Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Guru

Rusia Negeri Yang Memiliki Efek Deteren Yang Menggetarkan

12 Mar 2022, 08:12 WIB
Guru PPKn SMPN 3 Bengkayang, Utenius S.Pd.(Ist)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Rusia merupakan negara yang paling istimewa dan unik di muka bumi, Keistimewaan dan keunikan negara  ini yaitu memiliki wilayah yang sangat luas di muka bumi.  

Negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin ini membentang dari timur Eropa ke utara Asia dengan luas 17,1 juta Kilometer persegi dan wilayahnya mencakup seperdelapan luas daratan bumi.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, dengan luas 1,91 juta kilometer persegi, maka luas wilayah Rusia lebih besar 17 kali lebih luas dari wilayah daratan negara kita.  Keistimewaan dan keunikan inilah yang mungkin membuat sebagian besar masyarakat dunia sangat kagum dengan negara ini.

Namun dengan luas wilayah yang sangat besar, menjadikan negara ini rentan dianeksasi oleh negara lain. Hal itu pernah terjadi ketika Nazi Jerman dibawah Hitler pada tahun  1941 menyerbu Rusia ketika masih bernama Uni Soviet  untuk memenuhi kebutuhan militer serta menyebarkan pengaruh NAZI yang masih kuat-kuatnya pada saat itu.

Sebagai negara yang memiliki wilayah yang sangat luas di muka bumi, Rusia sejak era Uni Soviet memahami betul tentang pentingnya membangun militer yang kuat untuk membentuk pertahanan negara yang kuat dan kokoh.

Selesai Perang Dunia ke II, Rusia saat masih bernama Uni Soviet mulai fokus dan intens membangun militernya. Berbagai peralatan militer canggih dibangun, mulai dari berbagai nuklir dan konvensional, pesawat tempur berbagai varian, berbagai kapal perang dengan ukuran mulai dari cover, frigate, destroyer sampai kapal kelas Kirov yang dijuluki sebagai “battle cruiser” pun muncul saat itu.

Hal ini tentunya membuat Amerika serikat dan sekutunya was-was dan menjadikan perkembangan militer Uni Soviet sebagai perhatian sangat utama.  Di Tahun 1950 an sampai dengan 1960 an, ketika Amerika Serikat rutin melakukan uji coba bom nuklir  di kepulauan Pasifik, Uni Soviet pun tidak tinggal diam.

Sebagai jawaban atas uji coba bom nuklir Amerika Serikat, tahun 1961 Uni Soviet melakukan uji coba bom nuklir, yang dinamakan “Tsar Bomba” di sekitar laut Arktik. Ledakan “Tsar Bomba” merupakan ledakan bom termonuklir terbesar yang pernah dibuat dan diledakkan oleh manusia. Ukurannya pun tidak main-main.

Baca Juga : Rusia Invansi Ukraina, Indonesia dan Dunia Dalam Ancaman Global

Ketika meledak, bom ini melepaskan energi setara dengan 50 Megaton TNT atau 1500 kali lebih kuat dari  atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 yang memaksa Jepang menyerah kepada sekutu. Penemuan dan perlombaan senjata mematikan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang intens dan terus menerus memunculkan istilah pada saat itu yang disebut dengan Perang Dingin (Cold War).  

Suasana Perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet membuat masyarakat dunia sangat kuatir karena sewaktu-waktu dapat terjadi perang nuklir yang dapat membahayakan umat manusia, mengingat kedua negara sama-sama memiliki hulu ledak nuklir yang seimbang secara kuantitas. Pada tahun 1991, Uni Soviet Runtuh dan sebagian besar “Saham” Uni Soviet berpindah tangan ke negara yang kita kenal sekarang ini yaitu Rusia.

Walaupun beberapa negara bagian Uni Soviet memerdekaan diri, namun kehadiran Rusia sebagai sebuah negara, setidaknya dapat dipandang sebagai sebuah representasi kedigdayaan Uni Soviet.

Setelah Uni Soviet runtuh tahun 1991 karena kondisi ekonomi negara yang parah saat itu, maka sebagian besar kedudukan potensial dan juga aset militer berpindah ke Rusia. Bermodalkan peninggalan aset dari Uni Soviet, Rusia pelan tapi pasti membangun militer yang sangat ditakuti Amerika Serikat dan sekutunya.

Pada tahun 2021, dalam rangking Global Firepower, Rusia menduduki peringkat kedua dari 20 besar kekuatan militer dunia, di bawah Amerika Serikat yang merupakan seteru abadinya. Sebagai kekuatan utama nuklir dunia, Rusia memiliki senjata pemusnah massal dengan memiliki 5.977 hulu ledak nuklir dan bisa terus bertambah jika eskalasi konflik dengan barat terus meningkat. Kepemilikan senjata nuklir menjadikan Rusia sangat disegani bahkan terkesan ditakuti oleh barat.

