Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Guru

Manajemen Stress di Tempat Kerja

30 Mar 2021, 06:54 WIB
Guru SMA Negeri 2 Pontianak, Bibiana,S.Pd (Ist/Dokumentasi Bibiana)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Stress adalah reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi ancaman, tekanan, atau suatu perubahan.

Stress juga dapat terjadi karena situasi atau pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa, gugup, marah atau bersemangat.

Situasi tersebut memicu respon tubuh, baik secara fisik ataupun mental. Respon tubuh terhadap stress dapat berupa napas dan detak jantung menjadi cepat, otot menjadi kaku, dan tekanan darah meningkat.

Stress sering kali dipicu oleh tekanan batin, seperti masalah dalam keluarga, hubungan sosial, patah hati, atau masalah finansial bisa juga disebabkan oleh penyakit yang diderita.

Setiap orang pernah mengalami stress. Kondisi itu tidak selalu membawa efek buruk dan pada umumnya hanya bersifat sementara. Stress akan berakhir saat kondisi yang menyebabkan frustasi tersebut berhasil dilewati.

Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental. Stress juga dapat menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan dan sistem reproduksi bahkan menyebabkan insomnia atau gangguan tidur.

Baca Juga : Yakobus Ungkap Hambatan dan Tantangan Pembelajaran di Masa Pandemi

Berdasarkan survey terhadap 1.400 pekerja di Amerika Serikat yang dipublikasikan secara online oleh careerbuilder.com, lebih dari satu pertiga responden menyatakan telah mengalami penambahan beban kerja.

Mereka telah mengalami waktu beban kerja yang lebih panjang dan celakanya jam istirahat makan siang yang lebih pendek agar pekerjaan bisa selesai.

Menurut 4 dari 5 manajer di Eropa, stress merupakan bencana di tempat kerja. Stress adalah satu resiko psikososial di tempat kerja yang penanganannya jauh lebih sulit dibandingkan masalah kesehatan.

Sedangkan menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, stress terkait pekerjaan adalah pola reaksi yang terjadi saat pekerja dihadapkan pada tuntutan pekerjaan yang tidak sesuai dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan kerja, sehingga mereka membutuhkan daya adaptasi yang lebih tinggi dan upaya yang lebih keras untuk menyelesaikan pekerjaan.

Hal di atas, dapat menimbulkan gangguan fisik dan mental sehingga menurunkan produktifitas atau peforma kerja dalam suatu organisasi.

Sementara di Inggris, dilansir dari hse.gov.uk, penanganan stres membutuhkan biaya 10 kali lebih tinggi dibanding dengan biaya untuk memecahkan perselisihan industri.

Sakit akibat stress juga mengakibatkan hilangnya 40 juta hari kerja setiap tahunnya.

Rutinitas kerja yang padat setiap harinya bisa membuat individu atau karyawan stres dalam menjalani pekerjaannya.

Pada 2018, Oliver Wyman dan City Mental Health Alliance Hong Kong (CMHAHK) melakukan penelitian seputar kesehatan mental karyawan yang bekerja di Hongkong. Hasilnya, 37 % karyawan mengalami kesehatan mental yang buruk.

Hasil itu menegaskan survey yang pernah dilakukan sebelumnya di Inggris oleh Mercer di mana 1 dari 3 orang di dunia didiagnosa mengalami masalah kesehatan mental dilingkungan tempatnya bekerja.

Beberapa kondisi umum yang terjadi dalam masalah kesehatan mental adalah stress, cemas dan depresi.

Baca Juga : Pentingnya Pengalaman Pribadi dan Budaya Siswa dilibatkan dalam Pembelajaran

Beberapa penyebab stress di tempat kerja antara lain:

1. Beban kerja yang sulit dan berlebihan

2. Sarana dan prasarana yang kurang memadai atau terakomodir bagi setiap karyawan

3. Shift atau jam kerja yang terlalu berlebihan

4. Tingkat profesionalitas atau kompetensi yang kurang memadai atau tidak sesuai bidang pekerjaannya atau bahkan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

5. Peran atau tupoksi yang tidak jelas yang diberikan oleh atasan.

6. Penerapan peraturan yang kurang jelas

7. Peraturan berlebihan dan kurang adil

8. Kurangnya dukungan dari teman sejawat (tingkat kolaborasi dan partisipasi yang kurang atau tidak jelas).

9. Konflik antara pribadi dengan rekan kerja dan atasan kerja

10. Balas jasa atau imbalan yang terlalu rendah

11. Kurangnya partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan

12. Pola komunikasi yang buruk antara teman sejawat atau karyawan dengan atasan dan pimpinan

13. Kurang motivasi dari atasan

Stress di tempat kerja jika ditilik terkait dengan lingkungan kerja diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Buruknya kondisi lingkungan kerja baik dari pencahayaan, suhu, kebisingan, ventilasi, sirkulasi udara, ruang kerja yang berantakan, dan lain-lain.

2. Diskriminasi ras, ancaman kekerasan, bullying, pelecehan, intimidasi terkait gender, suku, agama, budaya, dan cara pandang terkait dengan perilaku kerja (working attitude).

3. Kemacetan lalu lintas (traffic) saat berangkat dan pulang kerja.

Baca Juga : Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Android Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis di Masa Covid 19

Manajemen penanganan stress di tempat kerja

Menurut International Labour Organization (ILO), beberapa tahun terakhir, stress akibat kerja telah memberikan dampak psikososial yang serius bagi pekerja.

Dampak tersebut meluas terhadap keselamatan kerja dan sangat berpengaruh pada perkembangan organisasi.

Berikut beberapa hal yang dapat organisasi lakukan untuk menangani stress di tempat kerja:

1. Mempekerjakan seorang hired working consultant (konsultan kerja)

2. Bicarakan keluhan kerja dengan working consultant

3. Pekerja dapat berkonsultasi atas rutinitas atau cara kerja yang mereka lakukan

4. Melakukan kegiatan sesuai tupoksi, beban kerja, jam kerja, peraturan kerja yang adil pada setiap karyawan

5. Menjaga kesehatan fisik dan mental dengan olah raga bersama yang teratur dan terjadwal

6. Budaya perilaku bersih dan sehat di tempat kerja

7. Memberikan tuntutan kerja yang sesuai atau dapat diselesaikan sesuai waktu (deadline) yang telah disepakati bersama

8. Pekerja memahami prioritas pekerjaan mana yang harus didahulukan atau ditunda.

9. Pekerja harus dilibatkan dalam perubahan perubahan yang terjadi di tempat kerja terkait rencana, proses dan evaluasi kerja.

10. Pekerja memiliki akses yang memadai untuk mendapatkan dukungan yang relevan selama perubahan yang terjadi di tempaat kerja.

Demikianlah artikel terkait pengertian, gejala, penyebab, survey atau data serta manajemen penanganan stress di tempat kerja.

Semoga artikel ini memberi dampak yang baik bagi pembaca terutama stakeholders, pimpinan, dan karyawan dalam sebuah organisasi. Digital literacy is ok.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Bibiana, S.Pd (Guru SMAN 2 Pontianak)
Sumber : Edukasi Borneo