Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Edukasi

Tahun Politik, Urgensi Pendidikan Politik di Indonesia

19 Sep 2022, 12:28 WIB
Ilustrasi sekolah.(ebc/freepik)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Tahun Politik sudah terasa, hiruk pikuk dinamika politik Indonesia dewasa ini  sedang mendominasi di berbagai media.

Layaknya gula yang sedang di kelilingi semut, seperti itulah media yang memberitakan kondisi iklim politik di Indonesia. Hampir disetiap stasiun televisi maupun surat kabar pasti dipenuhi dengan berita-berita politik terkini yang begitu hot.

Namun kondisi politik yang terjadi justru saling mempertontonkan drama - drama tidak sehat. Para penjabat yang memiliki kekuasaan telah melupakan konstituennya.

Janji yang dulu di buat justru dilupakan seiring dengan kursi kekuasaan. Saat ini bagi sebagian masyarakat Indonesia politik merupakan entitas yang kurang disukai.

Sebab prilaku para politikus yang tidak konsisten antara ucapan dan tindakan dilapangan, bahkan minim edukasi dalam perpolitikan.

Politik kita terlalu banyak mempertontonkan konflik bahkan banyak mencampuradukan kepentingan politik dengan isu SARA.

Sehingga menimbulkan kekerasan yang menyebabkan banyak rakyat yang menjadi korban, baik secara fisik maupun pshikis.

Selain itu banyak politikus yang terjerumus kedalam prilaku-prilaku yang tidak terpuji menyangkut harta negara (korupsi), baik ditataran eksekutif, legislatif bahkan yudikatif.

Kondisi ini menyebabkan timbulnya sikap apatisme di masyarakat, sehingga mereka terjatuh kedalam gaya kehidupan yang pragmatis, hedonis, malas.

Bahkan banyak pula yang dijadikan sebagai masa bayaran untuk menjatuhkan salah satu kubu lawan politik.

Padahal sejatinya dalam kehidupan politik memerlukan pemikiran yang cerdas serta kerja keras, bukan hanya asal gilas.

Pandangan masyarakat terhadap politik sedemikian negatif. Padahal, politik tidak lah seburuk yang dibayangkan dan dirasakan.

Politik hanyalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. sejatinya politik adalah usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Di Eropa setiap guru dan dosen dibekali ilmu politik, sehingga mereka bisa mengajarkan bagaimana mereka bisa membuat keputusan terbaik.

Dengan pendidikan politik, maka politik tidak menjadi tumpang tindih.

Kesalahan budaya masa lalu di Indonesia, implementasi politik praktis masih tumpang tindih dan politik dipegang bukan oleh orang yang bukan bidangnya. Sehingga hanya memikirkan intrik untuk memperoleh keuntungan yang sebesar - besarnya.

Baca Juga : Contoh Karya Inovatif Sebagai Syarat Kenaikan Pangkat Dalam Pengembangan Profesionalisme Guru


Urgensi Pendidikan Politik

Dengan kompleksitasnya permasalahan tersebut, maka politik dan pendidikan politik bagi Negara dan bangsa Indonesia saat ini sangat strategis dan urgent, karena eksistensi sebuah Negara sangat ditentukan oleh sikap serta kedewasaan politik masyarakatnya.

Saat ini diakui atau tidak orientasi politik bangsa Indonesia masih berkiblat ke barat khususnya Amerika ataupun negara maju lainya seperti Cina, bangsa kita belum berani dan percaya diri untuk menerapkan budaya politik sendiri.

Dalam kaitan pendidikan politik ini, A. Kosasih Djahiri menyatakan bahwa “Pendidikan politik adalah pendidikan atau bimbingan, pembinaan warga negara suatu negara untuk memahami mencintai dan memiliki rasa keterikatan diri (sense of belonging) yang tinggi terhadap bangsa negara dan seluruh perangkat sistem maupun kelembagaan yang ada.”

Sedangkan dalam Inpres No:12 tahun 1982 tentang pendidikan politik generasi muda dijelaskan bahwa: Pada prinsipnya pendidikan politik bagi generasi muda merupakan rangkaian usaha untuk meningkatkan dan memantapkan kesadaran politik dan kenegaraan guna menunjang kelestarian pancasila dan UUD 1945 sebagai budaya politik bangsa.

Pendidikan politik juga di harapkan sebagai bagian proses pembaharuan kehidupan politik bangsa Indonesia yang sedang dilakukan dewasa ini dalam rangka menciptakan suatu sistem politik yang benar-benar demokratis, stabil, dinamis, efektif dan efesien.

