Materi PKn SMA Kelas 10 Semester Ganjil Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Home > Edukasi

Materi Sejarah Peminatan Kelas 10 Semester Ganjil Sejarah Sebagai Kisah dan Seni

14 Nov 2022, 07:50 WIB
Ilustrasi Wayang Kulit.(ebc/freepik)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK – Teman edukasi, kali ini kita akan membahas pelajaran sejarah peminatan Kelas 10 SMA/SMK/MA materi Sejarah Sebagai Kisah dan Seni.

Sejarah memang tidak dapat dilepaskan dari maknanya sebagai kisah atau cerita dan seni.

Tidak semua penulis dapat menggambarkan peristiwa yang bernilai historis menjadi suatu kisah atau seni. Butuh kemampuan atau skill untuk menyampaikan maksud dari penulis kepada pembaca. Ataupun maksud illustrator kepada penikmatnya.

1. Sejarah sebagai cerita/kisah

Sejarah mempelajari kisah dan pengalaman dari masa lampau. Melalui kisah sejarah, kita dapat melihat pergerakan yang dinamis yang terjadi di bumi dengan manusia sebagai objeknya.

Sejarah sebagai kisah merupakan hasil konstruksi (penggambaran) sejarawan terhadap suatu peristiwa.

Untuk menyusun kisah sejarah, sejarwan membutuhkan fakta dari berbagai sumber sejarah yang diperoleh melalui serangkaian metode.

Sejarah sebagai cerita atau kisah adalah peristiwa sejarah yang diceritakan atau dikisahkan kembali sebagai hasil rekonstruksi ahli sejarah (sejarawan) terhadap sejarah sebagai peristiwa.

Sejarah sebagai cerita merupakan rekonstruksi dari suatu peristiwa baik yang dituliskan maupun diceritakan oleh seseorang sehingga sejarah dapat berupa kisah yang berbentuk lisan dan tulisan.

Sejarah sebagai kisah merupakan peristiwa sejarah yang dikisahkan kembali atau diceritakan kembali sebagai hasil konstruksi dari para ahli sejarah (sejarawan) terhadap sejarah sebagai peristiwa. Oleh R. Moh Ali (2005) hal itu disebut sejarah sebagai serba subjek.

Sehingga tidak tertutup kemungkinan sejarah sebagai kisah bersifat subjektif. Subjektivitasnya ada pada bagaimana sejarah itu disampaikan, diceritakan oleh seseorang.

Baca Juga : Materi Sejarah Peminatan Kelas 10 Semester Genap Sejarah Sebagai Ilmu, Peristiwa, Kisah dan Seni


Faktor kepentingan dan latar belakang penulis sejarah itu juga mempengaruhi cara penulisan sejarah.

Penulisan yang dapat dipertanggungjawabkan harus melalui penafsiran yang mendekati kebenaran peristiwa yang terjadi.

Sementara itu untuk merekonstruksi kisah sejarah harus mengikuti metode analisis serta pendekatan tertentu.

Suatu peristiwa yang sama dapat saja dikisahkan dengan cara berbeda oleh dua orang atau lebih karena mereka memiliki penafsiran yang berbeda.

Misalnya ketika kita mewawancarai masyarakat di wilayah Majapahit sekarang, akan berbeda mengisahkannya Peristiwa Bubat antara satu dengan yang lainnya.

Apabila yang kita wawancarai adalah orang-orang Pasundan, kemungkinan ia akan menceritakan Peristiwa Bubat dalam perspektif dirinya sebagai orang sunda.

Apabila kita tanya orang-orang yang bukan dari wilayah keduanya maka akan berbeda pula cara mengisahkannya.

Apabila kita mendengarkan seseorang menceritakan tentang perang bubat yang terjadi karena kesalah pahaman antara kerajaan Majapahit yang di pimpin Raja Hayam wuruk dengan pihak kerajaan pasundan yang dipimpin oleh Sri Baduga.

Yang menyebabkan meninggalnya raja pasundan dan putrinya yang bernama Dyah Ayu Pitaloka yang akan dipersunting oleh Raja Hayam wuruk dari Majapahit. Kisah ini masuk dalam kategori kisah lisan.

Namun, apabila kita ingin mengetahui peristiwa Bubat dengan membaca buku-buku yang bercerita tentang Perang Bubat, maka itu termasuk dalam kategori kisah tulisan.

2. Sejarah sebagai seni


Ada sebuah gemuruh di kepala saat pertama kali membaca satu kutipan ini. Kutipan milik Kartini.

Penting menyebutnya Raden Ajeng Kartini, namun pemilik nama ini justru meminta untuk hanya memanggilnya dengan nama saja, tanpa gelar kebangsawanan yang lekat dari keluarganya.

Sebuah permintaan yang ia tulis kepada seorang gadis Belanda yang menjadi sahabat pena pertamanya, Estelle “Stella” Zeehandelaar.

Panggil Aku Kartini Saja; yang kemudian menjadi sebuah judul biografi yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.

