Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Guru

Menumbuhkan Pendidikan Karakter Siswa

15 Jun 2022, 12:04 WIB
Ilustrasi Pelajar SD.(ebc/freepik)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Dalam dunia pendidikan, karakter adalah salah satu hal yang harus diperhatikan oleh kita semua.Karakter adalah salah satu modal pembentuk pribadi yang baik, bijaksana, bertanggung jawab, jujur, dan dapat menghargai satu dengan yang lainnya. 

Definisi Pendidikan, Karakter dan Pendidikan Karakter

Secara singkat, pendidikan adalah proses pembelajaran pengetahuan, kebiasaan, dan keterampilan dari diri manusia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses sosialisasi. 

Karakter adalah sifat atau watak, akhlak ataupun kepribadian dari seseorang yang mereka pelajari semasa mereka hidup.

Keberadaan karakter berarti keberadaan fondasi dari soft skill yang justru lebih menunjang tingkat kesuksesan seseorang dalam hidupnya kelak. Hal itu terkait kemampuan yang harus dimiliki setiap manusia yang harus dibangun terus menerus.

Pendidikan karakter secara formal adalah pendidikan yang sistematis dan terencana untuk mendidik, memberdayakan, dan mengembangkan peserta didik agar dapat maksimal dalam membangun karakter secara pribadi. Sehingga, individu dapat tumbuh menjadi individu yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bangsa, dan negara. 

Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter bertujuan untuk membangun dan membentuk penyempurnaan diri secara komprehensif, guna membentuk kemampuan diri individu.

Menurut Peraturan Presiden tentang penguatan pendidikan karakter (PPK) mengharuskan masyarakat untuk memperdalam nilai-nilai utama yakni, nasionalis, mandiri, religius, integritas, dan saling membantu atau gotong royong.

Nilai-nilai yang dibawa tersebut diharapkan dapat diterapkan di setiap lini khususnya pada sistem pendidikan kita sekarang ini. 

Alasan Pendidikan karakter sangat penting di Indonesia

Pada zaman dahulu, mungkin yang kita tahu peserta didik hanya membutuhkan pendidikan secara akademis, seperti berhitung, membaca, dan juga menulis.

Memang benar hal tersebut merupakan hal dasar yang diperlukan setiap individu, tetapi ada hal yang lebih penting untuk dipelajari, yaitu pendidikan karakter.

Pendidikan karakter dapat dikatakan sebagai pendidikan plus plus, karena pendidikan ini melibatkan berbagai macam aspek yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), dan juga aksi (tindakan).

Pendidikan karakter akan bekerja secara efektif dengan adanya tiga aspek ini.

Pendidikan karakter yang dilakukan secara sistematis dan konsisten akan melahirkan seorang individu dengan emosi yang cerdas.

Kecerdasaan emosi ini akan menjadi bekal bagi mereka untuk menjalani kehidupan bermasyarakat. Serta berguna pula untuk mengejar mimpinya karena setiap orang akan mengerti bagaimana cara menghadapi berbagai macam rintangan yang terjadi selama hidupnya.

Baca Juga : Manajemen Diri Bagi Guru


Fungsi Pendidikan Karakter

Fungsi dari pendidikan karakter diantaranya :

(1) Pengembangan, hal ini memberikan dampak pada potensi anak untuk menjadi seseorang yang memiliki perilaku baik

(2) Perbaikan, dimana pendidikan ini akan bertanggung jawab dalam memberikan pengetahuan tentang baik atau buruknya sesuatu

(3) Penyaring, hal ini berarti pendidikan akan menyaring hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai yang berlaku sehingga anak akan mencerna hal-hal yang baik saja

Berikut beberapa tips menumbuhkan pendidikan karakter di sekolah untuk memperkuat karakter siswa

1. Membangun Kembali Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan literasi sekolah merupakan suatu gerakan dalam menumbuhkan budi pekerti siswa yang bertujuan supaya siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga akan tercipta suatu pembelajaran sepanjang hayat.

Dalam penerapannya, gerakan literasi sekolah ini melibatkan semua warga sekolah, seperti guru, peserta didik, orang tua/wali murid, dan masyarakat setempat.

Gerakan literasi sekolah juga memiliki beberapa manfaat seperti memperkaya pengetahuan kosa kata, meningkatkan pemahaman pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa internasional diantaranya Bahasa Inggris, Mandarin, Jerman dan bahasa lainnya.

