Materi PKn SMA Kelas 10 Semester Ganjil Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Home > Edukasi

Urgensi Peningkatan Kualitas Literasi Digital Bagi Gen-Z

31 Aug 2022, 09:57 WIB
Generasi Z.(ebc/freepik)

EDUKASIBORNEO, PONTIANAK - Saat ini, kualitas literasi digital di kalangan remaja masih dikatakan cukup rendah. Hal tersebut terlihat dari cara remaja mencari informasi.

Anak – anak remaja tidak menyadari kredibilitas sumber dari konten-konten yang mereka ambil, yang penting isu-isu yang mereka butuhkan bisa di dapatkan.

Hal itu menunjukkan kurangnya daya kritis di kalangan anak muda.

Salah satu penyebab meningkatnya informasi hoaks, cyberbullying, pencemaran nama baik, dan hatespeech sebab rendahnya literasi digital.

Istilah literasi digital semakin santer terdengar belakangan ini, terutama dalam berita-berita dari situs website pemerintah bahkan pada 2021 kemarin pemerintah melalui Kominfo sangat massif mengadakan webinar bertema literasi digital.

Melansir pernyataan dari Douglas A.J. Belshaw, ada delapan faktor kunci dalam meningkatkan literasi digital antara lain memahami budaya dalam dunia digital, kognitif atau keterampilan berpikir dalam mengevaluasi konten, unsur konstruktif atau inovatif, komunikasi, unsur kemandirian yang bertanggungjawab, kreativitas, faktor penting dalam menangani konten, serta tanggung jawab sosial.

Jika kita memiliki kedelapan faktor tersebut, wawasan digital kita sudah dapat dikatakan tinggi, di mana kita tidak akan mudah dipengaruhi melalui hoax, ekspresi jahat, cyberbullying, dan bahkan penipuan.

Generasi Z adalah generasi yang lahir dan bertumbuh  saat ini dalam era digital yang berkembang pesat.

Oleh karena itu, Gen-Z   sangat familiar dengan teknologi digital seperti teknologi informasi, teknologi komunikasi, dan internet.

Populasi Gen-Z yaitu mereka yang berusia 10-24 tahun. Dengan kata lain, Generasi Z adalah   remaja.

Baca Juga : Pentingnya Publikasi Ilmiah untuk Kenaikan Pangkat dan Pengembangan Profesionalisme Guru


Menurut hasil survei dari APJII 2019-2020, remaja-remaja inilah yang memiliki penetrasi internet tertinggi di Indonesia.

Namun apakah para remaja dan Gen-Z ini memiliki kecakapan literasi digital yang tinggi? hasil penelitian telah menunjukkan bahwa Generasi Z dikategorikan lemah dalam kemampuan literasi digital.

Tanggung jawab untuk peningkatan literasi digital ini tidak hanya terletak pada Gen-Z, tetapi juga tanggung jawab pemerintah, ilmuan, aktivis, dan pemangku kepentingan di masyarakat.

Agar remaja mendapatkan tingkat literasi digital yang ideal, diperlukan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan.

Ukuran itu sudah ada, yakni melalui  Indeks  Literasi Digital  yang diluncurkan UNESCO pada 2018.

Dilansir dari UNESCO, berikut keterampilan yang dibutuhkan untuk mengukur indeks literasi digital:

1. Literasi informasi dan data.

Masyarakat umum harus memiliki keterampilan yang meliputi kemampuan untuk melihat, mencari, dan menyaring data, informasi, dan konten digital, mengevakuasi informasi, data, dan konten digital, serta mengontrol informasi, data, dan konten digital.

2. Komunikasi dan kerja sama.

Dalam hal ini, masyarakat harus memiliki skill dalam berinteraksi menggunakan teknologi digital, berbagi melalui, partisipasi sebagai warga negara melalui teknologi digital, kolaborasi dengan menggunakan teknologi digital, mengutamakan etika dalam teknologi digital, dan mengontrol identitas digital.

Baca Juga : RUU Sisdiknas Kontroversial dan Dipertanyakan Insan Guru

3. Pembuatan konten digital.

Kita harus memiliki kecakapan antara lain pengembangan konten digital, integrasi dan elaborasi ulang konten digital, perhatian atas lisensi dan hak cipta, dan programing.

4. Keamanan.

Kita   harus   memperhatikan   terkait   dengan perlindungan perangkat, perlindungan data pribadi dan privasi, perlindungan kesehatan dan kesejahteraan, dan perlindungan lingkungan.

5. Pemecahan masalah.

Pada bagian ini, kita harus mampu memecahkan masalah- masalah seperti masalah teknis, mengidentifikasi kebutuhan dan respon teknologi, pemanfaatan teknologi digital secara kreatif, dan keterampilan digital dalam mengidentifikasi kesenjangan kompetensi digital.

 

Pada akhirnya, indikator – indikator di atas harus sama-sama kita perhatikan, termasuk semua kalangan yang berselancar di dunia digital.

Selain itu, kita juga perlu memiliki keterampilan seperti  memahami masalah teknis untuk meningkatkan keterampilan digital, mengembangkan kreativitas baik dalam berpikir maupun bertindak agar mampu menciptakan inovasi-inovasi baru.

Dan perlu memiliki soft skill seperti komunikasi, kolaborasi, pengembangan empati, keterampilan berpikir kritis, dan mengedepankan etika saat berinteraksi melalui media digital.

Kita tahu bahwa Gen-Z memiliki populasi dan akses internet terbesar di Indonesia saat ini bahkan secara global.

Potensi anak muda untuk menciptakan inovasi baru juga tentunya sangat besar.

Namun, hal ini perlu didukung dengan keterampilan dan wawasan digital yang baik melalui penguatan literasi digital. Semoga. 

Tags :
Share Berita : twitter edukasi borneo facebook edukasi borneo whatsapp edukasi borneo
Penulis : Pitalis Mawardi B, S.Pd, M.Pd, Ph.D (Dosen dan CEO Media Edukasi Borneo
Sumber : Edukasi Borneo