Kajian tentang dunia politik memang selalu menawarkan hal menarik untuk dibahas, dianalisis, atau diamati dari berbagai sudut pandang.

Home > Kolom Guru

Urgensi Kompetensi Etika Dialektika di Era Kebebasan Yang Kebablasan

02 Feb 2022, 11:11 WIB
Guru PPKn SMPN 3 Bengkayang, Utenius S.Pd.(Ist)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Semenjak negara kita memasuki masa reformasi 1998 lalu yang ditandai dengan jatuhnya rezim Suharto dari kursi kepresidenan setelah berkuasa selama 38 tahun, kebebasan berpendapat yang merupakan hal yang sangat langka di era Orde Baru.

Akhirnya pelan-pelan dapat memperoleh ruang yang terbuka di hati rakyat Indonesia sebagaimana yang diamanatkan dalam konstitusi yaitu pasal 28 UUD 1945.

Di masa pemerintahan Suharto atau Orde Baru setiap orang, organisasi maupun media massa tidak bisa mengeluarkan pernyataan yang seenaknya.

Karena setiap lapisan masyarakat pada saat itu memahami dengan betul konsekuensi yang begitu hebat yang di dapat dari setiap pernyataan, baik kritikan, sindiran bahkan cacian terutama yang mengkritisi pemerintah pada saat itu.

Masa reformasi membawa angin segar di setiap lini kehidupan di negeri ini.

Setiap orang, organisasi atau media massa memiliki kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau aspirasi baik yang mendukung maupun yang mengkritisi pemerintah.

Bahkan cacian atau maki memaki mungkin hal yang lumrah kita saksikan pada saat sekarang ini.

Bagi negara yang menganut sistem demokrasi dalam menjalankan pemerintahan seperti Indonesia.

Kebebasan dalam menyampaikan pendapat atau aspirasi merupakan sebuah keharusan dan hak yang dilindungi oleh konstitusi dan Konvensi PBB tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Namun pada dasarnya kebebasan memiliki aturan yang jelas baik dalam aturan sosial budaya kita sebagai orang timur maupun dalam hukum positif di Republik ini.

Kebebasan menyampaikan pendapat dalam hukum positif diatur di dalam UU No. 9 Tahun 1998  tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Baca Juga : HUT RI ke 76, Isu Global Kekinian : Tantangan dan Ujian Spirit Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Kebebasan memang merupakan hal universal setiap orang namun kebebasan harus disalurkan dengan cara yang bertanggung jawab tanpa merugikan atau merampas hak-hak dan kebebasan orang lain.

Selepas era reformasi sekarang ini kita memasuki di era globalisasi dan digitalisasi.

Dimana ilmu pengetahuan dan  teknologi informasi serta komunikasi  berkembang dengan begitu sangat pesat, ditandai dengan berkembangnya kecerdasan-kecerdasan buatan (artificial intellegence).

Kegiatan yang serba otomatisasi, arus lalu lintas informasi begitu cepat, perkembangan handphone pintar (android) yang begitu dahsyat setiap detiknya dan berbagai penemuan-penemuan di bidang teknologi yang menakjubkan.

Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu dahsyat, maka kebebasan berkomunikasi, berpendapat atau menyampaikan aspirasi masyarakat bukan hanya terbuka untuk disalurkan melalui berbagai macam media yang tersedia saat in.

Namun menjadi tren kebutuhan masa kini sebagai sebuah gaya baru yang merupakan salah satu bagian aktualisasi manusia.

Di era digitalisasi, saluran-saluran yang diigunakan untuk menyalurkan berbagai pendapat atau aspirasi memiliki berbagai macam bentuk dan ragam dan pilihan.

Sekarang kita masuk ke era media sosial yang kita kenal dengan diksi atau istilah media sosial atau medsos.

Di Era ini, kebebasan berpendapat atau menyampaikan aspirasi bahkan memaki-maki orang lain,  suatu lembaga bahkan pemerintah merupakan hal yang sudah lumrah dan biasa kita jumpai setiap hari. Baik di WAG, Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan lain-lain.

Kita sepertinya cocok menyebutnya dengan jaman kebebasan yang yang tidak terarah.

Masa reformasi yang diperjuangkan dengan susah payah oleh anak bangsa ini menjadi kehilangan makna.

Kita akhirnya terjebak pada Kebebasan yang kebablasan yang kita bangun sendiri dan akhirnya kita kehilangan makna dari sebuah kebebasan itu sendiri.

Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa atau fenomena yang sangat mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang berciri khas mejemuk atau pluralis.

Semua itu terjadi karena sebagian besar masyarakat kita memiliki kompetensi yang rendah dalam etika dialektika, aturan dalam berbicara atau berkata-kata.

Banyak dari kita dan tokoh-tokoh publik kita kurang paham membedakan antara menyampaikan aspirasi dan cacian, antara  mengkritik dan menghina.

Itulah tugas kita bersama untuk menyadari dengan baik pentingnya penguasaan etika dialektika.

Berbicara mengenai dunia permedsosan, kita menyaksikan yang paling hangat dan terbaru atau bahasa medsos “viral atau menjadi trending topik” yaitu Fenomena kasus Edy Mulyadi yang meyebut Kalimantan sebagai tempat jin buang anak.

Pada awalnya konten pembicaraan Edy Mulyadi sebenarnya biasa-biasa saja, yaitu berisi kritikan pedas kepada Pemerintah Pusat yang memindahkan Ibu Kota Negara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kaimatan Timur.

Kritikan seperti itu menjadi sesuatu yang biasa di Negara Demokrasi sebagai sebuah balancing dalam kehidupan bernegara.

Namun ketika kritikan Edy Mulyadi menjadi blunder dan dianggap sebagai statement kontroversial.

