Monday, 21/06 08:35:52
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Harisson menegaskan pihaknya hanya akan menggunakan angka kematian COVID-19 yang benar-benar meninggal karena COVID-19, bukan karena penyakit bawaan yang terdeteksi oleh COVID-19.

Home > Kolom Opini

Peran Sentral Universitas Menuju Indonesia Emas 2045

10 Jun 2021, 10:28 WIB
Dosen & CEO Edukasi Borneo, Pitalis Mawardi B, S.Pd, M.Pd, Ph.D,c(EBC)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Fase menempuh pendidikan di perguruan tinggi (PT) atau universitas merupakan fase krusial. Mengingat perguruan tinggi memang di desain untuk mencetak SDM (sumber daya manusia), kompeten dan terspesialisasi yang mampu mengisi seluruh sektor kehidupan ekonomi dan sosial.

Ketika akses menuju PT semakin mudah, dengan sendirinya diperlukan kesiapan aspek kelembagaan dan tenaga pengajar yang berkualitas, karena tugas PT ialah menyiapkan generasi emas 2045 kelak.

Sebab, tidak ada jalan lain hanya dengan pendidikanlah cara untuk meningkatkan standar kesejahteraan masyarakat, melalui pemberdayaan intelektual dan keterampilannya, dengan tetap mengedepankan mental spiritualnya. 

Keberadaan PT sangat strategis bila dihubungkan dengan aspek sosial, ekonomi, dan utamanya intelektual. Nilai sosial mencakup perluasan jangkauan dan peningkatan keterjangkauan pendidikan tinggi sehingga dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat, dari strata mana pun.

Nilai ekonominya, mencakup penciptaan SDM yang kompeten dan match atau selaras dengan sektor industri. Caranya melalui transfer pengetahuan dan keterampilan teknis yang terus diperbarui. Selaras dengan lingkungan yang juga dinamis.

Nilai intelektual mencakup penguatan disiplin pengetahuan yang bertumpu pada peningkatan kualitas dan keunggulan penelitian, dengan dukungan penuh aspek kemitraan, hingga akhirnya akan meningkatkan kualitas SDM yang bermoral.

Baca Juga : Mewujudkan Gerakan Literasi Nasional

Berdasarkan data lembaga kredibel,United Nation Development Programme (UNDP). Indonesia berada pada golongan negara dengan perkembangan sumber daya manusia yang tinggi.

Akan tetapi, nilai human development index (HDI) Indonesia 0,707 dan berada pada peringkat ke 111 dunia. Jika dibandingkan dengan negara tetangga kita seperti Filipina di peringkat ke 106, Thailand ke 77, dan Malaysia ke 61, ternyata kita masih tertinggal jauh.

Mengapa peringkat HDI kita masih rendah? Karena jumlah pengangguran di negeri ini masih yang cukup tinggi. Melansir dari data BPS,  angkatan kerja Indonesia saat ini berjumlah 137,91 juta orang dan yang menganggur sebesar 9,77 juta orang.

Dari jumlah pengangguran itu, sebanyak 2,56 juta di antaranya terjadi satu tahun terakhir, bersamaan dengan masa pandemi COVID-19. Artinya angka pengangguran meningkat dari 5,23%, menjadi 7,07%.

Menurut para ekonom, Indonesia masih sulit lepas dari jebakan middle income trapKita masih akan lama terjebak sebagai negara berkembang dan masih sulit untuk naik level sebagai negara maju, kecuali jika kita serius merevolusi sistem pengelolaan pendidikan.

Pada saat ini, yang perlu di respon cepat ialah kenyataan bahwa, masih adanya kesenjangan pendidikan di kelompok sosial yang marginal dan belum meratanya distribusi perguruan tinggi di seluruh wilayah pelosok negeri.

Belum lagi, soal kesiapan lulusan dengan kualitas beragam yang umumnya memiliki kesulitan ketika mau masuk ke sektor industri. Kualitas lulusan perguruan tinggi yang tidak merata tidak bisa dilepaskan dari beragamnya kualitas universitas di tanah air. 

Hal tersebut berkaitan dengan sulitnya hasil atau produk penelitian perguruan tinggi bersaing dalam percaturan ilmiah global. Institusi perguruan tinggi jadi penentu maju tidaknya suatu negara mengingat peran sentralnya dalam mencetak SDM unggulan.

