Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Opini

Pakar Limbah Padat Mengingatkan Masyarakan akan Bahaya Sampah Plastik yang Sulit Terurai

24 Apr 2022, 05:15 WIB
Ilustrasi sampah.(Ist/Ditjen Dikti Kemendikbudristek)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Pakar di Bidang Pengolahan Limbah Padat dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Warmadewanthi menyatakan bahwa, sampah plastik sangat berbahaya bagi lingkungan karena sulit terurai.

Dosen yang akrab disapa Warma itu mengingatkan bahwa, komponen sampah plastik dapat terpecah menjadi mikroplastik ataupun nano plastik yang bisa memengaruhi kualitas air bersih.

Bahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan ITS bersama Institute for Global Environmental Strategies (IGES) Jepang, sampah plastik yang masuk ke badan air pada tahun 2020 sampai 2021 hampir mencapai 32 persen.

“Komposisi sampah plastik sekali pakai adalah yang paling tinggi dibandingkan jenis sampah plastik lainnya,” ujar dosen Departemen Teknik Lingkungan itu.

Meski Surabaya terkenal sebagai kota terbaik dalam pengelolaan sampah, lanjut Warma sistem pengumpulan sampah di Surabaya juga belum mencapai 100 persen. Hal itu yang menyebabkan sampah tercecer dan memungkinkan sampah masuk ke badan air.

Pencemaran menjadi lebih parah ketika sampah plastik sampai ke hilir, khususnya perbatasan sungai dan pantai, karena berpotensi menyebabkan kematian bakau dan biota.

Sampah plastik memang bisa didaur ulang. Namun, plastik sekali pakai memiliki persentase pemanfaatan yang sangat kecil. Hal ini membuat sampah plastik sekali pakai tidak laku untuk didaur ulang dan harga jualnya rendah.

“Sampah plastik sekali pakai seperti kantong kresek, hampir tidak bisa dimanfaatkan kembali, padahal jumlahnya banyak,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dosen yang menamatkan doktoralnya di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) itu menganggap, kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik bisa menjadi alat yang efektif untuk mengurangi dampak pencemaran sampah plastik sekali pakai.

Meski tak memungkiri, banyak metode pendukung lain seperti bank sampah dan sosialisasi masyarakat untuk mendaur ulang.

Hingga saat ini wilayah yang menerapkan peraturan larangan penggunaan plastik ialah wilayah Surabaya.

Ia menegaskan, keefektifan peraturan tersebut akan sesuai dengan implementasinya. Kebijakan harus disertai monitoring serta penegakkan sanksi dan imbalan yang tegas.

Tak lupa, Warma mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda sebagai agen perubahan untuk turut serta mengampanyekan pengurangan sampah plastik sekali pakai.

“Bersama-sama kita dukung pemerintah dengan menaati aturan tersebut,” tukasnya.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Annisa Januarsi
Sumber : Ditjen Dikti Kemendikbudristek