Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Guru

Rusia Invansi Ukraina, Indonesia dan Dunia Dalam Ancaman Global

27 Feb 2022, 12:30 WIB
Utenius, S. Pd, Guru PPKn SMPN 3 Bengkayang.(Ist)

EDUKASIBORNEO, BENGKAYANG - Satu bulan terakhir dunia dibuat sangat kuatir terhadap manuver Rusia di sepanjang perbatasan Ukraina. Dunia begitu was-was jika sewaktu – waktu Rusia melakukan invasi ke Ukraina.

Sangat beralasan dunia begitu was-was, sebagaimana diketahui bahwa selain sebagai kekuatan ekonomi dunia, Rusia merupakan pemilik rudal nuklir terbesar di dunia selain Amerika Serikat.

Berbagai macam rudal strategis ada di jajaran militer Rusia, yang kapanpun bisa melibas negara manapun.

Mulai dari rudal antar benua  atau Intercontinetal Ballistic Missiles (ICBM), rudal hipersonik, rudal Satan, Rudal Zircon dan beberapa rudal canggih lainnya yang bisa menghancurkan satelit dan berbagai fasilitas di seluruh dunia dalam hitungan menit, serta masih banyak alat tempur militer yang sangat canggih.

Sampai saat ini, Rusia merupakan negara pemilik dan pengembang rudal terkemuka dan tercanggih di dunia. Bahkan Amerika Serikat pun mengakuinya.

Dalam dunia militer, Rudal merupakan aset yang sangat strategis yang dapat menghancurkan objek yang ada dipermukaan bumi maupun di asmosfer bumi seperti satelit, dan pesawat mata-mata.

Itulah alasannya mengapa negara seperti Rusia yang memiliki kecanggihan rudal sangat ditakuti oleh banyak negara.

Sebagai sebuah negara Super power di luar Amerika Serikat, Rusia sudah bertahun-tahun menentang rencana negara-negara yang tergabung di dalam pertahanan atlantik utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO) untuk menarik Ukraina untuk bergabung ke dalam keanggotaannya.

Bagi Rusia, dengan masuknya Ukraina ke dalam keanggotaan NATO dapat menjadi ancaman serius bagi Rusia.

Dalam beberapa tahun NATO sudah menumpuk pasukannya di Polandia, Rumania dan bukan tidak mungkin akan menumpuk pasukannya di Ukraina jika menjadi anggota NATO yang berbatasan langsung dengan Rusia.

Selain itu, dari segi jarak wilayah Ukraina relatif lebih dekat ke Moskow yang merupakan ibu kota pusat pemerintahan Rusia.

Hal ini dapat menjadi pintu gerbang bagi pasukan NATO menuju ke Rusia jika Ukraina masuk ke dalam keanggotaan NATO.

Bagi Rusia, Rencana Ukraina menjadi anggota merupakan ancaman kedualatan yang sangat serius dan dengan konsisten akan ditentang sampai kapanpun.

Dalam beberapa kesempatan, Rusia juga menentang penempatan dan penumpukan pasukan NATO dan peluru kendali seperti di Polandia dan Rumania yang dari segi jarak juga dekat dengan teritorial Rusia.

Setelah tuntutan-tuntutan Rusia tidak digubris, Rusia melakukan tindakan yang membuat NATO dan negara di dunia ketar ketir.

Baca Juga : Urgensi Kompetensi Etika Dialektika di Era Kebebasan Yang Kebablasan

Rusia melakukan mobilisasi pasukan besar-besaran di sepanjang perbatasan Ukraina, yang bagi intelejen Barat itu disebut sebagai persiapan invasi besar-besaran Rusia terhadap Ukraina.

Selain itu, untuk kepentingan dan keseimbangan bagi kepentingan Rusia, Rusia membantu pemberontak pro Rusia di Ukraina Timur yaitu Donetsk dan Luhansk yang biasa dikenal dengan Donbas untuk melawan militer Ukraina.

Pemberontak di Ukraina Timur dikenal memiliki catatan yang panjang dalam melawan pemerintah Ukraina dan menjadi rahasia umum bahwa Rusia selalu berada di belakangnya.

