Thursday, 23/09 07:32:08
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat dan IAIN Pontianak menargetkan 3.000 mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kalbaar mengikuti vaksinasi mahasiswa nasional yang dibuka Presiden Joko Widodo secara virtual dengan penyelenggaraan.

Home > Kolom Opini

Momen Revolusi Setelah Pandemi COVID-19

26 Apr 2021, 10:36 WIB
Dosen & CEO Edukasi Borneo, Pitalis Mawardi B, S.Pd, M.Pd, Ph.D,c(EBC)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Mendengar bahasan tentang Corona Virus Disease atau  COVID-19, sebuah virus yang menjadi pandemi dunia saat ini mungkin sudah menjadi hal yang familiar di tengah masyarakat.

Virus itu jelas tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan sampai saat ini penyebarannya belum terkendali.

Korban pun sudah berjatuhan  mulai dari puluhan ribu, belasan ribu, dan bahkan ratusan ribu,  angka pasti tidak ditampilkan, karena pembaca dapat mengaksesnya dengan mudah di media dan berbagai sumber.

Dampak sebenarnya tidak hanya persoalan kesehatan. Namun juga pada berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, politik, serta tak ketinggalan persoalan agama.

Baca Juga : Menuntaskan Masalah Klasik Pendidikan Kita Untuk SDM Unggul dan Berdaya

Sejak awal kemunculan COVID 19 di Wuhan November 2019 lalu,  virus tersebut telah menjadi trending dalam pemberitaan media, mulai dari isu teori konspirasi senjata biologis, isu perang dagang Amerika dan China, hingga sekadar obrolan hangat di grup whatsapp.

Yang menarik adalah sikap masyarakat kita yang hingga kini masih acuh dan  seolah - olah  menjadi absurd. Ya, absurd atau yang sering direfresentasikan dengan istilah tidak jelas.

Persis begitulah sebagaimana yang digambarkan Albert Camus  (1947) dalam  The Plague, sebuah novel klasik yang sudah sangat lama, bahkan penulis pun belum lahir,  namun entah relevan atau tidak, kondisinya sama seperti sekarang ketika dunia menghadapi pandemi COVID 19.

Dalam novel tersebut menceritakan bagaimana sikap dan pandangan manusia dalam menghadapi absurditas ketidakpastian, krisis, ketakutan, kepanikan dan kematian. Absurditas inilah yang mengacaukan cara berpikir kita.

COVID-19 dapat menginfeksi semua kalangan dan siapapun: mau itu pejabat, agamawan, orang baik, orang jahat, dan atheis sekalipun tidak akan luput. Ini artinya pemikiran, nilai dan norma manusia menjadi sangat relatif.

Absurditas sungguh telah terjadi. Sebelumnya, tanpa bermaksud menjustifikasi. Pada awal kemunculan COVID-19 di awal 2020 lalu, pemerintah melalui Menkes menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu takut akan COVID-19.

Bersamaan dengan hal itu, kemudian muncul banyak perbandingan. Misal, COVID-19 tidak lebih berbahaya dari flu atau DBD yang telah banyak membunuh banyak orang.

Alhasil, sekarang agaknya pemerintah berbalik arah, setelah melihat fakta yang terjadi. COVID-19 sudah ditetapkan sebagai bencana nasional non alam dan bahkan menjadi bencana dunia.

Dari awal wabah itu merebak hingga kini, masyarakat dihimbau tidak melakukan kegiatan yang menyebabkan perkumpulan, termasuk juga dalam hal ibadah. Dengan demikian tidak ada yang berani mengatakan tidak perlu khawatir tentang COVID-19.

Namun benarkah tidak ada yang mengatakan hal demikian? Bukankah prilaku manusia berbeda-beda. Meski himbauan dan arahan pemerintah telah jelas, namun masih ada yang tidak mengindahkan, atau bahkan berlawanan.

Bukan hanya dari sisi agamawan yang biasanya berpendapat bahwa yang ditakutkan adalah Tuhan bukan COVID-19, sehingga mereka berpendapat dengan berdoa bersama maka sebaran virus akan berlalu.

Baca Juga : Paradigma Kepemimpinan Dalam Era Millenial

Menurut Noah Harhari dalam In the Battle Against Corona virus, Humanity Lacks Leadership diungkapkannya bahwa pernah terjadi wabah black death pada abad ke-14. Ketika itu manusia percaya bahwa dengan berdoa membuat wabah itu berhenti. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, justru wabah tersebut menyebar secara massal.

Sikap absurd juga terjadi dalam masyarakat perkotaan, yang sebenarnya memiliki gaya hidup yang sudah modern. Contohnya yang terjadi di beberapa kota Provinsi Kalimantan Barat.

