Friday, 06/08 09:37:19
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat melalui Dinas Kesehatan kembali menggelar vaksinasi massal dosis kedua bagi 6.000 masyarakat Kubu Raya selama tiga hari di halaman kantor bupati dimulai tanggal 5 sampai 7 Agustus 2021.

Home > Kolom Opini

Say Thank You Bro n Sis COVID-19

19 Jun 2021, 11:15 WIB
Dosen Pendidikan Matematika, Fakultas Pendidikan MIPA dan Teknologi IKIP PGRI Pontianak, Yudi Darma.(Ist)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Manusia ketika diberikan masalah, maka ia akan belajar untuk meningkatkan kemampuan bertahan dan bertuhan.

Sebuah adagium standar ini mengingatkan kita akan pesan moral dan kehidupan bagi si pemilik hati dan pikiran untuk mampu bersikap secara arif dan bijak.

Bukankah kita bergantung bagaimana, apa yang kita pikirkan dan lakukan, ketika perihal rasa, maka lidah, hati dan perasaan pun tak kuasa membohongi.

Inilah sebuah pengantar sederhana yang mestinya menjadi perhatian kita untuk tetap produktif menanggapi setiap masalah, kondisi dan keadaan serta kemampuan.

Ketika banyak opini, fakta dan tuntutan akan hadirnya tamu yang tak diundang dan diharapkan untuk segera pergi dan menghilang.

Maka dalam kesempatan ini saya mencoba untuk mengarahkan diri kita pada suatu kondisi yang sudah menjadi perhatian dimasa new normal.

Era dimana manusia dapat hidup berdampingan secara arif dan bijak bersama COVID-19, sebagai suatu virus yang membahayakan dan disatu sisi juga memberikan dampak yang baik, sebenarnya sudah terpikirkan namun entah kapan dapat terwujud.  

Era dimana revolusi global sudah menjadi pusat perhatian yang bermuara pada sumber daya manusia itu sendiri sebagai power terciptanya produk buatan.

Tidak sedikit fakta menyuguhkan akan dampak yang begitu besar dari bahaya COVID-19, namun dari dampak negatif tersebut, tidak sedikit pula yang dirasakan manfaat dan lompatan di berbagai sektor dari dampaknya virus tersebut.

Baca Juga : Peran Sentral Universitas Menuju Indonesia Emas 2045

Melansir data dari google scholar, per 2021 terungkap bahwa rekam jejak digital pada database yang bertalian langsung dari berbagai portal penerbit jurnal ilmiah nasional maupun internasional menyampaikan hingga juni 2021 sebanyak 22.500 artikel pada jurnal penelitian mengangkat tema COVID-19 dan new normal sebagai isu aktual dan membumi.

Secara komplit terpapar data, fakta dan solusi yang diberikan dari berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial dan sebagainya.

Artinya hal tersebut membawa kebaikan bagi kalangan akademisi untuk dapat memudahkan produktivitas sesuai profesi.

Tidak hanya sebagai transformasi pengetahuan akan tetapi juga berdampak pada personality improvement bagi si penulis dan institusinya.

Selain itu, alam turut serta merasakan dan melakukan perbaikan akibat kehadiran COVID 19.

Melansir data dari Claus Zenher, Badan Antariksa Eropa menyatakan bahwa kualitas udara lebih baik karena adanya penurunan yang signifikan terhadap tingkat global nitrogen, emisi karbon dioksida.

Kemudian, Suara.com juga mengungkapkan bahwa dunia baru untuk satwa liar akibat berkurangnya aktivitas berburu manusia. Serta saluran air mengalir jernih dibeberapa Negara.

Untuk bangkit dan berjaya menjadi bangsa besar, Indonesia kini butuh jutaan gagasan dan SDM yang visioner dalam menghasilkan kematangan berpikir, bersikap dan berkolaborasi.

Jutaan program persemaian dan pelatihan yang produktif, dan jutaan lagi resep atau referensi atau aplikasi digital baru tentang revolusi mental, kepemimpinan dan atribut-atribut yang bersesuaian dengan harapan akan masa depan yang diharapkan.

Dalam rangka itu semua perlu memahami essensi peran bagi setiap orang, bukankah nature nya kita dilahirkan di muka bumi sebagai seorang pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri.

Guna suatu revolusi besar-besaran untuk kemajuan dan terciptanya performa puncak dalam basis kompetensi dunia, kebutuhan kehidupan dan tuntutan zaman yang semakin panasnya akibat ulah manusia.

Tentunya semua itu hanya bunga rampai teori belaka, jika tidak dimulai dari diri sendiri.

Baca Juga : Ironi Berdagang Makanan Tanpa Masker di Masa Pandemi

Berikut sanctuary dari beberapa purposed yang diberikan Tuhan melalui COVID-19 kepada kita dan alam semesta.

1. Menjaga mulut atau lidah

Melalui tuntutan yang bergeser menjadi kebutuhan untuk menggunakan masker sebagai atribut kemamanan bagi kesehatan.

Namun sebenarnya dibalik kondisi tersebut manusia diarahkan untuk mempu mengoptimalkan lidah atau mulutnya secara bijak, arif dan bermanfaat.

Seperti menggunakan kata-kata yang bermanfaat, menggunakan sebagai amunisi utama dalam membawa perubahan, perbaikan, merekatkan yang menjadikan lidah yang dapat mengalahkan tajamnya perisai sang panglima perang.