Setiap ada konflik militer, Amerika serikat dan sekutunya yang tergabung di dalam aliansi NATO nampaknya hati-hati mengambil keputusan jika berhadapan apalagi sampai berkonfrontasi dengan Rusia. Amerika dan sekutunya cenderung tidak mau memilih berkonfrontasi langsung dengan Rusia karena mereka mengerti konsekuensi dari konfrontasi langsung dengan Rusia.

Selain kekuatan nuklir yang mengerikan, Rusia juga memiliki kekuatan ekonomi yang memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi global. Rusia merupakan pemasok minyak dan gas alam terbesar ke negara-negara maju di Eropa. Dengan luas yang spektakuler, Rusia memiliki segalanya. Apa jadinya jika Rusia menyetop pengiriman minyak dan gas ke Eropa?

Dengan segala keunggulannya di atas, dengan sendirinya  Rusia memiliki efek getar atau efek deteren. Efek deteren biasanya melekat pada orang atau suatu negara yang memiliki keunggulan, kehebatan atau kekuatan.

Menurut wikipedia.com, efek deteren atau teori penggentar dikenal pada era perang dingin karena terkait dengan penggunaan senjata nuklir. Deterensi memiliki arti yang unik pada waktu itu karena berkat kekuatan nuklir yang menghancurkan sebuah negara nuklir kecil dapat mencegah serangan musuhnya yang jauh lebih kuat asalkan mereka terlindung dari kehancuran melalui serangan kejutan.

Efek deteren merupakan strategi untuk mencegah musuh melakukan tindakan yang belum dimulai. Efek deteren biasanya juga disebut dengan posisi tawar atau bargaining position suatu negara. Dalam bahasa yang sederhana, efek deteren dapat diartikan sebagai efek getar kepada lawan atau orang lain agar mempertimbangkan atau berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan kepada orang atau negara sasaran.

Yang menjadi pertanyaan tersendiri bagi kita, yaitu apa perbedaan negara yang memiliki efek deteren dengan negara yang tidak memilikinya? Kita mungkin bisa melihat kilas balik tindakan Amerika  Serikat dan Sekutunya terhadap Irak pada tahun 1991 dan 2003.

Dengan jelas kita menyaksikan Amerika Serikat dan sekutunya dengan mudah menyerang Irak dan menjatuhkan Saddam Husein. Semua itu terjadi karena Irak memiliki  efek deteren yang rendah di mata Amerika Serikat dan sekutunya.

Rusia sebagai negara yang memiliki wilayah terluas di dunia, memiliki senjata nuklir dengan hulu ledaknya terbanyak di dunia, serta memiliki kekayaan alam berupa minyak dan gas alam yang melimpah sudah pasti memiliki efek deteren yang sangat menggetarkan bagi musuh-musuh Rusia.

Kita bisa melihat beberapa konflik bersenjata di seluruh dunia, semisal konflik di Suriah. Ketika Rusia turun gunung atau terlibat langsung membantu Rezim Bashar al-Assad membasmi para pemberontak yang notabene didukung Negara-negara Barat, negara-negara Barat berhati-hati untuk berhadapan dengan Rusia, bahkan cenderung menghindar. Kemudian yang terbaru, yaitu dalam perang Rusia Ukraina.

Baca Juga : Urgensi Kompetensi Etika Dialektika di Era Kebebasan Yang Kebablasan

Sangat jelas terlihat sikap negara-negara barat yang tergabung dalam NATO.  Beberapa pernyataan dari petinggi NATO membuat Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky sangat murka. Terbaru, NATO melalui Sekretaris Jendralnya Jens Stoltenberg, menolak pemberlakuan Zona Larangan terbang di udara Ukraina yang merupakan permintaan Presiden Ukraina. Hal itu jelas-jelas membuat Presiden Ukraina sangat kecewa dan marah di tengah negaranya yang berdarah-darah melawan invasi Rusia. 

Walaupun mendapat kecaman dari Presiden Ukraina, namun bagi NATO, memberlakukan larangan terbang di wilayah udara Ukraina sama saja menabuh genderang perang dengan Rusia yang bisa berakhir perang penuh di Eropa. 

Dan lagi-lagi Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa yang tergabung dalam aliansi NATO jelas tidak mau mengambil resiko tinggi untuk berhadapan langsung dengan sang pemilik hulu ledak nuklir terbesar di dunia.  

Kekuatan militer bukan hanya sarana untuk melumpuhkan musuh negara, namun juga sebagai efek penggetar bagi musuh  sebelum tindakan dilakukan

Putin:  URAAAAAA....

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Utenius, S. Pd (Guru PPKn SMPN 3 Bengkayang)
Sumber : Edukasi Borneo