Monday, 21/06 09:03:43
Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat mengatakan hingga Sabtu 19 Juni 2021, jumlah pasien terkonfirmasi COVID-19 di daerah Singkawang mencapai 723 orang.

Home > Kolom Opini

Pandemi dan Nasib Madrasah Swasta

10 Jun 2021, 11:49 WIB
Dosen IAIN Pontianak, Dr (Cand) Syamsul Kurniawan S Th I, M S I.(Ist)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Di negara ini, jumlah madrasah negeri jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah madrasah swasta.

Hal itu karena antusias masyarakat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam ini sangat besar.

Sehingga meskipun kemampuan negara untuk menegerikan madrasah terbatas, jumlah madrasah bisa dibilang cukup banyak.

Terlepas dari apakah madrasah yang didirikan tersebut masuk ke dalam kategori berkualitas atau tidak.

Pada konteks ini, memang tidak sedikit dari masyarakat yang merelakan tanahnya untuk diwaqafkan menjadi madrasah.

Begitupula sebagian yang lain, yang mensupport pembangunannya dengan dana dari hasil patungan.

Bukannya negara tidak perhatian pada sebagian madrasah-madrasah swasta itu, tetapi porsinya jelas tidak sebesar perhatian negara pada madrasah-madrasah negeri.

Baca Juga : Umat Islam dan Pendalaman Ilmu Kesehatan

Bergantung dari modal sosial

Dalam hal ini, madrasah-madrasah swasta memang banyak bergantung pada ada atau tidaknya modal sosial.

Modal sosial adalah serangkaian nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang saling terkait, yang didasarkan pada nilai jaringan sosial.

Menurut Fukuyama 2002 lalu, modal sosial merupakan suatu kapabilitas yang muncul dari kepercayaan di dalam sebuah masyarakat secara umum.

Sebagai modal sosial yang penting dalam tumbuh suburnya kuantitas madrasah, jelas prakarsa dan peran serta masyarakat yang demikian besar dalam bidang pertumbuhan madrasah tersebut, patut dihargai.

Namun tentu saja, untuk menjamin agar kuantitas madrasah yang banyak itu juga diikuti dengan kualitasnya yang baik, modal sosial itu jelas perlu terus dirawat.

Apalagi, pendidikan yang maju dan berkualitas membutuhkan biaya yang mahal.

Tanpa prasarana dan sarana yang memadai, bukan tidak mungkin madrasah yang banyak didirikan tersebut akan ketinggalan dengan lajunya perkembangan zaman.

Saat pandemi COVID-19 ini misalnya, bukan satu atau dua madrasah yang bisa dipastikan terpukul karena kewajibannya memberlangsungkan kegiatan belajar mengajar terkendala prasarana dan sarana mereka yang kurang memadai untuk daring.

Jikalau pandemi berlangsung lebih lama lagi, sementara mereka masih terkendala permasalahan prasarana atau sarana, bukan tidak mungkin perlahan-lahan madrasah itu ditinggalkan siswa dan hanya tinggal nama saja.

Baca Juga : Pembelajaran PAI di Masa Pandemi, Quo Vadis?

Distingsi

Lokasi madrasah kebanyakan di daerah pedesaan, perkampungan, pinggiran, dan di daerah kumuh.

Kenyataan itu menunjukkan madrasah akrab dengan ranah kelas dari kelompok sosial yang kurang beruntung.

Lebih-lebih lagi sebagian besar madrasah berstatus swasta.

Selebihnya adalah madrasah negeri yang pengelolaannya di bawah Kementerian Agama.

Madrasah negeri saja sebagian besar berada di daerah sub urban atau kota pinggiran.

Pada umumnya madrasah swasta berada dalam keadaan serba kekurangan karena sebagaimana yang telah penulis sebutkan di atas, amat mengandalkan modal sosial.

Sementara dari modal sosial yang amat terbatas itu, umumnya madrasah juga didirikan terutama untuk menampung siswa-siswi dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah.

Sehingga, seringkali biaya pendidikan yang tinggi tidak mampu dipenuhi oleh madrasah, dan menjadikan siswa-siswi yang belajar di madrasah pun harus puas dengan kualitas pendidikan yang biasa-biasa saja.

Solusinya adalah ketika madrasah-madrasah itu berhasil di negerikan, sehingga tidak hanya mendapat support dari modal sosial tetapi juga dari pemerintah.

Tetapi tentu saja, keterbatasan negara untuk menegerikan semua madrasah juga harus dipahami.

Oleh karena keterbatasan itu, satu hal yang barangkali bisa dilakukan adalah berharap ada komitmen yang adil dari negara.

Yang harusnya tidak hanya mensupport pengembangan madrasah negeri tetapi swasta juga.

Terutama madrasah-madrasah swasta yang kurang support dana dalam pengembangannya.

Besar harapan kita, semua madrasah yang ada betul-betul hebat dan bermartabat tanpa terkecuali.

Sebagaimana slogan yang sering kita baca dari promosi negara untuk madrasah.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Dr (Cand.) Syamsul Kurniawan, S.Th.I., M.S.I (Dosen IAIN Pontianak)
Sumber : Edukasi Borneo