Dengan demikian pendidikan politik berupaya merubah mindset warga negara agar dapat memiliki kesadaran politik, memahami dan memiliki rasa keterikatan diri yang tinggi terhadap bangsa negara dan seluruh perangkat sistem maupun kelembagaan yang ada.

Itu artinya memiliki kesadaran politik berarti memiliki keterpaduan aspek kognitif, afektif dan psikomotor dari individu, sehinga seluruh masyarakat Indonesia baik pemerintah maupun rakyatnya akan memiliki kesadaran dalam berpolitik.

Peristiwa politik, perilaku elite politik, dan partai politik yang buruk adalah kenyataan politik Indonesia.

Ketiga hal tersebut sesungguhnya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung telah mendidik watak politik warga negara menjadi sebuah budaya.

Misalnya, partai politik seharusnya membangun sistem pendidikan politik yang mapan agar terciptalah kader – kader politik yang berkualitas dan berintegritas.

Namun kenyataannya, partai politik selalu dikaitkan dengan seseorang. Misalnya, PDIP selalu dikaitkan dengan Megawati; GERINDRA dikaitkan dengan Prabowo; dan Partai Demokrat tidak bisa dipisahkan dari SBY, dan sebagainya.

Baca Juga : Implementasi Kurikulum Merdeka: Tantangan Profesionalisme Bagi Guru

Padahal, politik yang dikaitkan dengan seseorang hanyalah akan melahirkan politik dinasti di masa depan, dan hal tersebut bertentangan dengan hakikat politik, karna politik akan melahirkan raja – raja kecil yang memberangus demokrasi.

Oleh karena itu, urgensi pendidikan politik saat ini sudah merupakan sebuah keharusan dan tidak bisa ditawar lagi apalagi menunda sampai banyak korban berjatuhan akibat penerapan budaya politik yang tidak sehat.

Pendidikan politik harus segera digalakan kembali disetiap lini kehidupan, baik lewat intitusi pemerintah maupun non pemerintah; baik secara formal maupun nonformal.

Tokoh politik, praktisi politik, ormas, dan aliansi masyarakat sipil harus aware dengan urgensi Pendidikan politik sehingga konflik horizontal yang di sebabkan oleh kontestasi politik seperti permasalahan sosial seperti berita hoax, manuver politik saling tikam, dan perpecahan akibat issue SARA bisa di minimalisir.

Sejatinya, ketika pendidikan politik sudah berjalan baik, maka setiap warganegara Indonesia akan turut membangun masyarakat dan negaranya, yang dilakukan bersama-sama dengan pemerintah.

Selain itu, mereka akan aktif dalam usaha mengkontruksi dan merenovasi lembaga masyarakat beserta system politiknya maka terciptalah warga negara yang baik dan pintar (good and smart cityzenship).

Dan yang paling utama adalah setiap sarana pendidikan politik yang ada, haruslah melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik yaitu mencerdaskan dan memberikan pemahaman kepada kader – kader politik di masa depan seperti mahasiswa dan rakyat, bukan malah mendoktrinisasi dengan menyesatkan atau membodohi.

Selain itu di dalam pelaksanaan pendidikan politik sebaiknya tidak dilakukan secara indoktrinatif.

Sebab, dengan sosialisasi secara indoktrinatif akan menghasilkan pribadi yang kaku, fanatik, pandangannya sempit, mentalnya kacau.

Sehingga kedepannya nanti perilakunya akan cenderung menentang hati nuraninya sendiri dan realita yang dihadapi, serta akan menentang kehendak dan aspirasi umum.

Pada akhirnya, bahwa sejatinya politik layaknya sebuah pisau.

Jika pisau tersebut digunakan oleh ibu rumah tangga untuk memasak maka pisau akanlah sangat bermanfaat dan akan tersedia hidangan yang lezat untuk keluarga. Namun bila pisau tersebut digunakan oleh pembunuh.

Maka yang terjadi adalah sebuah kesedihan dan kesengsaraan yang terjadi.

Begitu pula dengan politik, ia bisa menjadi sebuah alat untuk mencapai sebuah kebahagiaan atau malah menjadi sebuah alat penghancur yang mendatangkan nestapa dan kesengsaraan. Semoga

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Pitalis Mawardi B, S.Pd, M.Pd, Ph.D (Dosen dan CEO Media Edukasi Borneo, Alumnus S3 UniSZA Malaysia)
Sumber : Edukasi Borneo