Pemerintah Kabupaten Ketapang menggelar Tabliq Akbar dalam Rangka Memperingati dan Memeriahkan Tahun Baru Islam 1444 Hijriyah pada yang diselenggarakan oleh Majelis Dzikir dan Shalawat Darul Murtadha.

Home > Edukasi

Melibatkan Orang Tua Dalam Pengambilan Keputusan, Kunci Sukses Pembelajaran Sekolah Penggerak Kurikulum Merdeka

01 Jul 2022, 10:27 WIB
Pembelajaran dalam kelas di SMA Plus Budi Utomo Makassar, Sulawesi Selatan, siswa dan guru senang menerapkan kurikulum merdeka sebagai sekolah penggerak sebab melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan dan siswa merasakan suasana baru serta pembelajaran yang efektif.(Ist/GTK Kemendikbudristek RI)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK – Kepala Sekolah SMA Plus Budi Utomo Makassar, Dede Nurohim mengatakan bahwa, program dari Kurikulum Merdeka yaitu Sekolah Penggerak dirasakan berdampak pada keterlibatan orang tua yang lebih aktif.

Selain itu, juga tercipta suasana baru dalam pembelajaran bagi siswa sehingga mendorong pembelajaran yang efektif.

Dede Nurohim menceritakan bagaimana upayanya membangun komunikasi dengan orang tua siswa di awal pandemi COVID-19.

Sekolah semi pesantren yang masuk dalam kategori sekolah penggerak ini termasuk salah satu sekolah yang terlambat memulangkan anak didik, karena pertimbangan pembelajaran yang tidak akan maksimal jika dilakukan jarak jauh.

Tentu faktor infrastruktur menjadi permasalahan yang utama.

“Kami termasuk sekolah yang paling telat mengembalikan anak-anak, karena kami membangun metode pembelajaran jarak jauh terlebih dahulu. Kami tahu, kalau sudah di rumah, terkadang orang tua sudah menuntut anak untuk membantu pekerjaan mereka. Jadi sebelum memulangkan anak, pertama kami mengadakan pertemuan dengan orang tua lewat zoom meeting, dan kami sampaikan bahwa selama di rumah siswa harus didampingi belajarnya,” ujarnya di Makassar, Rabu, 22 Juni 2022 lalu.

Ia menuturkan bahwa, komunikasi dan koordinasi dengan orang tua yang dibangun oleh sekolah bersifat dua arah.

Sekolah juga mendengarkan masukan, keluhan, dan kritik yang disampaikan oleh orang tua. Setiap dua minggu, tuturnya, ada evaluasi yang dilakukan dalam koordinasi sekolah dan orang tua.

“Kami sangat terbuka, dari masa pandemi yang walau pembelajaran tidak seefektif tatap muka, mereka tetap belajar. Dan sampai sekarang kalau anak-anak yang ada di asrama hari ini tidak masuk kelas, orang tua akan tahu di waktu yang sama melalui grup tersebut,” ungkapnya.

Baca Juga : Penerapan Guru Penggerak, Guru dan Murid Dituntut Untuk Melakukan Diferensiasi dan Berpusat Pada Peserta Didik


Komunikasi semakin terbangun setelah SMA Plus Budi Utomo mengimplementasikan kurikulum merdeka.

Visi misi kurikulum merdeka lanjut Dede, sejalan dengan visi yang sebelumnya sudah dibangun di sekolah tersebut. Terutama tentang karakter kemandirian.

Dede menyebut, lulusan di Budi Utomo yang berasal dari berbagai daerah membekali peserta didik dengan kecakapan hidup seperti menjahit untuk semua siswa. Namun, siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi pun cukup banyak dari sekolah ini.

“Kami berupaya supaya anak-anak ini walaupun tidak bisa kuliah, mereka tidak jadi beban di masyarakat. Mereka harus berdaya. Untuk itu kami mengutamakan anak-anak ini bisa mendapat sertifikat kecakapan hidup. Ada yang dari pesantren, dan ada yang dari Kemenaker,” jelasnya.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Sekolah SMPN 7 Makassar, Muhammad Nasir juga mengungkapkan hal senada, pihaknya memfasilitias orang tua siswa dan sekolah membangun paguyuban kelas.

Interaksi antarguru maupun dengan orang tua dilakukan di paguyuban kelas.

Salah satu komitmen yang digaungkan SMPN 7 Makassar bahwa, sekolah memfasilitasi pembelajaran yang menyenangkan, hak anak-anak terpenuhi, tidak ada pungutan liar, dan keberpihakan pada peserta didik dan orang tua.

“Sampai saat ini kami belum pernah mendengar komplain dari orang tua,” klaim Nasir.

“Komunikasi yang dibangun antara sekolah dan orang tua lebih intens ketika kurikulum merdeka diimplementasikan di SMPN 7 Makassar,” sebutnya.

Baca Juga : Tips Menerapkan Blended Learning Oleh Ibu Sela Guru SMAN 77 Jakarta

Pola belajar anak yang merdeka dan banyak kegiatan di luar kelas dirasakan anak-anak sangat menyenangkan. Kesenangan tersebut ternyata sampai ke orang tua saat anaknya semangat belajar.

“Terbukti, pada masa penerimaan peserta didik baru (PPDB), jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah ini meningkat signifikan. Sekarang PPDB membludak sampai 700 siswa yang mendaftar. Padahal, kuota di sini hanya 300an,” katanya.

 “Saya berharap dalam tiga tahun ini kurikulum merdeka bisa di implementasikan di semua jenjang, sehingga guru-guru tidak hanya memahami tetapi sudah bisa benar-benar mengimplementasi pembelajaran ber-diferensiasi. Kurikulum ini luar biasa,” pungkasnya. 

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Annisa Januarsi
Sumber : Edukasi Borneo