Materi PKn SMA Kelas 10 Semester Ganjil Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Home > Kolom Guru

Rendahnya Minat Literasi dan Tips Mengatasinya

10 Jan 2022, 21:05 WIB
Guru SMA Negeri 2 Pontianak, Bibiana, S.Pd.(Ist)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organizatio (UNESCO) menunjukkan data persentase minat baca anak Indonesia berada di angka 0,01 persen.

Angka itu berarti, dari 10.000 anak Indonesia, hanya satu anak yang senang membaca. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan.

Tidak hanya itu, disebutkan juga bahwa minat baca di Indonesia menempati urutan ke 63 dari 70 negara. Oleh karena itu, orang tua memiliki peran penting untuk menumbuhkan minat baca kepada anak, terutama anak yang masih berusia dini.

Tiga faktor rendahnya minat baca menurut keterangan di laman resmi Sahabat Keluarga Kemendikbud, yaitu:

1. Orangtua kurang menyadari bahwa membaca sejak dini itu penting.

Orang tua sering menganggap bahwa masa kanak-kanak adalah masa bermain sehingga masa kecil mereka dihabiskan untuk bermain bersama teman sebaya.

2. Sejak teknologi semakin berkembang dengan pesat terlebih mengenai internet minat membaca buku semakin menurun, apalagi terhadap para pelajar di sekolah maupun para mahasiswa di universitas.

Para pelajar atau mahasiswa pada zaman sekarang cenderung lebih memilih gadget dari pada membaca buku apalagi di perpustakaan dan hal itu dapat menyebabkan perpustakaan yang semakin jarang dikunjungi.

3. Hilangnya kegiatan pinjam-meminjam yang mengakibatkan berkurangnya interaksi sosial antar sesama, dan juga banyaknya buku yang rusak karena termakan usia.

Baca Juga : Karakteristik Guru dan Siswa Abad 21

Melihat dari kejadian ini dapat disimpulkan bahwa menurunnya minat membaca buku terhadap masyarakat dimulai sejak teknologi semakin berkembang.

Dengan tidak adanya siswa atau mahasiswa yang tidak membaca buku dapat mengakibatkan buku-buku rusak dan lapuk dimakan usia karena tidak ada yang membacanya, juga dengan seiring berjalannya waktu dapat mengurangi aktivitas interaksi sosial di sekitar kita.

Seperti contohnya di perpustakaan semakin sedikit orang yang berkunjung maka semakin sedikit juga kita melakukan interaksi, baik dengan teman-teman diskusi maupun dengan petugas perpustakaan.

Akibat lainnya yang dapat di peroleh dari rendahnya literasi di Indonesia yaitu, rendahnya indeks pembangunan SDM-nya di Indonesia, semakin rendah tingkat inovasi, kreatifitas pada masyarakat dan tingkat pemahaman masyarakat yang rendah terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan.

Sangat disayangkan jika kita tidak gemar membaca sebuah buku, seperti pepatah yang sering kita dengar buku adalah jendela dunia.

Memang pada zaman sekarang ini kita bahkan lebih sering memegang handphone dari pada memegang sebuah buku, karena di handphone kita beranggapan lebih simple atas segalanya.

Semua yang ingin kita cari ada di handphone, tetapi kita sering sekali melupakan bahwa belum tentu sumber yang menjadi rujukan di internet itu asli, sehingga kita dapat memakainya.

Meningkatnya sebuah teknologi maka semakin meningkat juga sebuah kejahatan bukan hanya secara langsung melainkan secara online juga.

Banyak sekali kita jumpai mengenai kejahatan di sosial media misalnya penipuan yang mengakibatkan banyak kerugian, dan juga hampir pada zaman sekarang jarang orang yang tidak memakai sosial media.

Pasti rata-rata dari kita sudah memakai sosial media baik yang terkini seperti Instagram maupun yang sudah ketinggalan zaman seperti facebook.

Baca Juga : HUT RI ke 76, Isu Global Kekinian : Tantangan dan Ujian Spirit Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Berikut ini adalah beberapa upaya yang patut dilakukan untuk menumbuhkan minat baca pada siswa antara lain:

1. Literasi pagi hari

Literasi pagi hari adalah kegiatan yang dilakukan sebelum proses pembelajaran berlangsung. Siswa diberikan kesempatan untuk membaca buku, baik berupa bacaan fiksi maupun nonfiksi.

Caranya siswa diminta untuk membawa buku masing masing dari rumahnya sendiri baik itu buku pribadi dari perpustakaan pribadi atau pinjaman dari perpustakaan atau dari Taman Bacaan atau perpustakaan keliling dengan cara menyewa buku tersebut.

Cara ini pernah diterapkan oleh SMPN 5 Pontianak pada tahun 2019 dan terbukti berhasil dilakukan oleh Bapak ibu guru di sekolah tersebut.

Bagi siswa SMA, SMK dan sejenisnya bisa juga membaca e-book dari gadget masing masing dengan catatan setelah kegiatan literasi pagi hari selesai siswa diminta untuk membuat resume atau ringkasan dari bacaan tersebut di buku jurnal baca masing masing.

Buku jurnal baca ini dapat menggunakan buku tulis biasa atau notebook yang bewarna warni kertasnya.

2. Pohon Literasi

Pohon literasi adalah media yang digunakan guru untuk memotivasi siswa melakukan kegiatan membaca.

Guru membuat gambar sebuah pohon yang kemudian ditempel di dalam kelas. Setiap siswa wajib menempelkan daun pada rantingnya.

Daun tersebut bisa menggunakan colourful sticky papers kertas yang sudah ada lemnya dan bewarna-warni.

Adapun isinya siswa dapat menuliskan judul buku beserta ringkasan atau sinopsis dari buku tersebut dan menempelkan kertas tersebut pada pohon literasi

Adapun Teknik ini sangat cocok dilakukan di dalam Moving Class yaitu kelas khusus mata pelajaran Bahasa.

Mengapa demikian? Karena kalau harus dilakukan di tiap kelas kemungkinan besar kurang efektif dari segi waktu dan juga akan merusak dinding banyak kelas.

Baca Juga : Karakter Prima Seorang Guru

3. Kunjungan Perpustakaan

Siswa diajak untuk ke perpustakaan. Ruangan perpustakaan yang terbatas dapat dihindari dengan melakukan penjadwalan untuk masing-masing kelas.

Setiap kelas dibuat secara bergantian. Misalkan, hari Senin untuk kelas X, Selasa untuk kelas X, Rabu untuk kelas XI.

Ketika pelaksanaan guru kelas wajib untuk mendampingi. Guru memantau buku yang dibaca oleh anak. Setiap anak membawa satu buku yang telah mereka pilih.

Mereka dapat membawa pulang untuk melanjutkan membacanya. Target penyelesaiannya satu minggu ke depan.

Sehingga pada hari yang sama di minggu berikutnya siswa dapat mengembalikan dan meminjam buku yang baru untuk dibacanya.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa kurangnya minat baca dapat disebabkan dari faktor internal siswa dan eksternal. Sedangkan upaya untuk mengatasi rendahnya minat baca dapat dilakukan secara sistematis, terjadwal di sekolah.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Bibiana, S.Pd (Guru SMA Negeri 2 Pontianak)
Sumber : Edukasi Borneo