Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Guru

Semangat Literasi Melahirkan Kesadaran Learning

29 Mar 2021, 11:31 WIB
Kepala SMA 1 Menjalin, Yakobus.(EBC)

EDUKASIBORNEO, LANDAK – Bagaimana perkembangan sastra Indonesia, berkembang dari tradisi lisan ke tradisi tulis. Demikian pula dengan literasi, perihal hal belajar bahwa awal literasi di Indonesia adalah literasi sastra.

Literasi sastra berpangkal pada upaya menyimak dan belajar nilai-nilai kelisanan dan keberaksaraan, sejak masa lalu bangsa Indonesia telah terbiasa dengan literasi.

Ilmu dan pengetahuan tentang keagamaan, obat-obatan, kecantikan, kanuragan, dan pawukon telah dipahami oleh masyarakat luas secara lisan.

Bukti adanya relief di candi, catatan-catatan manuskrip filologis dan dilestarikannya tradisi lisan menggambarkan adanya kehidupan literasi di masyarakat.

Pembacaan dongeng, pembacaan kisah dan tembang, pewayangan, pemberi kabar dan tradisi pantun, menunjukkan literasi telah berlaku luas. Hal itu terus berkembang dan mengikuti perkembangan masyarakat.

Telah ada tradisi literasi, memahami teks, mencari pengetahuan di masyarakat. Literasi telah berkembang pada masyarakat lisan. Sebagaimana perkembangan sastra Indonesia, berkembang dari tradisi lisan ke tradisi tulis .

Baca Juga : Sosok Pemimpin di SMAN 1 Menjalin

Arif Budi Wurianto Universitas Muhammadiyah Malang dalam bukunya literasi sastra dalam masyarakat belajar (Learning Society) mengatakan bahwa masyarakat belajar (learning society) adalah sebuah kondisi yang terjadi di sekitar  pengetahuan dan keterampilan dengan melakukan discovery inquiry dan telah melakukannya sebagai konsep rohani yang melahirkan segala macam budaya popular, segala  upaya-upaya menghadirkan semangat Literasi Sastra melalui Kesadaran learning.

Terbentuknya masyarakat belajar diawali oleh individu pembelajar. Jika setiap orang di suatu negara sudah tumbuh kesadaran dan kemauannya untuk belajar, maka di sinilah mulai muncul masyarakat belajar.

Dalam masyarakat belajar, yang melakukan perbuatan belajar tidak hanya kalangan anak-anak dan remaja, tetapi orang dewasa pun melakukan usaha belajar hingga sepanjang hayat (long life learning, reading dang writing).

Pembentukan masyarakat belajar diawali oleh pembentukan individu-individu yang menjadi warganya.

Pengubahan individu yang santai menjadi individu yang aktif, dinamis, kreatif, suka bekerja keras, individu konsumtif menjadi produktif, individu penerima menjadi individu pemberi, individu yang mudah menyerah pada keadaan menjadi individu yang dengan semangat mengubah keadaan, menuntut perubahan mendasar pada pribadi individu-individu tersebut.

Baca Juga : Delapan Siswa SMA dan SMK Magang di Lapangan Terbang Singkawang

Perubahan tersebut diawali pada perubahan persepsi dan sikap, baik terhadap dirinya, maupun terhadap lingkungan, peluang-peluang, ancaman dan hambatan yang dihadapi.

Selanjutnya menumbuhkan kepercayaan diri, dan motivasi untuk maju. Learning society atau masyarakat belajar merupakan sebuah kondisi masyarakat yang tiap individunya memiliki kesadaran memandaikan diri membaca dunia, dengan suka bertanya, suka membaca, dan membuka peluang-peluang berekspresi secara mandiri melalui beberapa media belajar.

Jika pada masyarakat kuno dilakukan secara lisan atau berdasarkan media tradisional atau artefak yang dibuat, pada masyarakat modern jangkauannya jauh lebih luas tidak saja buku tetapi juga media televisi dan internet.

Banyak masyarakat yang diperlukan sebagai pengetahuan, tidak terbatas pada literasi pengetahuan praktis untuk memenuhi kebutuhan seharihari, keterampilan, hiburan, tetapi seharusnya juga pada pemikiran dan narasi-narasi sastra.

Literasi sastra belum banyak dijadikan sasaran berpengetahuan dan masih dianggap hal yang berat. Ini menjadi persoalan dan harus segera dicari jalan keluar meliterasi sastra masyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa literasi sastra merupakan dimensi literasi bidang kajian.

Apa yang dimaksud dengan membaca dunia suatu hal yang akan melahirkan minat membaca maka ia akan memelihara tradisi literasi dan akan memajukan  transformasi nilai sosio edukatif.

Beruntunglah orang-orang yang senang membaca, karena mereka akan mendapatkan warisan paling berharga dari orang-orang hebat.

Orang yang rajin membaca bagaikan sedang melihat masa lalu dan masa depan, sehingga untuk melahirkan sebuah kemauan selalu dimulai dari diri sendiri, menulis dan membaca bukan suatu keahlian yang dilahirkan, melainkan kesadaran yang dapt diciptakan dengan sendiri pula.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Yakobus, S.Pd,. MM (Kepala SMAN 1 Menjalin)
Sumber : Edukasi Borneo