Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Edukasi

PKWU Kelas 12 Semester Genap Perencanaan Usaha Pengolahan Makanan Fungsional

16 Jun 2022, 13:40 WIB
Ilustrasi Makanan.(ebc/freepik)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK -  Materi Prakarya dan Kewirausahaan kelas 12 semester genap dalam buku prakarya dan kewirausahaan Bab 8 Wirausaha Pengolahan Makanan Fungsional bagian Perencanaan Usaha Pengolahan Makanan Fungsional.

Industri makanan adalah industri yang terkait dengan ketersediaan makanan dan minuman, untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi manusia. Sedangkan industri kesehatan adalah industri terkait ketersediaan obat-obatan, untuk mencegah, menyembuhkan, dan memulihkan dari penyakit.

Produk kesehatan ada yang masuk pada area industri makanan dan ada juga yang masuk pada area industri kesehatan. Makanan fungsional termasuk pada kategori industri makanan, sedangkan suplemen kesehatan masuk pada kategori industri kesehatan.

Makanan fungsional masuk pada kategori industri makanan, tetapi di BPOM masuk pada kategori Pangan Khusus (PK). Sebab makanan fungsional mempunyai efek dan klaim khusus.

Perizinannya pun agak berbeda dengan makanan biasa, dan termasuk pada kategori high risk (beresiko tinggi), sehingga saat inspeksi ke tempat produksi, BPOM akan memastikan bahwa line produksi dan hal lainnya sesuai dengan aturan Cara Pengolahan Makanan yang Baik (CPPB).

Produk Kesehatan Khas Daerah

1. Makanan Fungsional

2. Suplemen Kesehatan

Makanan fungsional dibedakan dari suplemen makanan atau obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Bila fungsi obat terhadap penyakit bersifat kuratif, maka makanan fungsional lebih bersifat pencegahan terhadap penyakit.

Berbagai jenis makanan fungsional telah beredar di pasaran, mulai dari produk susu probiotik tradisional seperti yoghurt dan kei r, sampai produk susu rendah lemak siap dikonsumsi yang mengandung serat larut.

Juga produk yang mengandung ekstrak serat yang bersifat larut yang berfungsi menurunkan kolesterol dan mencegah obesitas.

Untuk minuman, telah tersedia berbagai minuman yang berkhasiat menyehatkan tubuh yang mengandung komponen aktif rempah-rempah, seperti kunyit asam, minuman sari jahe, sari temu lawak, beras kencur, serbat, dan bandrek.

Walaupun mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan manusia, makanan fungsional tidak dikategorikan pada obat, sehingga bentuknya tidak berbentuk tablet, kapsul atau serbuk obat.

Makanan fungsional tetap berbentuk makanan, maupun minuman, tanpa ada dosis penggunaannya. Bila obat berfungsi untuk mengobati suatu penyakit, maka makanan fungsional lebih berfungsi pada pencegahan, penurunan, dan perlambatan terhadap suatu penyakit. Jadi, pada makanan fungsional tidak boleh disebutkan untuk mengobati.

Industri makanan di Indonesia, semakin hari semakin banyak yang melirik industri makanan fungsional, baik untuk dijadikan makanan maupun minuman. Hal ini tentu terkait dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Di bawah ini beberapa contoh makanan fungsional, baik makanan maupun minuman

Indonesia memiliki keragaman hayati yang sebagian diolah secara tradisional menjadi jamu atau obat-obatan tradisional, dan saat ini sebagian mulai dikembangkan menjadi makanan fungsional. Peranan dari makanan fungsional bagi tubuh semata-mata bertumpu kepada komponen gizi dan non gizi yang terkandung didalamnya. Komponen[1]komponen tersebut umumnya berupa komponen aktif yang keberadaannya dalam makanan bisa terjadi secara alami, akibat penambahan dari luar, atau karena proses pengolahan (akibat reaksi-reaksi kimia tertentu atau aktivitas mikroorganisme). Makanan fungsional tidak sama dengan food supplement atau obat. Makanan fungsional dapat dikonsumsi tanpa dosis tertentu, dapat dinikmati sebagaimana makanan pada umumnya, serta lezat dan bergizi.

Tabel Makanan Fungsional

Dengan semakin berkembangnya industri makanan fungsional, maka setiap negara membuat aturan yang semakin ketat terhadap perizinan dan pengawasannya.

