Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Edukasi

Menilik Kurikulum Merdeka di Sekolah Luar Biasa

17 Sep 2022, 09:03 WIB
Guru mendampingi siswa berkebutuhan khusus.(ebc/freepik)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK – Kurikulum Merdeka yang diterapkan Indonesia pada satuan pendidikannya tidak mengecualikan pada pendidikan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Prinsip penyusunan alur tujuan pembelajaran (ATP) di Sekolah Luar Biasa sama dengan satuan pendidikan reguler.

Sekolah Luar Biasa adalah

Nah, bagaimana penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Untuk mengetahui bagaimana pengaplikasiannya di lapangan Ditjen GTK Kemendikbudristek mencoba menjabarkan bagaimana capaian pembelajaran di SLB.

Pendidikan Khusus Memiliki Capaian Pembelajaran (CP)

Capaian Pembelajaran (CP) yang diterapkan di pendidikan khusus sama halnya dengan pendidikan reguler.

Capaian Pembelajaran (CP) pendidikan khusus disusun berdasarkan CP reguler yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Capaian Pembelajaran itu bersifat fleksibel karena dibuat secara global dan dapat diterapkan untuk semua ketunaan dengan patokan kondisi anak berhambatan intelektual.

Untuk peserta didik yang tidak memiliki hambatan intelektual, dapat tetap menggunakan capaian pembelajaran yang sama dengan satuan pendidikan reguler.

Baca Juga : Public Speaking for Teachers: Keterampilan Guru Era Modern


Apakah Peserta Didik di SLB Harus Menerapkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Peserta didik berkebutuhan khusus menerapkan projek penguatan profil pelajar Pancasila dengan mengusung tema yang tidak berbeda dengan satuan pendidikan reguler, hanya saja kedalaman materi dan aktivitasnya disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

Mata Pelajaran Keterampilan Memiliki Porsi Lebih Besar daripada Mata Pelajaran Lainnya

Mata pelajaran keterampilan untuk peserta didik berkebutuhan khusus memiliki porsi yang paling besar dibandingkan mata pelajaran lainnya.

Hal itu karena projeksi pendidikan adalah kemandirian, sehingga peserta didik disiapkan untuk menjadi lulusan siap kerja dan mampu berwirausaha.

Capaian pembelajaran mata pelajaran keterampilan tersebut didasarkan pada SK3PD (Standar Kompetensi Kerja Khusus bagi Penyandang Disabilitas) yang setara dengan SKKNI.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Annisa Januarsi
Sumber : Edukasi Borneo