Menambah wawasan baru, meningkatkan kreatifitas siswa dalam menulis dan menyusun kata-kata, serta mengasah daya ingat melalui kegiatan membaca.

2. Melakukan Kegiatan Ekstrakurikuler

Beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dikembangkan seperti karya ilmiah, pramuka, kerohanian, seni dan olah raga.

Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler juga dapat melatih mental dan fisik siswa karena terlibat dalam suatu organisasi maupun komunitas.

Sehingga di masa yang akan datang siswa tersebut akan terbiasa dengan aktifitas yang memerlukan pemikiran dan tenaga lebih.

3. Melakukan Kegiatan Pembiasaan pada Awal dan Akhir KBM

Pada kegiatan ini, sekolah berperan penting dalam membentuk kebiasaan yang bersifat rutin. Dalam kegiatan ini, guru bertanggung jawab dalam terlaksananya kegiatan ini.

Adapun beberapa kegiatan yang bisa dilakukan secara rutin yaitu seperti melakukan apel di depan kelas, menyanyikan lagu Indonesia Raya atau Lagu Nasional, mengikuti kegiatan upacara bendera setiap Senin atau hari-hari penting lainnya dan berdoa sebelum dan setelah mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.

4. Membiasakan Perilaku Baik yang Bersifat Spontan

Apabila seseorang sudah terbiasa berperilaku baik, maka besar kemungkinan mereka pun akan melakukan kegiatan baik secara spontan. Hal itu bisa terjadi karena adanya kegiatan rutin di sekolah.

5. Menetapkan dan Menjalankan Tata Tertib Sekolah

Tata tertib di sekolah dijadikan sebagai patokan dan dasar atas tindakan semua warga sekolah.

Dalam pembuatannya, harus ada kesepakatan supaya tata tertib tersebut bisa dijalankan bersama.

Dengan begitu, situasi di sekolah akan berjalan dengan tertib dalam jangka waktu yang lama karena adanya program sekolah bisa berjalan sesuai dengan aturan main.

6. Menumbuhkan budaya LIMAS atau 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun)

Sebelumnya, apa yang dimaksud dengan budaya LIMAS? Budaya LIMAS juga bisa disebut sebagai lima budaya sekolah. Budaya LIMAS atau budaya sekolah dimaknai sebagai sebuah tradisi sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan visi dan misi sekolah.

Bisa juga dikatakan bahwa budaya sekolah berisi kebiasaan-kebiasaan yang telah disepakati bersama supaya bisa diterapkan dan dijalankan dalam jangka waktu yang lama.

Apabila kebiasaan positif sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter tersebut sangat diharapkan bisa membentuk karakter anak yang baik.

Baca Juga : 

Tiga Syarat Pendidikan Karakter Berjalan Efektif

Adapun tiga syarat pendidikan karakter menurut Doni Koesoemo supaya dapat berjalan secara efektif yaitu:

1. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Desain ini menerapkan interaksi antara guru dan siswa. Guru berperan sebagai seorang pendidik dan siswa berperan sebagai pelajar di kelas.

Proses pembelajaran ini, kegiatan belajar tidak boleh berjalan secara monolog, guru menerangkan materi pembelajaran dan siswa mendengar penjelasan guru.

Dalam desain pembelajaran ini, hubungan antar guru dan siswa harus ada interaksi. Karena dengan adanya interaksi tersebut, akan tercipta pemahaman selama proses belajar.

Dengan begitu, selain dapat meningkatkan kemampuan akademik siswa, desain pembelajaran ini juga dapat memancing keaktifan siswa di dalam kelas.

2. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

Pada desain pembelajaran ini, sekolah menekankan nilai-nilai kejujuran dan moral siswa. Untuk menanamkan pendidikan karakter, guru tidak hanya bertugas dalam memberikan pesan-pesan moral saja.

Dalam hal ini, pesan-pesan moral tersebut akan dibarengi dengan peraturan sekolah yang bersifat tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran siswa.

Selain itu, norma-norma yang diajarkan guru dapat membangun kultur sekolah yang dapat membentuk karakter siswa.

3. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas

Dalam menerapkan desain pendidikan karakter berbasis komunitas, sekolah tidak hanya berjuang secara sendirian saja.

Bukan hanya sekolah saja, tetapi masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum dan negara memiliki tanggung jawab moral untuk membangun pendidikan karakter siswa. 

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Bibiana, S.Pd (Guru SMA Negeri 2 Pontianak)
Sumber : Edukasi Borneo