Bagi Rusia, tindakan mereka  mendukung pemberontak di Ukraina Timur semata-mata untuk melindungi penduduk dari kekejaman rezim Kiev terutama yang beretnis Rusia.

Dengan alasan yang hampir sama juga dilakukan oleh Rusia pada tahun 2014, yaitu ketika menganeksasi Crimea dari Ukraina dan memasukannya ke dalam Federasi Rusia serta diperkuat oleh referendum parlemen Crimea pada 16 Maret 2014 yang memilih untuk melepaskan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia.

Melihat agresivitas militer Rusia terhadap Ukraina memang tidak bisa dilepaskan dari konflik-konflik sebelumnya seperti pencaplokan Crimea dari Ukraina dan untuk menjaga kepentingan Rusia di Kawasan.

Tidak lama setelah melakukan mobilisai pasukan, baik unjuk kekuatan atau show of force, sekaligus psy war terhadap Ukraina di sekitar perbatasan dengan Ukraina, dunia begitu dikejutkan dengan langkah Presiden Rusia Vladimir Putin, Senin 21 Februari 2022 dengan berani mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk yang secara de jure merupakan wilayah kedaulatan Ukraina.

Selama ini wilayah Donetsk dan Luhansk yang lebih dikenal dengan Donbass merupakan wilayah di Ukraina Timur yang berusaha memerdekan diri dari Ukraina dengan bantuan Rusia.

Kejadian tersebut ramai-ramai memancing kecaman dari kepala negara di dunia, mulai dari Presiden Amerika Serikat, Perdana Menteri Inggris, Perdana Menteri Jepang, Perdana Menteri Kanada dan juga kepala negara lainnya.

Selain itu beberapa negara juga memberikan sanksi kepada Rusia. Namun itu tidak pernah bisa mengubah keputusan yang telah dibuat oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Tidak lama setelah Rusia mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk, tepatnya pada hari Kamis, 24 Februari 2022 kemarin, Presiden Rusia memerintahkan militer Rusia untuk melakukan Invasi skala penuh terhadap Ukraina.

Langkah Putin ini benar-benar mengejutkan seantero dunia. Rusia benar-benar membuat dunia senam jantung.

Sampai detik ini, Pasukan Rusia dikabarkan telah memasuki wilayah Ukraina dari berbagai sisi dan beberapa infrastruktur penting seperti pangkalan  udara dan gudang amunisi di Kiev serta Pangkalan Angkatan Laut di Odessa sudah dan sedang di serang oleh Rusia dengan rudal dan senjata-senjata beratnya.

Selain menghancurkan fasilitas-fasilitas militer Ukraina roket-roket Rusia juga menyasar penduduk sipil.

Sampai detik ini, Cable News Network (CNN) pada Jumat, 25 Februari 2022 kemarin melaporkan sudah 57 orang tewas dan 169 orang luka-luka dan tentunya akan semakin bertambah setiap detiknya.

Tindakan invasi Rusia ini benar-benar mengejutkan dunia bukan tidak beralasan. Sebagai negara dengan kekuatan militer terkuat ke dua di dunia, dengan persenjataan yang sangat canggih, bukan tidak mungkin perang Rusia Ukraina bisa mengarah kepada bencana Global yang lebih mengerikan dari Perang dunia 1 dan 2.

Melihat tindakan agresi Rusia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam konferensi pers nya menyatakan dengan tegas akan melawan dan membela diri dari Invasi Rusia dan mengatakan tidak takut dengan siapapun yang bertujuan mencaplok tanah airnya.

Dalam konflik ini, pentingnya peran PBB sebagai penjaga perdamaian dunia untuk mengambil langkah-langkah yang cepat dan signifikan untuk mencegah invasi Rusia ke Ukraina berubah menjadi bencana global.

Yang secepatnya dilakukan PBB yaitu menyerukan kepada Presiden Putin untuk segera menarik pasukannya dari Ukraina dan juga menggalang komunitas internasional untuk menekan Rusia untuk menghentikan tindakannya yang melanggar kaidah-kaidah hukum internasional.

