Contoh Soal dan Kunci Jawaban UAS/PAS PKn SMA Kelas 10 Semester Ganjil Tahun Ajaran 2022-2023

Home > Kolom Opini

Merubah Pola Pikir

27 Sep 2021, 13:33 WIB
Dr Aswandi, Dosen FKIP Universitas Tanjung Pura.(EBC)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - James Artur Ray dalam bukunya The Science of Success menerangkan bahwa pola pikir sebagai segugusan keyakinan, nilai, identitas, eksspektasi, sikap, kebiasaan, opini dan pola pikir tentang diri Anda, orang lain dan hidup.

American Heritage Dictionary mendefinisikan pola pikir sebagai, a fixed mental attitude or disposition that predetermines to persons responses to and interpretation of situation.

Renald Kasali 2017 lalu dalam bukunya Disruption  menyatakan bahwa pola pikir (mindset) adalah baagaimana manusia berpikir yang ditentukan oleh setting yang dibuat sebelum ia berpikir dan bertindak.

Dua orang pakar mindset di bawah ini memberikan contoh pola pikir masa kini dan masa depan.

Baca Juga : Lonceng Kematian Pendidikan

John Naisbitt 2007 lalu dalam bukunya Mindset mengemukkan terdapat 11 pola pikir dibalik kesuksesan di masa depan, yakni: 

1. Meski banyak hal berubah, kebanyakan hal tetap konstan

2. Masa depan tertanam dimasa kini atau Tomorrow is Today or Future is Now

3. Fokus pada skor pertandingan

4. Memahami betapa menguntungkannya bila Anda tidak harus benar

5. Melihat masa depan sebagai potongan teka-teki

6. Jangan berada terlalu jauh di depan sampai-sampai orang tidak menganggap Anda bagian dari mereka

7. Resistensi terhadap perubahan berhenti, jika ada manfaat nyata

8. Hal yang kita perkirakan akan terjadi selalu terjadi lebih lambat

9. Hasil bukan diperoleh dari memecahkan masalah, melainkan dari mengekspoltasi peluang

10. Jangan menambah tanpa mengurangi

11. Jangan lupakan ekologi teknologi.

Baca Juga : Melawan Rasa Takut

Rhenald Kasali 2017 lalu mengemukakan terdapat 9 pola pikir di era disruptif, yakni:

1. Respons cepat, tidak terlambat. Lebih cepat lebih baik

2. Real time: begitu diterima segera diolah

3. Follow up: langsung ditindaklanjuti, tidak ditunda

4. Mencari jalan, bukan mati langkah

5. Mengendus informasi dan kebenaran, bukan menerima tanpa menguji

6. Menyelesaian parallel, bukan serial

7. Dukungan teknologi informasi, bukan manual

8. 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bukan dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore; dan

9. Connected atau terhubung, bukan terisolasi.

Baca Juga : Bahagia dan Sukses Mengajar di Kelas

George Bernard Shaw, progress is impossible without change and those who cannot change their minds cannot change anything.

Stephen Hawking 2010 dalam bukunya The Grand Design mengatakan bahwa, tiada konsep realitas kenyataan atau wujud yang independen dari gambaran atau teori yang ada dalam pikiran atau persepsi kita.

John Kehoe 2012 lalu dalam bukunya Mind Power menyatakan bahwa pikiran menciptakan realitas.

Harun Yahya mengatakan bahwa, realitas dipahami sebagaimana yang ada dalam pikiran.

Pola pikir menentukan pemahaman mengenai informasi yang diperolehnya dan bagaimana reaksinya, mempengaruhi cara menangani berbagai persoalan, menolong mendefinisikan mana peluang dan mana ancaman, menolong memilih prioritas, dan menentukan nasib seseorang di kemudian hari.

Pola pikir bagaikan tanah dimana hujan informasi dan tanaman tumbuh berbeda-beda tergantung pada pola pikir kita.

Filsuf Charles Handy mengatakan, pola pikir dibentuk oleh bagaimana kita melihat ruangan-ruangan di rumah.

Teori Atribusi menjelaskan, apa saja yang dipahami, bukan semata-mata dari apa yang kita pelajari, melainkan bagaimana kita memikirkannya.