Jepang merupakan negara yang paling tegas dalam memberi batasan mengenai makanan fungsional, paling maju dalam perkembangan industrinya.

Para ilmuwan Jepang menekankan pada tiga fungsi dasar makanan fungsional, yaitu :

1. Sensory (warna dan penampilannya yang menarik dan cita rasanya yang enak)

2. Nutritional (bernilai gizi tinggi)

3. Physiological (memberikan pengaruh i siologis yang menguntungkan bagi tubuh).

Beberapa fungsi isiologis yang diharapkan didapatkan dari makanan fungsional, antara lain adalah :

1. Pencegahan dari timbulnya penyakit

2. Meningkatnya daya tahan tubuh

3. Regulasi kondisi ritme i sik tubuh

4. Memperlambat proses penuaan

5. Menyehatkan kembali (recovery)

Fungsi makanan yang utama bagi manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan bobot tubuh. Fungsi makanan yang demikian dikenal dengan istilah fungsi primer (primary function).

Selain memiliki fungsi primer, bahan makanan sebaiknya juga memenuhi fungsi sekunder (secondary function), yaitu memiliki penampakan dan cita rasa yang baik. Sebab, bagaimanapun tingginya kandungan gizi suatu bahan makanan, akan ditolak oleh konsumen bila penampakan dan cita rasanya tidak menarik dan memenuhi selera konsumennya.

Itulah sebabnya kemasan dan cita rasa menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu bahan makanan akan diterima atau tidak oleh masyarakat konsumen. Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan makanan juga kian bergeser.

Bahan makanan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi i siologis tertentu bagi tubuh. Fungsi yang demikian dikenal sebagai fungsi tertier (tertiary function).

Makanan fungsional ini banyak terlahir di hampir setiap daerah di Indonesia, yang sebenarnya sudah dirintis oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala. Hanya perlu sentuhan teknologi produksi dan pengemasan yang baik, maka dipastikan makanan fungsional Indonesia akan semakin maju dan dikenal bukan hanya di nusantara, tetapi juga di belahan dunia lainnya.

Makanan fungsional bisa menjadi produk andalan, bagi perkembangan dunia makanan di Indonesia. Banyak bahan dan produk makanan fungsional Indonesia yang hanya bisa tumbuh dan dibuat di Indonesia, tidak bisa ditemukan di negara lain.

Hal itu tentu bukan hanya harus menjadi kebanggan kita, tetapi adalah tanggung jawab bersama untuk mengembangkannya. Menjadikan makanan fungsional sebagai pilihan bisnis, adalah pilihan yang sangat rasional dan bijak.

Langkah pengembangan pengolahan produk makanan fungsional khas daerah diawali dengan pencarian ide, pengembangan ide, perancangan produk (product development), perancangan proses produksi, perancangan pengemasan (packaging development) dan perancangan pemasaran (market research).

Perancangan dilanjutkan dengan perencanaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan perencanaan keuangan. Pencarian ide tentunya didasarkan pada Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di sekitar tempat tinggal masing-masing, karena kemudahan bahan baku akan sangat mempengaruhi pada proses produksi, serta pada biaya produksi.

Setelah penentuan ide, kemudian dilakukan pengembangan produk sampai mendapatkan formulasi produk yang baik dan dapat diterima oleh konsumen. Pengembangan produk juga erat kaitannya dengan pengembangan kemasan, karena produk yang baik tanpa kemasan yang baik akan kurang mempunyai nilai jual. Kemasan juga sangat mempengaruhi mutu dan keawetan produk, sehingga perlu dilakukan pemilihan kemasan yang tepat.

Setelah didapatkan formula yang baik dan kemasan yang tepat, maka selanjutnya dibuat strategi pemasarannya, target pasarnya serta posisi produk di pasaran. Strategi pemasaran yang kurang tepat akan berdampak pada kurang diterimanya produk di pasaran.

Selanjutnya semua langkah pengembangan pengolahan produk makanan fungsional khas daerah ini selengkapnya dituangkan pada satu proposal bisnis (Business Plan), lengkap dengan kebutuhan SDM dan perhitungan keuangannya, yang meliputi juga penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) dan Harga Jual (HJ), serta Break Even Point (BEP), yaitu penentuan jumlah produksi minimal, dimana pada jumlah itu perusahaan tidak mengalami untung maupun rugi.

Skema Pengembangan Ide Produk Kesehatan Khas Daerah

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Annisa Januarsi
Sumber : Edukasi Borneo