Ia sudah mengeluarkan pernyataan yang menyentuh sisi identitas dan kehormatan suatu daerah dengan mengeluarkan kata-kata “Kalimantan tempat jin buang anak.

Kemudian ditambah dengan diksi penduduknya kuntilanak, gendruwo dan monyet menjadikan statemennya merupakan statemen yang paling kontroversial, panas, dihujat oleh sebagian besar masyarakat Kalimantan satu minggu terakhir ini.

Ini menjadi isu yang sangat sering muncul di jagad maya, di berita televisi dan juga diberbagai media cetak regional maupun nasional.

Baca Juga : Manajemen Stress di Tempat Kerja

Apa yang bisa kita petik dari Kasus Edy Mulyadi?

Pertama, pentingnya kita memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap aturan dalam berkomunikasi di media sosial.

Di Era yang serba bebas, sebenarnya kita juga diberi beberapa aturan dan batasan dalam bermedia sosial, baik aturan yang berasal dari sosial budaya, penyedia (medsos) ataupun aturan yang berasal dari pemerintah.

Artinya, kebebasan bukan sebebas-bebasnya namun kebebasan yang bertanggung jawab dan tidak mengganggu hak-hak orang lain.

Kedua, pentingnya kita memiliki kesadaran (sense) untuk berpikir sebelum berbicara.

Dengan berpikir dan mempertimbangkan apa yang akan diucapkan sebelum berbicara, maka kita akan terhindar dari pengucapan kata-kata yang menyakitkan atau menyinggung perasaan orang atau kelompok atau komunitas lain.

Otak kita adalah anugerah dari Tuhan yang merupakan organ yang paling rumit dan canggih serta kehebatannya sangat luar biasa.

Termasuk dalam berkata-kata atau berbicara, kita bisa memaksimalkan kerja otak untuk membantu kita mensaring agar dapat mengeluarkan kata-kata yang positif dan berkualitas.

Itu yang sering dilupakan. Kita sering banyak berbiacara namun sedikit berpikir.

Ketiga, setiap figure atau tokoh publik seperti politikus, artis dan para pemimpin lainnya harus sadar betul bahwa setiap kata dan ucapan yang dikeluarkan dari mulut mereka dapat menimbulkan dampak (impact) yang luar biasa.

Dampaknya dapat memecah belah keberagaman masyarakat dan merusak keharmonisan yang sudah tercipta selama ini.

Oleh karenanya, penting sekali memiliki pengetahuan atau kompetensi yang mumpuni dalam etika dialektika bagi para figure publik untuk menghindari mengeluarkan kata-kata atau pernyataan yang kontradiktif.

Keempat, setiap figure publik harus menyadari bahwa negara kita adalah negara yang penuh keberagaman baik suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Keberagaman tersebut merupakan sebuah potensi, dan keunikan yang merupakan kekayaan bangsa ini yang tidak terdapat di negara lain.

Namun, selain sebagai sebuah keunikan dan potensi, keberagaman dapat menjadi sebuah ancaman atau sumber konflik yang sangat berbahaya dan memecah belah persatuan dan keharmonisan jika tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, pentingnya kita selalu meletakan keharmonisan keberagaman di bawah naungan bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Kita harus banyak belajar dari berbagai konflik sosial yang terjadi pada masa lalu. Sedikit banyak terjadi karena minimnya pengetahuan dalam etika dialektika.

Dari kasus yang diuraikan di atas, dapat ditarik benang merahnya bahwa di era yang serba bebas dalam mengekspresikan aspirasi, kemampuan atau kompetensi etika dialektika merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang.

Etika dialektika dapat dimaknai atau diartikan secara sederhana yaitu aturan dalam berbicara dengan orang lain.

Baik pembicaraan yang diucapkan secara tatap muka atau langsung maupun yang diucapkan secara tatap maya, baik melalui moda online, media massa, media sosial, youtube dan lain-lain.

Di dalam dialektika kita memahami aturan dan batasan-batasan dalam bertutur kata.

Kita bebas berbicara sebagaimana yang diamanatkan dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan di bawahnya.

Namun harus disadari juga bahwa ada aturan-aturan yang harus dipenuhi yaitu kata-kata atau dialog kita tidak boleh menyinggung perasaan orang lain, suku, agama, ras dan golongan yang berpotensi memecah belah persatuan dan keharmonisan di masyarakat.

Pemahaman yang mumpuni terhadap etika dialektika juga memberikan manfaat kepada setiap orang untuk menyadari dangan baik setiap kata-kata yang dikeluarkan dari mulut atau jari-jarinya melalui media sosial.

Setiap kata-kata yang diucapkan dan di ketik atau di konsep harus dipertimbangkan dengan betul konsekuensinya jika harus diucapkan dan dipostingkan di muka umum atau di media sosial.

Sebab tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan dengan baik, maka ucapan atau kata-kata kita merupakan jalan tol yang mulus menuju Hotel Prodeo untuk bermalam di sana.

Kata-kata bijak dari dulu sampai sekarang:  Mulutmu Harimaumu.

Namun di era digitalisasi sekarang ini, ketika sebagian besar orang sudah sangat bergantung dengan smartphone.

Kata-kata bijaknya sedikit bergeser diksinya namun maknaya tetap sama, yaitu: “Jari-jarimu, Harimaumu.

Ya,  itu diksi yang tepat sekarang ini. “Jari-jarimu Harimaumu” itu  bisa mencakar dirimu setiap saat, saat etika dialektika tidak dikuasai.

Dunia permedsosan, dunia posting-postingan alias dunia maya memang sangat asik. Tapi ingat hati-hati gunakan jarimu yang manis itu. Hehe jangan lupa bahagia.

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Utenius S Pd (Guru PPKn SMPN 3 Bengkayang)
Sumber : Edukasi Borneo