Meskipun pemerintah daerah terus menerus memberikan warning terkait COVID-19, bahkan menurunkan aparat polisi dan Satpol PP.  Namun tampaknya kini anak-anak muda yang berkumpul di warung kopi, nongkrong di cafe atau orang tua yang mengajak anaknya bermain di mall sudah semakin tidak aware.

Pantas saja kini Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang ditetapkan Pemerintah Pusat menjadi daerah PPKM berskala mikro.

Membandingkan COVID-19 dengan penyakit lainnya karena hanya dilihat dari jumlah kematian, tanpa memperhitungkan faktor lain misalnya kesiapan, penyebaran, kondisi sosial adalah cara berpikir yang kurang tepat.

Jika yang dibandingkan hanya jumlah kematian, maka COVID-19 tidak ada apa-apanya dengan kanker. Meski logis, namun hal itu tidak tepat. Di samping itu, terkait masyarakat yang belum aware tentang COVID-19 tidak lepas karena kesadaran dan pola pikir yang kadang tidak sesuai konteks.

“Ah sudahlah, kalau kena corona ya sudah, sudah takdir, pasrah saja kepada yang kuasa.” Demikian biasanya tanggapan masyarakat.

Pemikiran seperti itu mungkin kurang tepat pada kondisi sekarang. Menghubungkan dengan sederhana antara takdir dengan tidak menjaga diri di tengah pandemi COVID-19 bukanlah sesuatu yang bijak.

Seringkali, persoalan agama yang bersifat spiritual didekati dengan rasionalitas. Namun sebaliknya sesuatu yang sangat rasional justru didekati dengan cara berpikir spiritual. Hal itu membuat kacau balau dalam kehidupan sosial masyarakat.

Baca Juga : Hikmah Pandemi dan Tantangan Milenial Dalam Era Society 5.0

Untuk menghadapi pandemi COVID-19, perlu kiranya masyarakat menggunakan pola berpikir yang rasionalistis. Dalam perspektif optimis, adanya wabah COVID-19 mengajak kita semua bersiap menghadapi revolusi besar untuk menatap masa depan.

Mungkin, beberapa tahun lalu bekerja dari rumah atau istilah kerennya work from home sebagai bagian  revolusi 4.0 hanya merupakan impian bahkan mungkin sebuah ilusi belaka untuk diterapkan di Indonesia. Namun ketika COVID-19 mewabah di dunia hal itu menjadi kenyataan.

Yang sangat mengejutkan, ramalan Klaus Schwab bahwa revolusi industri 4.0 akan dimotori oleh Internet of thing dan kemajuan teknologi ternyata keliru, faktor pendorongnya ternyata pandemi bukan kemajuan industri.

Ternyata pandemi memicu manusia bergerak menuju revolusi kehidupan industri baru.  Selain itu, ditengah  pandemi yang masih belum terkendali. Peran dan kehadiran media menjadi sangat sentral dengan keharusan menebar berita positif, untuk memberikan  semangat dan optimisme masyarakat.

Namun dibalik wabah pandemic, ada hal yang menarik dan patut kita syukuri yaitu kesadaran pola hidup sehat masyarakat menjadi meningkat. Pertanyaan selanjutnya, apakah bisa masyarakat mempertahankan budaya hidup sehat tersebut secara terus menerus, dalam artian konsisten? Budaya Inilah yang kemudian perlu menjadi atensi dan penguatan dari stakeholder.

Pemerintah juga harus konsisten, alias jangan plin - plan.  Masyarakat harus di edukasi, bahwa tidak harus menunggu sakit untuk memiliki budaya hidup sehat. Seperti kata pepatah lama, sedia payung sebelum hujan.

Bukan pesimis, sayangnya kita belum terbiasa dengan hal ini. Kita lebih senang menyediakan payung ketika sudah banjir bandang.

Pada akhirnya, pola hidup sehat harus diterapkan bukan hanya ketika ada pandemi, namun harus menjadi budaya.

Kabar baiknya, kini perlahan program vaksinasi COVID-19 sudah mulai berjalan. Walaupun mungkin butuh minimal 2 tahun untuk menuntaskan vaksinasi penduduk yang jumlahnya kurang lebih 260 juta jiwa ini.

Namun, vaksinasi merupakan sebuah jawaban dan harapan kita bersama agar kehidupan kembali normal seperti sedia kala.  Meskipun hal itu tidak bisa menjamin kita, tidak terjangkit COVID-19.

Sebagaimana pesan moral dari novel The Plague, meski virus tidak akan pernah benar-benar hilang dan manusia tidak akan pernah terhindar dari sakit, namun hidup yang berkualitas harus diperjuangkan. Semoga.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Pitalis Mawardi B, S.Pd, M.Pd, Ph.D,c (Dosen & CEO Edukasi Borneo)
Sumber : Edukasi Borneo