor kesuksesan peserta didik. Asumsi tersebut terbantahkan.

Baca Juga : Mengenang Satu Tahun Wafatnya Malik Fadjar

Riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley 2003 lalu sebagaimana tertulis pada sebuah buku berjudul The Millionaire Mind, menjelaskan bahwa terdapat 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang.

Hasil penelitian menyimpulkan nilai baik (NEM, IPK, dan rangking) hanyalah faktor sukses urutan ke-30, faktor IQ urutan ke-21, lulusan dari sekolah dan universitas favorit dunia urutan ke-23.

Sepuluh faktor teratas yang mempengaruhi kesuksesan seseorang, adalah kemampuan skolastik, yakni: kejujuran, disiplin keras, mudah bergaul, dukungan pendamping, kerja keras, kecintaan pada pekerjaan, kepemimpinan, kepribadian kompetetif, hidup teratur dan kemampuan menjual ide.

Ternyata faktor keberhasilan ada di dalam diri dan di sekitar kita yang kurang mendapat perhatian serius dalam sistem pendidikan.

Hal yang sama dipertanyakan oleh Robert Kiyosaky (2015) Why “A” Students Work for “C” Students and “B” Student work for the Government.

Maknanya banyak lulusan mencapai prestasi unggul. Namun bekerja di tempat yang kurang atau tidak sesuai prestasinya dengan gaji kurang layak demikian sebaliknya.

Mendikbud Ristek, Nadiem Anwar Makarim mengatakan hal yang sama bahwa, pendidikan di era disrupsi ditandai dengan:

Gelar tidak lagi menjadi ukuran kompetensi

Lulusan tidak menjamin kemampuan berkarya

Program studi tidak ada korelasinya dengan karier lulusan

Akreditasi tidak menjadi jaminan mutu pendidikan

Kehadiran di ruang kelas tidak menjamin telah terjadi proses pembelajaran efektif

Setiap jam mahasiswa berada di dalam kampus tidak selalu relevan dengan masa depannya

Baca Juga : Menghentikan Kebiasaan Buruk

Teknologi informasi (IT) seringkali berada pada posisi terdakwa

Dalam pelaksanaan pembelajaran IT hanya untuk membela para pendosa pengguna teknologi yang tidak atau kurang memiliki kecerdasan terkait literasi digital

Dunia pendidikan sering terlambat bedaptasi dan berinovasi

Dunia pendidikan cenderung lamban menghadapi perubahan disruptif di banding bidang-bidang kehidupan lainnya.

Pakar Pendidikan dan bank dunia, Jamil Salmi mengungkapkan sebanyak 50 persen perguruan tinggi di Amerika Serikat dalam 10 hingga 15 tahun ke depan bangkrut dan pada saat ini sudah banyak mati suri.

Pakar Disrupsi, Clayton Christensen mengatakan sebanyak 65 persen siswa saat ini bakal mendapat pekerjaan dimana pekerjaan untuk mereka belum ada. Sementara ribuan pekerjaan yang ada menghilang setiap tahunnya.

Dunia usaha dan dunia industri (DUDI) tidak lagi mempersyaratkan ijasah dalam penerimaan atau rekrutmen pegawainya, dan peran manusia telah tergantikan oleh robot (artificial  intelligence).

Fenomena The Main Is No Longer The Main yakni apa yang dulunya menjadi kekuatan, sekarang belum tentu menjadi kekuatan lagi.

Informasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari tahun ke tahun semakin banyak saja mereka yang berpendidikan tinggi baik sarjana, magister hingga doctor ditangkap karena melakukan tindak kejahatan atau korupsi.

Pintu kebebasan berekspresi terbelenggu sehingga menyulitkan untuk berinovasi dan berkreasi di bidang apa saja.

Robertus Robet dalam Tempo, 19 September 2021 kemarin mengungkapkan bahwa, banyak dosen dan mahasiswa dihukum karena mengajukan protes dan kebebasan akademik Indonesia jatuh ke titik nadir.

Dampak ikutannya sangat banyak, antara lain: lahirnya generasi asal bapak senang dan generasi yang tidak memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thingking) yang sangat diperlukan di era baru peradaban sekarang ini.

Kondisi pendidikan dan pembelajaran tersebut oleh para pakar pendidikan dimaknai sebagai lonceng kematian pendidikan.

Pertanyaannya, apakah suara lonceng tanda kematian pendidikan tersebut bisa dihentikan?. Jawabannya, Bisa.

Sebaliknya, jika peringatan melalui suara lonceng sebagai tanda-tanda kematian pendidikan tersebut tidak segera dihentikan atau tidak disikapi secara serius, maka pada saatnya nanti tidak mustahil akan terjadi matinya pendidikan.

Banyak usaha dapat dilakukan untuk menghentikan suara lonceng kematian pendidikan. Namun, karena keterbatasan ruang opini.

Baca Juga : Integritas Diri

Berikut penjabaran faktor terjadinya longceng kematian pendidikan:

1. Memperkuat pondasi atau pilar pendidikan, antara lain pondasi filosofis, psikologis, sosiologis, historis, ekonomi, politik dan hukum

2. Konvergensi ilmu pengetahuan yang telah dimulai sejak lama (era renansance) dari kota kecil medisi terbukti menjadi awal peradaban berkemajuan terus dikembangkan.

Kebijakan Merdeka Belajar yang sebelumnya digagas Ki Hajar Dewantara dan dikembangkan oleh Nadiem Anwar Makarim kini mengacu pada konsep konvergensi saint tersebut.

Diharapkan kebijakan merdeka belajar tersebut mampu melahirkan generasi pembelajar, yakni peserta didik yang belajar dimana saja, belajar apa saja dan belajar kapan saja.

3. Sekolah dan universitas kehidupan yang terbukti mampu melahirkan dan membangun generasi tangguh perlu terus dikembangkan secara terintegrasi, dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

4. Transformasi pendidikan dan pembelajaran berbasis digital dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Aswandi, Dosen FKIP Universitas Tanjung Pura
Sumber : Edukasi Borneo