John Naisbitt 2007 lalu mengatakan pikiran kita bisa membatasi penglihatan kita. Begitu rintangan disingkirkan, kita akan melihat yang terpampang di depan mata.

Mahatma Gandhi menngatakan bahwa, perhatikan pikiranmu karena ia akan menjadi kata-katamu. Perhatikan kata-katamu karena ia akan menjadi perbuatanmu. Perhatkan perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu, dan perhatikan karaktermu karena ia akan menjadi taqdirmu.

Namun sayangnya, pikiran manusia belum berfungsi secara maksimal sebagaimana dinyatakan Gardner dalam bukunya Unschool Mind menyatakan bahwa, pikiran kita masih tersandra dan tertidur nyenyak 90 persen karena berpikir belum disekolahkan.

Pakar kepribadian, Ibrahim El-Fiky mengatakan bahwa, sebanyak 80 persen dari pikiran manusia setiap harinya adalah negatif, berpengaruh pada perilakunya menjadi negatif.

Pakar manajemen, Peter F. Drucker seorang mengatakan bahwa turbulensi atau kekacauan sering terjadi akibat kesalahan berpikir dimana berpikir masa depan dengan cara berpikir kemarin.

Baca Juga : Mengenang Satu Tahun Wafatnya Malik Fadjar

Osborne & Plastrik 1995 lalu Banishing Bureaucracy mensinyalir banyak lembaga pemerintah tidak melayani masyarakatnya dengan baik, sementara lembaga swasta sebaliknya. Hal itu terjadi akibat dari kesalahan berpikir.

Pihak pemerintah berpikir bahwa keberlangsungan hidupnya ditentukan oleh dirinya, sementara pihak swasta berpikir bahwa kelangsungan hidup atau usahanya sangat ditentukan oleh masyarakat atau pelanggannya.

Jika kita ingin tetap bertahan hidup di era baru sekarang dan akan datang, maka mindset kita harus mengalami perubahan.

Terkait merubah pola pikir tersebut, pertanyaan sering disampaaikan kepada dari mana perubahan mindset bermula?

Perubahan pola pikir dapat dimulai melalui pemberian informasi sebanyak-banyaknya, baik melalui proses pendidikan, pembelajaran maupun pengalaman yang efektif.

Pemerintah Singapura meminta Edward De Bono seorang pakar Berpikir Literal menjadi konsultan di negerinya untuk membenahi kemampuan berpikir peserta didiknya.

Pakar Mindset, John Naisbit menceritakan pengalamannya dengan membaca koran lokal setiap hari, saya menangkap pola perubahan yang terjadi di seluruh negeri, dan sayapun menemukan kunci yang selama ini dicari-cari.

Menurut Naisbitt, sumber pengetahuan yang bagus untuk menyingkap masa depan adalah surat kabar.

Jimmy Carter, Obama, Donard Trump dan Bill Gate melakukan hal yang sama, yakni membuka harinya dengan membaca.

Prof Malik Fadjar selaku Mendikbud juga menceritakan pengalamannya merubah mindset mereka yang selalu menolak kehadiran dan kebijakannya sebagai rektor baru di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni memberikan kesempatan kepada kelompok yang menolaknya untuk melakukan studi banding.

Dari pengalaman mereka, kembali penulis tegaskan bahwa perubahan pola pikir dapat dimulai melalui proses pendidikan, pembelajaran dan pengalaman yang efektif.

Asumsi tersebut dibenarkan oleh Richard Hall yang dikenal penggagas model Concern Base Adoption Model (CBAM) yang menyatakan bahwa, setiap perubahan pola pikir (mindset) dimulai dari: awareness, information and personal.

Budaya terus belajar berpengaruh besar terhadap perubahan pola pikir, wujudnya antara lain: gemar membaca, termasuk membaca surat kabar atau berita di media sosial misalnya.

Selain membaca berita, baik yang ada di koran maupun di media social lain, perubahan pola pikir akan efektif dilakukan melalui forum diskusi yang dilaksanakan secara rutin membahas persoalan kontemporer, baik mengenai permasalahan dalam pekerjaan di kantor, masalah pembelajaran di kampus atau sekolah maupun masalah kehidupan lainnya di masyarakat.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Aswandi, Dosen FKIP Universitas Tanjung Pura
Sumber : Edukasi Borneo