Saat ia melihat fenomena mengapa Cina selalu superior di pendidikan di Indonesia “Aku lebih cenderung untuk berada bahwa stimulus dan selera adalah faktor yang sangat berpengaruh pada pemikiran seseorang, Belajar tanpa selera tidak akan berhasil.

Tanpa fighting spirit, maka kita bukan apa-apa. Hanya dengan inilah kita dapat belajar dengan semangat.

Aku lihat orang-orang Tionghoa telah mempunyai stimulus dalam hal ini ekonomi atau ideal”.

Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran Sudah pernah baca belum dua buah novel sejarah diatas.

Di dalam kutipan Itu apa yang kalian pahami, mengapa penulisan sebuah karya harus menarik, kenapa gak ditulis sesuai peristiwa saja yang apa adanya.

Kenapa sih sejarah dikatakan sebagai seni?.

Berbicara tentang sejarah sebagai Seni, dalam benak kita yang muncul kenapa seni, mengapa seni, bagaimana sebuah peristiwa bisa sebagai seni?.

Sejarah dapat berperan sebagai suatu Seni yang mengedepankan nilai estetika. Sejarah sebagai seni bukan dipandang dari segi etik atau logika, melainkan dari segi estetika.

Menurut Wilhelm Dilthey, sejarah adalah pengetahuan tentang rasa.

Sejarah tidak hanya mempelajari segala yang bergerak dan berubah atau yang tampak dipermukaan, sejarah juga mempelajari motivasi yang mendorong terjadinya perubahan besar bagi pelaku sejarah. Sejarah mempelajari suatu proses yang dinamis dalam kehidupan manusia yang didalamnya terdapat hubungan sebab akibat.

Baca Juga : Latihan Soal Sejarah Peminatan SMA Kelas 10 Semester Ganjil Manusia dan Sejarah

Sejarah sebagai seni disebabkan dalam rangka penulisan kisah sejarah.

Dalam memilih topik, sejarawan sering tidak bisa mengandalkan ilmu yang dimilikinya saja, ia akan memerlukan ilmu sosial dalam menentukan sumber apa yang harus dicari, demikian pula dalam interpretasi data.


Dalam hal ini sejarawan memerlukan Intuisi atau ilham, yaitu pengalaman langsung dan insting selama masa penelitian berlangsung.

Setiap langkah diperlukan kepandaian sejarawan dalam memutuskan apa yang harus dikerjakan.

Seringkali untuk memilih suatu penjelasan, bukan peralatan ilmu yang berjalan tetapi instuisi.

Dalam hal ini cara sejarawan seperti seorang seniman. Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan.

Menurut Travelyan menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah karena memerlukan imajinasi dan seni.

Demikian halnya ketika harus menggambarkan suatu peristiwa atau berupa deskripsi, sejarawan sering tidak sanggup melanjutkan tulisannya.

Dalam keadaan seperti itu, sebenarnya yang diperlukan adalah intuisi. Namun, meskipun mengandalkan intuisi, sejarawan harus tetap berdasarkan data yang dimilikinya.

Sejarawan juga membutuhkan Imajinasi, misalnya membayangkan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang terjadi, pada suatu periode yang ditelitinya.

Imajinasi yang digunakan tentunya bukanlah imajinasi liar melainkan berdasarkan keterangan atau data yang mendukung.

Misalnya seorang sejarawan akan menulis priyayi awal abad ke-20. Ia harus memiliki gambaran, mungkin priyayi itu anak cucu kaum bangsawan atau raja yang turun statusnya karena sebab-sebab alamiah atau politis.

Imajinasi seorang sejarawan juga harus jalan jika ia ingin memahami perlawanan Sultan Palembang yang berada di luar ibu kota pada abad ke-19.

Sejarawan dituntut untuk dapat membayangkan sungai dan hutan yang mungkin jadi tempat baik untuk bersembunyi (Kuntowijoyo 2001:70).

Demikian halnya dengan Emosi. Dalam penulisan sejarah terdapat pula keterlibatan emosi. Di sini penulis sejarah perlu memiliki empati yang menyatukan dirinya dengan objek yang diteliti.

Pada penulisan sejarah zaman Romantik yaitu pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke19, sejarah dianggap sebagai cabang sastra.

Akibatnya, menulis sejarah disamakan dengan menulis sastra, artinya menulis sejarah harus dengan keterlibatan emosional.

Orang yang membaca Catatan seorang Demonstran harus dibuat seolah-olah hadir dan menyaksikan sendiri peristiwa itu.

Penulisnya harus berempati, menyatukan perasaan dengan objeknya. Diharapkan sejarawan dapat menghadirkan objeknya seolah-olah pembacanya mengalami sendiri peristiwa itu (Kuntowijoyo 2001:70-71).

Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah Gaya Bahasa. Dalam penulisan sejarah, sejarawan harus menggunakan gaya bahasa yang tidak berbelit-belit, tidak berbunga-bunga, tidak membosankan, komunikatif dan mudah dipahami. Khususnya dalam menghidupkan suatu kisah di masa lalu.

Di sini yang diperlukan adalah kemampuan menulis secara terperinci (detail). Berbeda dengan karya sastra, dalam penulisan sejarah harus berusaha memberikan informasi yang lengkap dan jelas.

Serta menghindari subjektivitas dan mengedepankan obyektivitas berdasarkan penggunaan metode penelitian yang tepat.

Namun, sejarah sebagai seni memiliki beberapa kekurangan yaitu sejarah sebagai seni akan kehilangan ketepatan dan obyektivitasnya.

Alasannya, seni merupakan hasil imajinasi. Sementara ketepatan dan obyektivitas merupakan hal yang diperlukan dalam penulisan sejarah.

Ketepatan berarti adanya kesesuaian antara fakta dan penulisan sejarah. Sedangkan obyektivitas berarti tidak ada pandangan yang individual.

Kedua hal itu menimbulkan kepercayaan orang pada sejarawan dan memberikan kesan penguasaan sejarawan atas detail tulisan sejarah.

Namun, kesan akan kedua hal itu akan hilang jika sejarah menjadi seni karena sejarah berdasarkan fakta dan seni merupakan hasil imajinasi.

Sejarah yang terlalu dekat seni pun dapat dianggap telah memalsukan fakta. Berkaitan dengan fakta dari peristiwa di masa lalu, muncul kesangsian apakah benar masa lalu pernah ada.

Mungkin saja masa lalu itu sebuah rekayasa, hasil khayalan kita atau fiksi. Bila kita menyangsikan adanya sesuatu dimasa silam, maka kita harus mempunyai gambaran mengenai dunia yang telah disangsikan tersebut kemudian merumuskan kesangsian tersebut.

Selain itu, juga kita harus menanyakan mengapa kita menyangsikan masa lalu itu.

Filsuf Bertrand Russel (1872-1970) Menuliskan bahwa segala kenang-kenangan kitaakan masa silam, ternyata diciptakan lima menit yang lalu.

Semua kenang-kenangan kita dan bahan historis serasi antara satu dan yang lainnya, sehingga Nampak seolaholah ada masa silam yang mendahului saat penciptaan itu. (Angkersmit 1987:77) .

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 391) fiksi adalah cerita rekaan, rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan, dan pernyataanyang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran.

Fiksi berbeda dengan sejarah, karena sejarah menyuguhkan fakta sedangkan fiksi menyuguhkan khayalan, imajinasi dan fantasi. Fiksi sejarah adalah sebuah karya fiksi yang di ilhami dari sejarah.

Melalui fiksi sejarah, seseorang akan diajak memahami sejarah dengan cara yang berbeda. Yang berfungsi untuk menghibur. Contoh fiksi sejarah antara lain Roro Mendut karya Y.B Mangunwijaya.

Di samping itu fiksi merupakan karya rekaan yang melibatkan imajinasi dan merupakan bagian dari seni.

Sejarah dapat juga disebut sebagai seni karena sejarah berhubungan dengan penyimpulan dan penulisan suatu peristiwa sejarah yang berhubungan dengan kaidah dan keindahan bahasa.

Kita mengenal adanya karya sastra (fiksi) yang berlatar belakang sejarah. Misalnya karya tetralogi Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca yang menggambarkan suasana Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Dalam karya-karyanya tersebut Pramoedya menghubungkan antara sejarah (realitas) dengan sastra (fiksi).

Berikutnya adalah Mithos dalam sejarah. Mithos merupakan bagian dari budaya sebagai bagian dari olah pikir manusia.

Daya ingat manusia terbatas. Baik sejarah maupun mitos, keduanya menceritakan masa lalu tetapi sejarah dan mitos adalah dua hal berbeda. Mithos berasal dari Bahasa Yunani, Mythos berarti dongeng.

Oleh karena merupakan dongeng, mithos biasanya menceritakan masa lalu dengan waktu yang tidak jelas serta kejadian yang tidak masuk akal.

Contoh mithos di Indonesia adalah kisah Kanjeng Ratu Kidul yang memiliki istana di dalam Laut Selatan dan menjadi permaisuri raja-raja Jawa.

Sebenarnya mithos tidak hanya dikenal di Jawa, di wilayah-wilayah lain di Indonesia juga mengenal mithos.

Meskipun kisah dalam mithos di luar rasio manusia ada saja orang Indonesia yang mempercayainya dan menyatakan bahwa itu merupakan peristiwa nyata, peristiwa faktual yang benar terjadi.

Hal itulah yang menurut Onghokham disebut mithos.

Meskipun mithos bukan sejarah tetapi mithos-mithos memiliki kegunaan sendiri. Ini menunjukkan bahwa Sejarah memang tidak ada dengan sendirinya.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Annisa Januarsi
Sumber : Edukasi Borneo