Bukan sebaliknya omong kosong, omong besar dan penuh kesia-sia-an. Selain itu pula mulut juga diarahkan untuk dapat mengkonsumsi makan dan minuman yang tidak hanya baik untuk kesehatan, namun juga dipastikan halal dan toyyiban.

Artinya sumber rejeki yang kemudian kita belikan untuk makanan mesti diperoleh dari sumber yang halal, bukan dari menghalalkan segala cara.

Makan tidak berlebihan, dan mampu mengingatkan untuk berbagi makanan kepada saudara yang membutuhkan.

2. Menjaga jarak

Kehidupan ditegakkan dengan nilai-nilai moralitas yang agung, tidak sedikit manusia tidak mampu memahami makna dari menjaga jarak dari satu individu dengan individu lainnya.

Artinya, kita mesti mampu menempatkan diri untuk tidak memicu gesekan kepentingan bahkan dari aspek pergaulan bebas yang menjadi salah satu pemicu robohnya generasi penerus karena adanya aktivitas yang diharamkan, mendekati perilaku amoral.

Bukan dalam artian membatasi pertemanan maupun persahabatan, akan tetapi lebih menegaskan kepada kita untuk dapat saling menghargai, melindungi dan menghormati, terlebih bagi yang sudah memiliki pasangan.

Konteks kesetiaan ini jika secara hanif dan istiqomah dilaksanakan, tentunya akan berdampak pada nilai-nilai kemuliaan yang agung, seperti setia terhadap kebaikan, kebenaran dan mencegah dari kemungkaran.

Terlebih bagi ia sebagai seorang pemimpin yang diberikan amanah untuk mampu melihat indera seorang pemimpin terhadap sebuah pertanyaan mendasar “what do you need or what can I help you?” yang mengingatkan bagi mereka untuk senantiasa amanah agar dapat secara soleh menunaikan janji atau sumpah jabatan.

Baca Juga : Momen Revolusi Setelah Pandemi COVID-19

3. Mencuci tangan

Aktivitas kebersihan bukan hanya sekedar kewajiban namun juga kebutuhan bagi setiap insan. Untuk tetap memastikan agar kehidupannya berada pada areal kesucian, mencegah dan menghindari hal-hal yang tidak baik atau bahkan menjadi pemicu, terjadinya polusi.

Artinya, siapapun anda, apapun peran dan kedudukan anda, kita mesti memiliki tanggung jawab moril untuk memastikan bahwasanya kehidupan ini harus terhindar dari polusi aktivitas busuk, hina dan tercela.

Sudah saatnya kita muncul ke permukaan secara bersama-sama untuk memastikan bahwasanya kita adalah bagian dari pemecah masalah (problem solver), bukan dari bagian pembuat masalah (problem maker).

Karena tanggung jawab maju-mundur, naik-turunnya perdaban bangsa adalah bagian dari tanggung jawab dan semangat kolektif kolegial bersama.

4. Mematuhi protokol kesehatan

Aktivitas tersebut mengingatkan, mengajarkan arti pentingnya komitmen dan disiplin diri.

Tidak hidup semaunya, seenaknya, tanpa adanya keteraturan, kepatuhan terhadap nilai yang bermuara pada ego sentris semata.

Merasa paling benar, merasa paling hebat, merasa lebih baik dari yang lainnya.

Tentunya pemikiran dan sikap hidup seperti ini pada mulanya selalu mencari pembenaran terhadap diri sendiri, akan tetapi seiring durasi waktu yang berjalan, hukum alam akhirnya menghempaskan pada sebuah kesadaran akan pentingnya nilai-nilai sosial, ketaatan, kepatuhan dan memahami aturan yang berlaku.

Sebuah prinsip tertib diriku, maka tertib hidupku, merupakan kalimat sederhana namun tak mudah untuk diimplementasikan.

Oleh karenanya kebersamaan saling mengingatkan dan menguatkan tanpa sekedar mengandalkan akan menjadi ritme kehidupan yang dapat diibaratkan sebuah instrumentalia yang berasal dari orchestra alat-alat musik yang berbeda jenis, bentuk, suara dan fungsi.

Namun oleh karena adanya keteraturan dan kebersamaan, hal tersebut menjadi instrument yang sangat indah dan mengagumkan bagi yang mendengarnya.

Pada akhirnya beberapa opini di atas hanya memberikan advice bagi kita, mulailah dari diri sendiri untuk memberikan contoh dan inspirasi yang baik.

Melalui diri sendiri, siapa tahu keluarga, lingkungan, bahkan cakupan bangsa yang lebih luas akan turut memperbaiki diri.

Dengan prinsip selalu ada kompromi untuk kebaikan, dan tidak pernah ada kompromi untuk hal yang tidak baik. Hal tersebut merupakan salah satu hakikat dari pendidikan untuk learning to know, to do, to be, togather.

Tidak hanya tahu yang benar, namun juga mau berbuat benar, menjadi bagian dari kebenaran dan bersama-sama dalam kebenaran.

Melalui unjuk dan turun bersama, bertanggung jawab bersama, bersama-sama dalam kebaikan, Insha Allah masa depan yang baik akan segera menghampiri kita, keluarga, bangsa dan negara.

Mari responsi setiap masalah dan kondisi yang menghampiri secara produktif, sehingga produktifitas dan hal-hal yang baik senantiasa mengitari.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Yudi Darma (Dosen Prodi Pendidikan Matematika, Fakultas MIPATEK IKIP PGRI Pontianak)
Sumber : Edukasi Borneo