Sebagai Badan Dunia yang memiliki kedudukan strategis, PBB bisa menggunakan beberapa instrumen di lembaga internasional itu untuk menekan Rusia untuk menghentikan invasinya ke Ukraina.

Baca Juga : Pentingnya Pengembangan Profesi Guru

Selain itu, PBB juga harus mampu menengahi pihak-pihak yang berkonflik dengan prinsip will-will Solution serta mencegah pihak ketiga semisal NATO untuk terlibat secara langsung Ukraina di dalam konflik Rusia Ukraina.

Tentunya ini bisa membuat Rusia akan mengeluarkan kekuatan penuhnya untuk menaklukan musuh-mushnya.

Kemudian yang harus diwaspadai oleh masyarakat internasional yaitu jika China memanfaatkan situasi konflik Rusia serta terinspirasi dengan langkah Rusia untuk menginvasi Taiwan yang masih dianggap China Daratan sebagai wilayah kedaulatannya.

Dalam beberapa jam setelah kejadian, dilaporkan dari TEMPO.com pada Jumat, 25 Februari 2022 kemarin bahwa, beberapa pesawat tempur China memasuki zona pertahanan udara Taiwan.

Jika ini terjadi, maka bisa membuat dunia semakin runyam dan menciptakan situasi yang persis sama seperti yang terjadi pada situasi pada perang dunia 2, dimana di beberapa titik di belahana bumi ada terjadi perang besar.

Lalu apa dampak signifikan invasi Rusia ke Ukraina bagi Indonesia dan dunia? Untuk Indonesia dampak nyata yaitu terganggunya sektor ekonomi.

Sebagaimana diketahui bahwa Ukraina merupakan salah satu mitra dagang Indonesia yang penting di Eropa Timur.

Selain itu, dari  berbagai media internasional sudah mulai memantau adanya tren kenaikan harga minyak mentah dan gas bumi yang begitu signifikan.

Jika ini terus berlanjut bukan tidak mungkin akan mengganggu perekonomian Indonesia yang banyak mengandalkan impor minyak dan gas dari luar negeri. Untuk masyarakat Internasional  invasi Rusia terhadap Ukraina jelas-jelas berdampak yang sangat signifikan.

Dari aspek ekonomi, Eropa Barat masih sangat tergantung dengan pasokan gas dari Rusia.

Jika Konflik terus berlanjut bukan tidak mungkin bisa membawa dunia ke jurang krisis global, berupa krisis energi, krisis ekonomi, krisis kemanusiaan bahkan mungkin krisis yang belum pernah terbayangkan oleh umat manusia sebelumnya.

Perekonomian global merupakan sebuah sistem yang rumit saling berkaitan satu sama lain. Guncangan atau sentimen negatif terhadap ekonomi global bisa berdampak sistemik di seluruh dunia.

Sekali lagi, peran PBB sebagai penjaga perdamaian dunia dalam konflik Rusia Ukraina harus ditunjukkan dengan jelas, cepat dan tepat serta terukur untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi terutama dari warga sipil yang tidak berdosa.

Indonesia sebagai negara yang berpengaruh di Kawasan (ASEAN), memiliki kedudukan yang strategis di dunia internasional dengan menguatkan posisi Indonesia yang menganut politik bebas dan aktif.

Langkah ini harus dilakukan oleh PBB dan Indonesia dengan cepat, tegas dan terukur. Jika tidak, bukan tidak PBB mungkin sama dengan nasib Liga Bangsa Bangsa yang gagal mencegah terjadinya perang dunia 2 pada tahun 1939.

Albert Eistein 1949 lalu pernah mengatakan bahwa, i know not with what weapons World War III will be fought, but World War IV will be fought with sticks and stones.

“Aku tidak tahu dengan senjata apa Perang Dunia 3 dipertarungkan, tapi Perang Dunia 4 akan bertarung dengan tongkat dan batu.”

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Utenius, S. Pd (Guru PPKn SMPN 3 Bengkayang)
Sumber : Edukasi Borneo