Melansir data yang dirilis lembaga pemeringkatan perguruan tinggi, seperti Webometrics atau Scimago, peringkat PT di Indonesia, baik negeri maupun swasta,  posisi PT dalam negeri  belum beranjak naik.

Apalagi jika dibandingkan dengan PT negara-negara yang usia kemerdekaannya hampir sama, seperti Korea Selatan dan Malaysia. Karena itulah, perguruan tinggi dalam negeri perlu memacu diri agar bisa mendorong realisasi visi 2045 Indonesia Emas.

Perlu diperhatikan, faktor apa saja yang bisa mendorong kemajuan perguruan tinggi hingga mampu go internationalSalah satu gagasan program yang bisa dicoba ialah penguatan kolaborasi dengan institusi internasional yang bereputasi. Bisa melalui program dual degrees, twinning degrees, proyek penelitian, dan pertukaran mahasiswa dan pengajar.

Kolaborasi lain yang bisa dilakukan ialah inovasi pengembangan kurikulum yang berpusat pada mahasiswa (student oriented) dan sistem pembelajaran virtual yang peluangnya justru terbuka lebar dalam kondisi pandemi sekarang meski sampai tahun kedua pandemi ini pendidikan ala virtual kita masih gagap.

Baca Juga : Catatan dan Refleksi Momentum Hari Pendidikan Nasional  

Riset Colaboration Perguruan Tinggi Dalam dan Luar Negeri

Satu diantara tonggak utama kemajuan perguruan tinggi ialah kualitas riset atau penelitian. Karena itu, dosen dan mahasiswa harus semangat untuk memacu penelitian yang berkualitas. Program hibah penelitian, misalnya, harus menjadi budaya kompetisi untuk menunjukkan kualitas penelitian. Bukan semata untuk mengejar uang proyek atau pengumpulan kredit untuk naik pangkat.

Ruang lingkup penelitian sebaiknya merambah ke area keahlian interdisipliner baru, membuka peluang bagi penciptaan pengetahuan baru, dan relevan bagi kemajuan Indonesia.

Bidang bioscience, nanoteknologi, material komposit, aeronautika, propelant, energi terbarukan, stem cell, dan teknologi ramah lingkungan salah satu contoh sektor yang sangat menantang untuk dikembangkan pengetahuan dan teknologinya, yang muaranya akan menjadi pondasi proses transformasi sistem pendidikan.

Antar universitas bisa bersinergi, menggabungkan keunggulan masing-masing untuk riset bersama. Dengan demikian, riset bisa lebih terfokus, terintegrasi, menjangkau lebih banyak perguruan tinggi dan lebih hemat biaya.

Baca Juga : Momen Revolusi Setelah Pandemi COVID-19

Contoh mutahir, yang membangkitkan harapan ialah gotong royong atau kolaborasi riset oleh beberapa perguruan tinggi yang sukses menghasilkan temuan untuk mengatasi pandemi COVID-19. Seperti ventilator, GeNose, robot perawat, tes antigen, vaksin, donor plasma, metode stem cell, sampai pemetaan genome varian baru mutasi virus.

Peluang kolaborasi itu tidak terbatas antar perguruan tinggi dalam negeri, tetapi PT luar negeri yang berkualitas. PT kita diharapkan tidak hanya jago kandang, tetapi juga jago di kancah internasional. 

Selama ini, mungkin kita merasa sistem pendidikan kita baik-baik saja karena merasa cukup dengan segelintir perguruan tinggi yang masuk rangking 1.000 atau bahkan 500 perguruan tinggi terbaik dunia.

Dihajar pandemi, semua sektor kehidupan berubah total babak belur, tak terkecuali sektor pendidikan. 

Pandemi memaksa hampir semua perguruan tinggi beradaptasi, menemukan cara dan format baru yang pas agar proses pendidikan tetap bisa berlangsung dalam situasi pandemi. 

Harapannya, pergeseran paradigma yang dialami berbagai sektor di seluruh dunia kali ini bisa menjadi peluang kolaboratif dan sinergis.

Hingga bisa menjadi turbin dalam mewujudkan generasi Indonesia emas 2045.

Semoga.  

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Pitalis Mawardi B, S.Pd, M.Pd, Ph.D,c (Dosen & CEO Edukasi Borneo)
Sumber : Edukasi Borneo